Seharusnya Laras lega.Namun, kenapa saat Dharma menjatuhkan titahnya justru membuat hatinya terasa seperti baru saja disayat-sayat dengan pisau berkarat?Rasanya menyakitkan sekali. Bahkan di saat pernikahan mereka sudah mencapai di garis finish, Dharma tetap konsisten untuk menjadi pria berengsek. Tidak ada kata maaf atau rasa sesal sedikitpun karena telah menyia-nyiakan dirinya selama tujuh tahun terakhir. “Aku akan pergi, tapi nggak sekarang,” ucap Laras yang sontak membuat Dharma kembali menatapnya dengan sorot tak percaya. “Mas Dharma masih sakit. Kanala nggak ada yang ngurus. Jadi akuㅡ”“Anak saya biar jadi urusan saya,” sergah Dharma.“Mas, banyak hal yang harus diㅡ”“Katanya kamu lelah berpura-pura, kan? Buat apa kamu masih pura-pura peduli sama anak saya?” sela Dharma lagi.Pria itu menatap Laras dengan ekspresi sekeras batu. “Saya sudah mengabulkan keinginan kamu. Sekarang kamu bisa bebas seperti yang kamu harapkan. Jadi buat apa lagi kamu buang-buang waktu untuk mengurusi
Baca selengkapnya