LOGINTanah kuburan istrinya masih basah, tetapi Dharma sudah harus menikah lagi dengan Laras. Gadis belia yang dipilihkan ibunya untuk menjadi ibu pengganti bayinya. Dalam keterpaksaan itu, Dharma dan Laras mengarungi bahtera rumah tangga tanpa pernah benar-benar menjadi suami-istri. Tujuh tahun lamanya hingga Laras menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lelah. Ia merasa cukup dan ingin berhenti menjadi istri pengganti yang tak pernah diinginkan.
View MoreSeharusnya Laras lega.Namun, kenapa saat Dharma menjatuhkan titahnya justru membuat hatinya terasa seperti baru saja disayat-sayat dengan pisau berkarat?Rasanya menyakitkan sekali. Bahkan di saat pernikahan mereka sudah mencapai di garis finish, Dharma tetap konsisten untuk menjadi pria berengsek. Tidak ada kata maaf atau rasa sesal sedikitpun karena telah menyia-nyiakan dirinya selama tujuh tahun terakhir. “Aku akan pergi, tapi nggak sekarang,” ucap Laras yang sontak membuat Dharma kembali menatapnya dengan sorot tak percaya. “Mas Dharma masih sakit. Kanala nggak ada yang ngurus. Jadi akuㅡ”“Anak saya biar jadi urusan saya,” sergah Dharma.“Mas, banyak hal yang harus diㅡ”“Katanya kamu lelah berpura-pura, kan? Buat apa kamu masih pura-pura peduli sama anak saya?” sela Dharma lagi.Pria itu menatap Laras dengan ekspresi sekeras batu. “Saya sudah mengabulkan keinginan kamu. Sekarang kamu bisa bebas seperti yang kamu harapkan. Jadi buat apa lagi kamu buang-buang waktu untuk mengurusi
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Tidak ada respons langsung dari Dharma yang justru membuat jantung Laras semakin berdebar kencang. Setelah beberapa detik yang terus berlalu, Laras bisa melihat dengan jelas perubahan ekspresi di wajah Dharma. Kekagetan di wajah suaminya itu perlahan luntur digantikan oleh wajah datarnya kembali. “Kamu lagi emosi,” kata Dharma nyaris tanpa emosi. “Jangan bicara aneh-aneh atau kamu yang akan menyesal sendiri nanti.” Tanpa menunggu respons dari sang istri, Dharma berbalik memunggungi. Punggung lebar pria itu sedikit membungkuk saat berjalan tertatih menuju brankar dan dengan agak susah payah naik ke sana. Dharma mengembuskan napas panjang saat akhirnya bisa duduk dan bersandar dengan nyaman. “Aku sebenarnya nggak mau bahas ini sekarang karena Mas Dharma masih sakit,” ujar Laras seraya menyembunyikan tangannya yang gemetar di belakang punggung. “Tapi semuanya udah terlanjur kayak gini,” kata Laras
“Jadi, benar kamu… selingkuh?”Rahma menatap Laras dengan kedua mata membelalak.Laras diam saja dan malah membuang muka. Seolah membenarkan.“Kamu… kamu benar-benar nggak tahu diri ya, Laras,” ucap Rahma lagi. Suaranya sarat akan ketidakpercayaan.“Tujuh tahun yang lalu, kalau bukan karena uluran tangan dari suami saya, kamu pasti sudah dijual ke rentenir karena utang-utang yang menjerat ayahmu, Larasati.”Lantai di bawah kaki Laras seolah terbelah menjadi dua. Membuat Laras limbung karena tiba-tiba Rahma mengungkit aib yang seharusnya sudah terkubur di masa lalu.“Kamu nggak akan berdiri di tengah keluarga saya dengan segala kemewahan yang kamu dapatkan dengan cuma-cuma seperti sekarang!”Rahma melangkah mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak.“Kalau kamu punya rasa terima kasih sedikit saja, seharusnya kamu cukup duduk diam di rumah menjadi istri yang patuh dan nurut sama suami, Ras. Bukan malah main gila di luar sana sementara suamimu sibuk kerja buat memenuhi isi rekening
Tamparan ketiga gagal bersarang di pipi Laras karena tangan Rahma itu sudah lebih dulu ditahan oleh Surya.“Tenangkan diri kamu, Rahmawati!” tegur ayah mertua Laras itu seraya menarik Rahma menjauh.“Anakku diselingkuhi sama wanita gila ini, Abi! Gimana aku bisa tenang?!” pekik Rahma bengis. Kedua mata wanita itu melotot hingga nyaris keluar dari sarangnya. “Semuanya bisa dibicarakan dulu baik-baik, Umi. Main tangan nggak akan menyelesaikan masalah! Kita juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Surya masih terus memegangi tubuh Rahma yang meronta-ronta minta dilepas. “Lepas, Abi! Umi nggak akan biarkan jalang ituㅡ”“Umi, udah cukup! Ada Kanala di sini!”Suara keras Dharma seketika menghentikan amukan Rahma. Tidak ada yang menyadari kapan Dharma turun dari atas brankar.Pria itu kini berpegangan pada tiang infus dan berjalan tertatih mendekati Kanala yang tampak sangat syok melihat neneknya tiba-tiba mengamuk. Tubuh gadis itu mematung kaku di tengah ruangan. Tatapannya sedikit
Pertemuan dengan Tante Yuni di rumah sakit tadi membuat Laras cukup terguncang. Kalimat terakhir yang diucapkan ibu dari mantan kekasihnya itu sampai menancap laksana pisau berkarat di dalam dada hingga rasanya sakit sekali.Namun, Laras tak punya waktu banyak untuk meratapinya karena harus segera
Tiga hari kemudian, setelah mengantarkan anaknya ke sekolah, Laras pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Dan seperti yang sudah diperkirakan, hasilnya sama seperti pemeriksaan sebelumnya. Tidak ada masalah apa pun pada kesehatan reproduksi wanita itu.Laras langsung memfoto hasil pemeriksaa
“Umi sudah pulang?” tanya Dharma saat masuk ke dalam rumah dan disambut oleh suasana yang sepi.“Udah, Mas. Tadi sore dijemput Mbak Mei,” jawab Laras seraya mengambil alih jas dan tas kerja dari tangan Dhama.“Kanala di mana?”“Ada di kamar.” Laras mengikuti langkah Dharma. Berjarak satu lengan di
“Saya Laras, bundanya Kanala,” sebut Laras memperkenalkan diri sambil berjabat tangan dengan wali kelas Kanala yang menyambut kedatangan para murid baru di gerbang sekolah.“Salam kenal, Bu. Anak-anak biasanya memanggil saya Miss Putri,” ucap wanita berhijab yang terlihat beberapa tahun lebih muda






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews