Iful yang cepat tanggap langsung paham. Kontan, Boma melempar botol mineral itu ke bak sampah di kamar, sambil menyumpah-nyumpah tentunya.“Dasar... bekas wanita mana lagi yang kamu ajak kencan tadi malam?” sungut Boma, sudah kehabisan akal.“Kan sudah aku bilang, buang! Eh, kamunya yang ngeyel,” sahut Lintang dengan wajah tanpa dosa.Boma makin kehabisan akal. Sementara itu, Iful dan Lintang justru terbahak melihat kelakuan sahabat mereka.“Yang jelas, dia bidadari dan lebih cantik dari Naura!”“Alamakkkk... ente dapat di mana, coi?” Boma kontan antusias.“Dia siluman ular. Kalau kamu mau, aku panggil dia dan minta bawakan dua siluman ular lainnya yang nggak kalah cakep. Mau nggak?” Lintang menatap kedua sahabat bangornya itu dengan santai.“Gilaaa... gue disuruh ente kencani ular? Nggak mau, ah!” sungut Boma, kontan mundur.Namun, Iful berbeda. Si profesor malah tampak serius.“Kalau memang diberi kesempatan, gue sih dengan senang hati mau,” katanya polos.Boma langsung menoleh tajam
Leer más