LOGINBhaskoro seorang pria putus asa yang terlibat perjanjian maut dengan seorang siluman haus cinta, siluman ini berikan dia kejayaan dan kekuatan juga kekayaan, tapi perjanjian maut ini membuatnya harus mengumpulkan kekuatan bercinta, agar tak menjadi tumbal dari siluman jahat dan kejam itu. Caranya, Bhaskoro harus mencari wanita-wanita cantik buat di ajak bercinta tanpa harus di paksa, atau nyawanya tidak tertolong lagi. Waktu terus berjalan, perjanjian maut itu makin mendekati limitnya. Mampukah Bhaskoro memenuhi limit itu...?
View More“Tolonggg….!”
Sebuah jeritan sudah cukup membangkitkan jiwa kesatria Bhaskoro, sejenak dia hentikan aktivitas di rumah miliknya ini, tak peduli gerimis mulai deras dan agaknya sebentar lagi akan hujan.
Bhaskoro bergegas keluar rumah sederhana miliknya dan dia melihat seorang penjual jamu keliling terjatuh. Bahkan salah seorang terlihat dengan nakal pura-pura menolong, tapi tangannya gerayangan ke tubuh penjual jamu malang itu.
“Lepaskan tukang jamu itu,” dengus Bhaskoro sambil menatap tajam dua orang yang itu, tubuh kekarnya masih berkeringat setelah tadi keluarkan barang-barang dari mobil jadulnya, sesaat dia melirik dan pria kekar ini menelan ludah juga.
Baju kebaya si tukang jamu ini begitu ketat, hingga dua buah gunung kembarnya hampir setengahnya keluar.
Roknya bahkan sobek di bagian kaki hingga ketarik ke paha, ini membuat orang yang memegang tubuh si tukang jamu ini makin ngiler saja, kayak serigala ketemu mangsa.
“Heeeh badan besar, ini bukan urusanmu, suaminya berhutang ke bos kami dan istrinya sebagai jaminannya. Dia harusnya bayar hari ini, tapi tidak mau,” bentak rekannya, dan ikutan leleran melihat kelakuan temannya ke tukang jamu ini.
Bhaskoro mendekati orang yang hanya sebahunya, lalu sekali tarik krah bajunya orang ini sontak terangkat, pisau yang selalu dia bawa di pinggangnya entah bagaimana caranya sudah berpindah tangan.
Rekannya yang tadi gerayangi tubuh si tukang jamu sontak kaget dan lepaskan tangan ganjennya.
“Sebutkan berapa hutangnya, atau aku patahkan leher kamu,” bentak Bhaskoro dengan tatapan dingin.
“H-hutangnya 2,5 juta Om…argghh lepaskan Om!” pria yang sudah tak berdaya ini kontan minta ampun, rekannya yang ingin marah, kontan mundur, saat melihat belati temannya sudah ada di tangan Bhaskoro.
Gedebuuuk, aduhhhh….suara bak pohon pisang jatuh terdengar keras, Bhaskoro lempar tubuh orang ini di ke tanah yang mulai becek.
Bhaskoro ambil dompetnya dan uang 2,5 juta dia cabut dan lemparkan ke wajah orang ini. “Cepat kalian pergi, atau aku berubah pikiran,” Bhaskoro lalu cabut belati ini dari sarungnya, kemudian bak atraksi debus, belati ini sengaja ia gorok-gorok ke lehernya, tapi leher kokoh dan putih itu tidak apa-apa.
Beberapa warga yang melihat aksi Bhaskoro tapi nggak berani menolong si tukang jamu, ikutan mangap, tidak menyangka pria ini kebal senjata tajam.
Si tukang jamu malang ini melongo, tapi dua orang ini kontan kabur lintang pukang setelah punguti duit tadi.
Bhaskoro angkat tangannya dan tarik tangan si tukang jamu itu bangkit, bahkan dengan satu tangan kokohnya yang kiri, wadah jamu gendong yang lumayan berat ini udah saja Bahskoro angkat.
“Kamu tak apa-apa, siapa namamu,” tanya Bhaskoro tetap dengan wajah dingin, brewoknya yang agak lebat, bikin si tukang jamu ini sesaat tercekat...takut.
Tapi rasa itu di buangnya jauh-jauh, karena si pria brewokan ini baru saja menolong dan kini dia bisa berdiri normal lagi, bahkan tatapan pria ini hanya sesaat nemplok di dadanya, setelah itu pria tinggi kokoh ini menatap wajahnya lagi.
“S-surti t-tuan…!” katanya sambil menatap dada bidang berbulu tipis si penolongnya, saat dia menunduk ke bawah, tepat di bawah puser laki-laki ini, Surti kontan melengus kaget, tapi dadanya seketika bergemuruh.
Bagaimana tidak bergemuruh, hujan yang mulai deras, membuat celana kain si penolongnya ini basah, tapi sesuatu yang bikin dadanya bergemuruh tercetak jelas.
“Aku Bhaskoro, kamu aman sekarang, dua cecunguk itu tak akan berani ganggu kamu lagi. Bilangin ke suami kamu, jangan lagi berhutang ke lintah darat!”
Lalu Bhaskoro lewat begitu saja dan kembali ke rumahnya, meninggalkan Surti yang melongo.
Surti, yang terbiasa dihina suaminya dan direndahkan warga yang hanya jadikan dia obyek aduhai ini menatap punggung kokoh Bhaskoro yang basah, dengan napas memburu.
Rasa aman yang tiba-tiba hadir memantik getar gairah liar di perut bawahnya, meski Bhaskoro langsung berbalik pergi tanpa meminta balasan.
**
Baru saja selesai mandi dan kini sudah berganti pakaian bersih. Sembari menikmati secangkir kopi pahit kesukaannya, Bhaskoro dikejutkan oleh suara ketukan yang tiba-tiba terdengar di pintu depan rumahnya.Hmm... siapa yang bertamu malam-malam begini? Perasaan aku belum ada interaksi mendalam dengan siapa pun di desa ini, selain dengan Surti, Diana, dan Kades Ratna, apakah pa RT lagi yang datang? batin Bhaskoro bertanya-tanya sembari melangkah mantap menuju pintu utama.Begitu daun pintu kayu itu terbuka, mata Bhaskoro melebar sesaat. “Kamu... Surti?”Bhaskoro kaget. Sosok yang berdiri di ambang pintu ternyata adalah si penjual jamu keliling bertubuh aduhai dan sedikit gemoy tersebut dan memiliki desahan yang bikin dirinya bisa mabuk benaran.“Maaf, Bang... b-boleh aku masuk?” tanya Surti, nada suaranya sempat meragu di bawah temaram lampu teras.Tanpa banyak bicara, Bhaskoro menggeser tubuh kokohnya ke samping, memberikan celah bagi Surti untuk melangkah masuk ke dalam rumah sederhanan
“Halaaaaah! Perempuan sialan, tidak usah banyak bacot! Aku ke sini karena butuh uang tunai!” bentak pria itu kasar, lalu melangkah arogan mendekati Kades Ratna di teras ini.Pria itu adalah Samud, mantan suami Ratna. Bau menyengat alkohol murahan seketika menguar dari mulutnya yang komat-kamit itu. Matanya yang merah mendadak menangkap kilau kalung emas yang melingkar di leher mulus Ratna.Tanpa peringatan, tangan kasarnya bergerak cepat ingin merenggut perhiasan tersebut, Kades Ratna bahkan hanya terpaku diam dengan aksi nekat Samud ini.Namun, jemari Samud tertahan di udara.Kerah baju bagian belakangnya mendadak dicengkeram oleh sebuah tangan kokoh yang muncul entah dari mana. Ternyata Bhaskoro sudah turun dari atap tanpa suara, berdiri kokoh di belakang sang mantan suami, tepat saat Samud bertindak di luar batas.“Eh, bangsat! Siapa yang berani mati menarik bajuku?!” bentak Samud murka. Dia berbalik dengan beringas! Namun nyalinya langsung rontok saat bertatapan dengan sepasang mat
Bhaskoro sengaja bertamu ke rumah Kepala Desa Sukarami hari ini. Dia menempuh perjalanan jauh, meninggalkan gemerlapnya Jakarta demi melacak keberadaan seseorang yang identitasnya sengaja dia rahasiakan.Bayangan ular siluman wanita cantik yang bikin dia makin stress terus menghantuinya. Tapi Bhaskoro tetap menebalkan hati dan tidak mau larut terlalu dalam soal itu."Masih enam purnama, masih banyak waktu, aku tak mau kalah oleh siluman haus darah itu....?" dengus BhaskoroSaat dipersilakan menunggu di teras rumah joglo yang terbilang megah untuk ukuran desa pelosok itu, Bhaskoro sedikit terkejut.Ratna, sang Kades cantik, melangkah keluar dengan sweater rajut tebal melingkar di leher. Wajahnya pucat, jalannya sedikit limbung menahan demam.“Eh, Abang. Maaf, Bang, badanku sedang kurang fit,” ujar Ratna. Sebuah senyum manis dipaksakan terbit di bibirnya, menatap perawakan Bhaskoro yang jantan dan rupawan. “Ada keperluan apa, Bang?” Kades Ratna lanjutkan ucapannya.“Begini, Ibu Ratna. Sa
“Sial! Aku masih belum mau mati!” rutuk Bhaskoro sambil turun dari kasurnya.Namun perlahan, kesadaran Bhaskoro mulai menghilang. Dan, sebelum gelap sepenuhnya, wajah si siluman ular dengan mata kuningnya, serta lidahnya yang meliuk-liuk itu, menatapnya dengan senyum yang menyeramkan.Wajah cantik itu sudah berubah menjadi ular yang menyeramkan, taring-taringnya seakan ingin caplok kepala Bhaskoro yang mendadak pusing.Lalu...bruuk!**“Tidak! Aku tidak boleh mati lebih cepat!”Bhaskoro bangun dengan tubuh yang bermandi keringat. Matanya berusaha fokus, lalu tangannya ia gerak-gerakkan.Ia masih hidup! Tapi dia lagi-lagi kalah oleh wanita siluman ini. “Jadi semalam itu, apakah semuanya cuma mimpi...?!”Bhaskoro berusaha untuk mengingat kejadian semalam. Ia berusaha menuntaskan perjanjian dengan si siluman ular.Namun, ia justru kalah telak, bahkan saripati tubuhnya dihisap semua oleh siluman itu, tenaganya melemah, seolah tak makan berhari - hari...!“Bhaskoro sayang, aku masih mau ber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews