LOGINDemi meloloskan diri dari taruhan nyawa atas perjanjian gaib yang memberinya kekayaan, Bhaskoro harus memenangkan keterikatan khusus dari para wanita secara sukarela sebelum tenggat waktunya habis.
View More“Tolonggg….!”
Sebuah jeritan sudah cukup membangkitkan jiwa kesatria Bhaskoro, sejenak dia hentikan aktivitas di rumah miliknya ini, tak peduli gerimis mulai deras dan agaknya sebentar lagi akan hujan.
Bhaskoro bergegas keluar rumah sederhana miliknya dan dia melihat seorang penjual jamu keliling terjatuh. Bahkan salah seorang terlihat dengan nakal pura-pura menolong, tapi tangannya gerayangan ke tubuh penjual jamu malang itu.
“Lepaskan tukang jamu itu,” dengus Bhaskoro sambil menatap tajam dua orang yang itu, tubuh kekarnya masih berkeringat setelah tadi keluarkan barang-barang dari mobil jadulnya, sesaat dia melirik dan pria kekar ini menelan ludah juga.
Baju kebaya si tukang jamu ini begitu ketat, hingga dua buah gunung kembarnya hampir setengahnya keluar.
Roknya bahkan sobek di bagian kaki hingga ketarik ke paha, ini membuat orang yang memegang tubuh si tukang jamu ini makin ngiler saja, kayak serigala ketemu mangsa.
“Heeeh badan besar, ini bukan urusanmu, suaminya berhutang ke bos kami dan istrinya sebagai jaminannya. Dia harusnya bayar hari ini, tapi tidak mau,” bentak rekannya, dan ikutan leleran melihat kelakuan temannya ke tukang jamu ini.
Bhaskoro mendekati orang yang hanya sebahunya, lalu sekali tarik krah bajunya orang ini sontak terangkat, pisau yang selalu dia bawa di pinggangnya entah bagaimana caranya sudah berpindah tangan.
Rekannya yang tadi gerayangi tubuh si tukang jamu sontak kaget dan lepaskan tangan ganjennya.
“Sebutkan berapa hutangnya, atau aku patahkan leher kamu,” bentak Bhaskoro dengan tatapan dingin.
“H-hutangnya 2,5 juta Om…argghh lepaskan Om!” pria yang sudah tak berdaya ini kontan minta ampun, rekannya yang ingin marah, kontan mundur, saat melihat belati temannya sudah ada di tangan Bhaskoro.
Gedebuuuk, aduhhhh….suara bak pohon pisang jatuh terdengar keras, Bhaskoro lempar tubuh orang ini di ke tanah yang mulai becek.
Bhaskoro ambil dompetnya dan uang 2,5 juta dia cabut dan lemparkan ke wajah orang ini. “Cepat kalian pergi, atau aku berubah pikiran,” Bhaskoro lalu cabut belati ini dari sarungnya, kemudian bak atraksi debus, belati ini sengaja ia gorok-gorok ke lehernya, tapi leher kokoh dan putih itu tidak apa-apa.
Beberapa warga yang melihat aksi Bhaskoro tapi nggak berani menolong si tukang jamu, ikutan mangap, tidak menyangka pria ini kebal senjata tajam.
Si tukang jamu malang ini melongo, tapi dua orang ini kontan kabur lintang pukang setelah punguti duit tadi.
Bhaskoro angkat tangannya dan tarik tangan si tukang jamu itu bangkit, bahkan dengan satu tangan kokohnya yang kiri, wadah jamu gendong yang lumayan berat ini udah saja Bahskoro angkat.
“Kamu tak apa-apa, siapa namamu,” tanya Bhaskoro tetap dengan wajah dingin, brewoknya yang agak lebat, bikin si tukang jamu ini sesaat tercekat...takut.
Tapi rasa itu di buangnya jauh-jauh, karena si pria brewokan ini baru saja menolong dan kini dia bisa berdiri normal lagi, bahkan tatapan pria ini hanya sesaat nemplok di dadanya, setelah itu pria tinggi kokoh ini menatap wajahnya lagi.
“S-surti t-tuan…!” katanya sambil menatap dada bidang berbulu tipis si penolongnya, saat dia menunduk ke bawah, tepat di bawah puser laki-laki ini, Surti kontan melengus kaget, tapi dadanya seketika bergemuruh.
Bagaimana tidak bergemuruh, hujan yang mulai deras, membuat celana kain si penolongnya ini basah, tapi sesuatu yang bikin dadanya bergemuruh tercetak jelas.
“Aku Bhaskoro, kamu aman sekarang, dua cecunguk itu tak akan berani ganggu kamu lagi. Bilangin ke suami kamu, jangan lagi berhutang ke lintah darat!”
Lalu Bhaskoro lewat begitu saja dan kembali ke rumahnya, meninggalkan Surti yang melongo.
Surti, yang terbiasa dihina suaminya dan direndahkan warga yang hanya jadikan dia obyek aduhai ini menatap punggung kokoh Bhaskoro yang basah, dengan napas memburu.
Rasa aman yang tiba-tiba hadir memantik getar gairah liar di perut bawahnya, meski Bhaskoro langsung berbalik pergi tanpa meminta balasan.
**
Sofia memeluk leher Lintang, kukunya mencakar punggung suaminya. “Lebih ganas… sayang… seperti di istana dulu… ahh… hancurkan aku…”“Sialan, ini bukan Sofia, ini Maharatu…dasarrrr!” batin Lintang menahan tawa.Lintang lalu menggeram. Ia membalik tubuh Sofia hingga tengkurap, menarik pinggulnya ke atas, lalu menumbuk dari belakang dengan tempo yang semakin liar.Tangan kanannya meraih rambut Sofia, menariknya ke belakang hingga leher ramping itu terekspos.Ia menggigit tengkuk istrinya sambil terus menghentak tanpa ampun.Sofia hanya bisa mendesah dan mengerang, tubuhnya gemetar hebat. Cairan membasahi paha mereka berdua.Setiap hentakan Lintang membuatnya semakin dekat dengan puncak.“Aku… aku mau keluar…” desah Sofia putus-putus.“Keluar bersamaku,” perintah Lintang, tempo hentakannya semakin brutal.Beberapa detik kemudian, Sofia menjerit panjang. Tubuhnya kejang, fefeknya berdenyut hebat mengapit kejantanannya.Lintang ikut meledak di dalamnya, memompa spermanya dalam-dalam sambil te
Tubuhnya menegang, dinding dalamnya berdenyut kuat mengapit Lintang, dan ia memejamkan mata sambil mendesah panjang.Sensasi itu menarik Lintang ikut menyusul. Ia menanam dirinya sedalam mungkin dan melepaskan semuanya di dalam, dengan erangan rendah yang serak.Mereka terdiam lama setelahnya. Masih tersambung. Masih saling memeluk. Lintang mengecup peluh di kening Sofia, lalu tersenyum kecil.“Enak banget sayaaang….”Sofia hanya bisa tersenyum lelah dan bahagia, sambil mengusap punggung suami. “Sama, aku jugaaa… suamiku.”Di luar, angin malam Desa Sukarami berhembus pelan, seolah ikut menjaga keintiman mereka yang baru saja utuh kembali.Baru saja keduanya akan terlelap, tiba-tiba suasana kamar berubah.Seekor ular sebesar lengan orang dewasa muncul di tengah lantai kayu.Sisiknya mengkilap di bawah cahaya lampu tidur, dan matanya menyala kuning kehijauan.Sofia langsung melonjak, merebut baju tidurnya yang tergeletak di kursi, lalu buru-buru memakainya sambil mundur beberapa langkah.
Setelah meletakkan bayi Banjar dengan hati-hati di tengah kasur yang sudah diberi bantal pengaman, Lintang berbalik menghadap Sofia.Tanpa banyak kata, ia menarik tubuh istri barunya ke dalam pelukan erat. Tangannya merayap pelan di punggung Sofia, menekan lembut seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar ada di pelukannya.Lalu bibirnya turun, melumat bibir Sofia dengan lambat, dalam, dan penuh rindu. “Kangen, sayang…” bisik Lintang di sela ciuman, suaranya serak dan hangat.Sofia menggeliat pelan dalam pelukannya.Tubuhnya yang masih sensitif setelah melahirkan langsung bereaksi. Ia membalas ciuman itu dengan sama laparnya, tangan kecilnya naik memeluk leher suami.“Aku juga…” desahnya pelan di antara bibir yang saling bertemu.“Sudah lama banget… aku nggak merasakan lumatan kamu di sini.”Tangan Sofia mengambil tangan Lintang, lalu membawanya turun pelan-pelan. Melewati perut yang masih agak mulus, lalu lebih bawah lagi, hingga jari-jari Lintang menyentuh area yang sudah sedikit
Begitu tiba di sebuah rumah yang lumayan bagus di kawasan Bandung, Teh Diana—atau yang biasa dipanggil Tante Diana, ibu Sofia—langsung terkejut.Keterkejutannya semakin menjadi saat mengetahui bahwa pemuda di depannya adalah anak dari Bhaskoro Sanjaya.Dalam hati, wanita paruh baya itu bergumam, “Sejak awal aku sudah curiga. Kenapa Sofia memberi nama Sanjaya di ujung nama bayinya… Kini rasa penasaranku terjawab sudah.”Diana dan Bhaskoro pernah terlibat skandal manis di masa lalu. Kenangan itu sempat melintas di benaknya, membuat dada terasa sesak sesaat.Ia menatap Lintang serius. “Jadi… kamu mau menikahi Sofia, Nak Lintang?”Lintang mengangguk tegas tanpa ragu.“Iya, Tante. Lagipula aku pernah bersumpah akan menikahinya. Ditambah lagi, sekarang kami sudah memiliki anak.”Diana terdiam sejenak, menimbang, lalu menghela napas panjang.“Hmm… baiklah. Tante setuju. Hari ini juga kalian menikah secara siri.”Lintang tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Ia langsung mengangguk setuju.Tan
Surti tersentak panik setengah mati. Dia buru-buru menarik kembennya yang nyaris lepas. "Mati aku, Bang... Pak RT!" bisik Surti gemetar ketakutan. Tanpa menunggu jawaban Bhaskoro, wanita aduhai itu lari terbirit-birit kabur lewat pintu belakang.Bhaskoro menghela napas kasar. Kepalanya pening dan se
Tanpa rasa keder sedikitpun Bhaskoro keluar dari rumahnya, dan dia melihat seorang pria ngamuk di rumah tetangganya yang berjarak 30 meteran dari rumahnya sendiri.Gigi Bhaskoro seketika gemeletuk menahan marah. Apalagi saat melihat si pemilik rumah tentu saja ketakutan. “Katakan di mana Surti, tadi
“Sial, kalau saja aku tidak mengambil keputusan bodoh itu di masa lalu, kini aku pasti bisa hidup tenang!” keluh Bhaskoro, mirip rintihan, ingat kebodohannya dahulu, tapi inilah syarat berat yang sudah ia setujui dan tak bisa di tarik lagi.Dia tak bisa batalkan perjanjian maut ini sepihak, apa yang
“Tolonggg….!”Sebuah jeritan sudah cukup membangkitkan jiwa kesatria Bhaskoro, sejenak dia hentikan aktivitas di rumah miliknya ini, tak peduli gerimis mulai deras dan agaknya sebentar lagi akan hujan.Bhaskoro bergegas keluar rumah sederhana miliknya dan dia melihat seorang penjual jamu keliling te






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews