“Sayang, perginya bakal berapa lama kali ini?”Aku merebahkan diri di ranjang, menghela napas perlahan. Begitu sudah agak lega, aku bangun untuk mulai merapikan barang-barang suamiku ke dalam koper.Suamiku adalah seorang sopir truk besar. Dia menempuh perjalanan jarak jauh siang dan malam, waktunya dihabiskan di atas kendaraan jauh lebih banyak daripada di rumah.Setiap kali berangkat, paling sebentar satu minggu, paling lama bisa sampai setengah bulan tak kelihatan batang hidungnya.Waktu baru menikah dulu, aku merasa pekerjaan ini sangat bagus. Selain penghasilannya lumayan, dia juga bisa berkeliling ke seluruh penjuru untuk melihat dunia.Namun setelah beberapa tahun, aku mulai merasakan pahitnya menjadi istri seorang sopir, apalagi sopir truk besar.Suamiku jarang sekali di rumah, meninggalkanku kesepian sendirian.Aku ini wanita normal. Dulu, waktu masih muda dan belum paham apa-apa, aku tak terlalu merasakannya. Tapi, seiring bertambahnya usia, kebutuhan biologis seorang wanita
더 보기