Short
Mimpi Buruk Di Dalam Truk

Mimpi Buruk Di Dalam Truk

By:  MuriazCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
8Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di atas ranjang truk besar, suamiku menciumku dengan penuh gairah, sementara tangannya yang besar membelai dan meremas tubuhku hingga diriku merasa melayang. “Sayang, mulai sekarang aku akan selalu mengajakmu setiap kali pergi.” Aku merasa agak tidak nyaman dan menggeser posisiku, “Kamu… pelan-pelan….” Aku mendongak ke arah ranjang atas, ada sepasang mata sedang mengintip dari balik papan ranjang….

View More

Chapter 1

Bab 1

“Sayang, perginya bakal berapa lama kali ini?”

Aku merebahkan diri di ranjang, menghela napas perlahan. Begitu sudah agak lega, aku bangun untuk mulai merapikan barang-barang suamiku ke dalam koper.

Suamiku adalah seorang sopir truk besar. Dia menempuh perjalanan jarak jauh siang dan malam, waktunya dihabiskan di atas kendaraan jauh lebih banyak daripada di rumah.

Setiap kali berangkat, paling sebentar satu minggu, paling lama bisa sampai setengah bulan tak kelihatan batang hidungnya.

Waktu baru menikah dulu, aku merasa pekerjaan ini sangat bagus. Selain penghasilannya lumayan, dia juga bisa berkeliling ke seluruh penjuru untuk melihat dunia.

Namun setelah beberapa tahun, aku mulai merasakan pahitnya menjadi istri seorang sopir, apalagi sopir truk besar.

Suamiku jarang sekali di rumah, meninggalkanku kesepian sendirian.

Aku ini wanita normal.

Dulu, waktu masih muda dan belum paham apa-apa, aku tak terlalu merasakannya. Tapi, seiring bertambahnya usia, kebutuhan biologis seorang wanita semakin meningkat.

Apalagi sekarang sudah masuk usia tiga puluhan, masa-masa di mana gairah sedang memuncak, tapi aku hanya bisa bertemu suamiku beberapa kali dalam sebulan. Bagaimana aku bisa menahannya?

Melihat sahabat-sahabatku yang setiap malam selalu ditemani pasangannya, bohong kalau diriku bilang tidak iri.

Yang lebih parahnya lagi, karena terlalu lama menyetir dan jarang berolahraga, stamina suamiku yang baru berusia tiga puluhan itu sudah menurun.

Jarang-jarang pulang sekali, tapi dia malah tak bisa memuaskanku.

Di usiaku yang sedang mekar-mekarnya bagai bunga, kok diriku malah harus berakhir seperti janda, padahal punya suami?

Sebenarnya, sesi bercinta tadi terasa sangat hambar bagiku.

Namun, demi menjaga harga diri suamiku, aku terpaksa pura-pura terlihat puas.

“Perjalanan kali ini agak jauh, bolak-balik setidaknya memakan waktu setengah bulan.”

Aduh… setengah bulan tidak ada di rumah lagi. Kualitasnya tidak terjamin, kuantitasnya pun tak bisa terkejar.

“Kamu ikut saja denganku kali ini?”

Apa?

Menyuruhku ikut?

Aku menatap suamiku dengan tatapan agak terkejut.

Dulu, aku sering merengek ingin ikut untuk sekalian jalan-jalan, tapi suamiku selalu menolak. Katanya perusahaan sudah mengatur rekan kerja dan tidak nyaman kalau membawaku. Kok dia malah tiba-tiba berubah pikiran?

“Iya, aku lihat rekan-rekan yang lain juga ajak istri mereka untuk ikut. Siang hari bisa makan masakan rumah yang hangat, malamnya bisa tidur sambil berpelukan, bukankah itu asik?”

Ternyata itu maksudnya. Sepertinya bukan hanya aku saja yang merasa tidak tahan dengan keadaan ini.

Baru saja aku mau tersenyum dan menyetujuinya, tiba-tiba teringat satu hal.

“Kalau aku ikut, lalu bagaimana dengan rekanmu?”

Rekan kerja suamiku namanya Fresly. Kalau perjalanan jarak jauh, mereka akan berangkat bersama untuk bergantian menyetir.

“Halah, biarkan saja dia. Nanti dia yang nyetir, kita main di ranjang. Kalau kamu merasa kurang seru, nanti aku suruh dia berhenti dan main bersama kita….”

Sembarangan, aku langsung membekap mulutnya karena malu.

Sopir-sopir lama, terutama yang menyetir truk besar begini, memang sering merasa bosan di jalan. Biasanya mereka punya kebiasaan bicara mesum untuk mengusir penat.

Namun, mulutnya ini benar-benar tak dijaga, bisa-bisanya bicara seperti itu tentang istrinya sendiri. Benar-benar memalukan.

Meski malu, ucapan suamiku tadi mulai membekas dan membentuk gambaran di kepalaku.

Nanti akan ada dua pria kekar, satu di depan dan satu di belakang….

Aku menutup wajahku yang terasa panas dan memaksakan diri untuk berhenti membayangkannya, lalu langsung berkemas.

“Dasar wanita genit, kamu benar-benar mau?”

Keesokan harinya, aku menyeret koper mengikuti di belakang suamiku. Begitu naik ke truk, ternyata Fresly sudah sampai di sana.

Dulu, suamiku pernah mengajaknya makan di rumah, jadi kami sudah saling kenal.

Dia beberapa tahun lebih muda dari suamiku, tubuhnya juga jauh lebih kekar. Tinggi badannya setidaknya 185 cm, duduk di kursi kemudi saja terlihat sangat penuh.

Melihatku, Fresly menyapa dengan ramah, “Halo kakak ipar, perjalanan kali ini bakal merepotkanmu….”

Aku tersenyum sopan, “Hanya masak-masak saja, nggak repot kok.”

“Nanti di perjalanan, aku harus mencicipi rasa kakak ipar dengan baik.”

“Ah… itu masalah kecil, jangan sungkan.”

Usai aku bicara, baru merasa kok ada yang salah dengan kalimatnya?

Tiba-tiba, suamiku menepuk pundak Fresly dengan keras, “Dasar kamu, aku kasih tumpangan makan, kamu malah mau mencicipi rasa istriku?! Mimpi saja! Nikmati saja pertunjukan kami di belakang nanti malam saat kamu menyetir.”
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status