Devan memimpin meeting saat ponselnya bergetar. Nama Istri🖤 tertera di layarnya. “Tunggu sebentar, istri saya telepon,” ia menghentikan rapat dan menjawab panggilan dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang. “Halo, Sayang.””Sayang, kamu masih meeting, ya?”“Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?”Naila terdengar ragu di seberang sana.”Nai? Kamu mau apa? Bilang aja,” ujarnya dengan nada lembut.”Beneran nggak apa-apa? Tapi kamu lagi sibuk, kan?””Nggak, kok. Kamu mau makan apa?””Aku … pengin banget Rujak Pak Santo yang di deket kantor kita, dari tadi kebayang terus. Tapi kamu lagi meeting—“”Kamu mau rujak? Mau yang pedes atau nggak?””Mau yang pedes, banyakin mangganya.””Oke, aku beliin sekarang, aku antar ke rumah.””Tapi tunggu kamu selesai meeting aja, aku nggak apa-apa nunggu—“”Sekarang aja, kamu mau makan apa lagi? Biar aku sekalian bawain.””Boleh makan sushi, nggak?””Nggak, Sayang. Dokter bilang nggak boleh mak
閱讀更多