”Kok, makin gede, ya? Apa perasaan aku aja?””Perasaan kamu aja.””Masa?” Devan menangkup payudara itu dengan kedua tangan, “beneran makin gede, deh, Nai. Apa karena aku remas tiap hari?””Bisa jadi,” Naila mendongak saat Devan mendorongnya ke dinding, pria itu membungkuk untuk mencium payudaranya sebelum mengulum putingnya yang menegang.”Makin padat juga,” ujar Devan menciumi seluruh sisi payudara itu dengan rakus, ia berusaha untuk tidak meninggalkan tanda di payudara Naila, bibirnya mengisap tidak terlalu kuat.”Kamu tuh … ah ….” Naila menyentuh kejantanan Devan yang sudah keras, membelainya dalam genggaman, besarnya kejantanan itu membuat genggamannya terasa penuh. Naila mengelusnya naik turun, merasai tekstur yang keras tapi memiliki kulit yang lembut, bagian ujungnya tidak kalah lembut. “Kamu horny terus,” Naila meremas kejantanan itu lebih kuat, “nggak puas-puas.””Kalo aku puas, artinya aku udah mau mati,” jawab Devan sambil mengisap puting Naila, “jadi selagi aku hidup, aku
Read more