Kamar baru itu terasa sempit dengan dinding abu-abu, ranjang besi, jendela berteralis menghadap tembok tinggi. Tidak ada lukisan menghiasi ruangan, tidak ada karpet, hanya jam dinding dan kamera kecil yang berada di sudut langit. Berkedip merah setiap lima detik.Pagi itu setelah mengalami minoi buruk, Alena tak langsung bangun untuk membersihkan diri, ia lebih memilih duduk di lantai. Ia menatap kasur yang terlalu mirip dengan ranjang rumah sakit, tujuh hari di gudang bawah membuat tulang punggungnya terasa ngilu. Kulitnya terlihat pucat, bibirnya pecah-pecah, tapi Alena tetap bertahan karena sudah terbiasa.Pintu berderit terbuka tanpa ketukan, Kieran masuk perlahan ia tampak tak membawa apa-apa. Bahkan ia juga tidak membawa air, hanya terlihat dirinya dan jas hitam yang selalu rapi."Bangun," perintahnya.Alena berdiri pelan, merasakan lututnya yang,masih gemetar. Kieran melempar sesuatu ke ranjang Alena, membuatnya tersentak kaget, sebuah kertas satu lembar."Aturan baru, sat
Magbasa pa