LOGINDijual demi membayar utang, Alena Volkov (20) menjadi tawanan monster mafia paling ditakuti di kota Novara, Kieran Voss (25). "Sepenuhnya sudah milikku, kontraknya berlaku malam ini!” - Kieran Voss ‘Apa hanya sampai di sini saja hidupku?’ - Alena Volkov
View More“Sama-sama, William,” kata Kieran. William tercengang, saat nama aslinya di ketahui oleh Kieran. Sesekali William menoleh kearah Alena, dengan tatapan yang bertanya-tanya. William berlari ke sudut ruangan, di balik tumpukan dus. Matanya sembab, sejak tadi dia mendengar semua dari dalam. Suara bentakan, suara palu dan suara Mamanya yang gemetar. Namun William belum mengerti maksudnya. "Ma," bisik William. Alena langsung menoleh dan memeluknya. "Nak... kamu tidak apa-apa?" William menggeleng di pelukan Alena, lalu ia mengintip lagi ke arah Kieran. Anak 5 tahun itu diam cukup lama, otaknya sedang mencocokkan. Sebuah foto di laptop Alena, Om yang mengembalikan bolanya. Om yang memperbaiki listrik rumahnya, om yang setiap sore parkir di depan pagar yang selalu William panggil Om baik. William menatap penuh tanya pada Alena, hingga akhirnya Alena mengangguk seakan memberi tanda pada William untuk maju. Lalu William lepas dari pelukan Alena, berjalan pelan 3 langkah kedepan. Lalu
Di ruko Rajut Asri, hari ini ruko memang sengaja tidak buka. Bahkan Alena meminta spanduknya untuk diturunkan. Rukonya tertutup dengan gembok 2 lapis dan lampu neon menyala semua, sampai ke belakang.William sedang duduk di lantai, dengan krayon kesukaannya ia menggambar rumah. Di lapisi pagar tinggi dan keamanan yang berlapis, karena masih ada orang yang sering berdiri di luar. "Ma, kapan kita boleh main lagi?" tanya William. "Kalau sudah aman ya, Sayang," jawab Alena, tapi suaranya tidak setenang biasanya.Tiba-tiba.Tok! Tok! Tok! Bukan suara ketukan tamu, melainkan seperti suara ketukan palu ke kayu.Alena langsung berdiri, darahnya dingin. Dari celah pintu Alena mengintip. Seperti Viktor dengan jaket kulit basah, kacamata hitam dan senyum yang dulu membuatnya selalu mengalami mimpi buruk."Al... buka," kata Viktor. "Kita bicara baik-baik, seperti dulu!"Alena mundur selangkah, ia langsung menggandeng William. "Sembunyi di gudang belakang, jangan keluar apapun yang terjadi!
2 hari kemudian, hari yang dinanti-nantikan Kieran akhirnya tiba. Pagi- pagi sekali langit masih tampak kelabu, hujan yang turun sejak tengah malam belum juga reda. Bahkan tetesannya memukul kaca gedung laboratorium swasta itu, dengan suara yang berulang-ulang, monoton dan membuat dada sesak.Jaxon sudah ditugaskan, untuk datang mengambil amplop. Ia turun dari mobil dengan payung hitam, sedangkan Kieran masih berjaga-jaga di desa. Jasnya basah di bagian bahu, di pelukannya sudah ada koper kecil berwarna abu-abu yang ia bawa. Di dalamnya sudah terbungkus plastik ziplock rangkap dua, ada satu benda yaitu sapu tangan berwarna biru kecil milik William. Jaxon masuk ke area lobi, menandatangani buku tamu dan menunggu selama 15 menit. Hingga akhirnya petugas menyerahkan satu amplop berwarna coklat tebal.Tersegel dengan rapat, bahkan ada stempel basah berwarna biru dan tulisan tangan dengan spidol. Isinya. “Hasil Tes DNA - Kode KK-WA Dokumen Rahasia Hanya untuk Penerima!”Jaxon menggeng
“Tuan yakin?” tanya Jaxon. Kieran hanya mengangguk, entah hasilnya nanti sesuai atau tidak Kieran sudah memikirkannya dengan matang. Kieran hanya tidak mau kehilangan Alena dan William untuk kedua kalinya lagi, karena feelingnya sudah kuat bahwa Adwin adalah William. Hujan turun lagi dengan sangat deras, menutup semua suara kecuali suara seng yang dipukul oleh air.Di dalam ruko Rajut Asri, lampu tambahan sudah menyala terang. 2 orang karyawan tidur di kasur lipat dekat pintu.Alena tidak tidur, ia memilih untuk duduk di meja kasir. Di depannya sudah ada laptop yang menyala, ada pula buku catatan dan HP yang sudah Alena matikan sejak lama. William meminta tidur di kamar belakang, dengan memeluk boneka. Sesekali ia menggigil karena kedinginan. Di luar pagar sekitar 20 meter, mobil hitam Kieran masih terparkir dengan keadaan mesin mati. Kaca mobilnya sedikit terbuka, tapi Kieran tidak turun. Hanya duduk menatap ke arah Ruko Alena. Sesuai perintah Kieran, keesokan harinya Jaxon mas
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya
"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews