Gadis Tawanan Tuan Mafia

Gadis Tawanan Tuan Mafia

last updateLast Updated : 2026-06-19
By:  RKamilaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dijual demi membayar utang, Alena Volkov (20) menjadi tawanan monster mafia paling ditakuti di kota Novara, Kieran Voss (25). "Sepenuhnya sudah milikku, kontraknya berlaku malam ini!” - Kieran Voss ‘Apa hanya sampai di sini saja hidupku?’ - Alena Volkov

View More

Chapter 1

Bab 1. Transaksi Berhasil

"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya.

Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City.

Alena mendengus geli mendengar ucapan Richard.

"Keluarga yang mana? Yang makan dari hasil menjual darah anaknya sendiri?" ceplosnya kasar.

Alena kembali merutuk, "Semoga uangnya cukup untuk kalian membeli neraka yang nyaman!”

Mata Alena menyiratkan dendam yang membara, dengan tatapan sinis seakan ingin segera membunuh Richard.

Bau karat, garam laut, dan ikan busuk bercampur menusuk hidung. Lampu gantung terlihat hanya ada satu, berwarna kuning redup, berayun pelan terhembus oleh angin laut.

Bayangan peti kemas yang bertumpuk pantas saja, membuat tempat itu mirip mulut raksasa yang siap menelan siapa saja.

Di depannya, Richard, sang ayah, merapikan jas murah yang kebesaran. Tangannya gemetar. Di seberang mereka, sudah tampak lelaki memakai jas hitam itu tengah bersandar di kap mobil Porsche berwarna hitam.

Lelaki yang berdiri kaku di dekat mobil itu menatap dingin ke arah Alena, seolah sedang menilai barang lelang.

Richard melangkah maju, tawanya dipaksakan renyah. "Tuan Kieran, ini putri saya, Alena, dua puluh tahun, masih perawan, cantik, kan? dan saya jamin... dia bisa memuaskan Anda di ranjang, dia anak yang penurut, sangat penurut!"

Setiap kata yang diucap adalah paku yang dipalukan ke dada Alena. Namun, gadis itu tetap tersenyum.

Senyum yang diajarkan ayahnya sejak tiga hari lalu di depan cermin retak, senyum yang harus menyelamatkan hutang 7 miliar dan nama baik keluarga.

Laki-laki dengan postur tegap besar itu tidak menjawab, membuat Richard merasa malu sendiri seperti tidak dianggap. Namun, Richard masih saja mencoba mencairkan suasana. Membuatnya seakan orang yang sudah sangat akrab.

Alena tidak berani menatap langsung ke arah laki-laki itu, di otaknya masih memikirkan cara untuk bisa kabur dari sana.

Sementara itu, laki-laki dengan postur tegap tadi mengarahkan ponsel berlayar gelap ke arah Alena. Sepertinya ia tengah terhubung dalam panggilan video.

“Bagaimana bos? Bawa sekarang?” ucap laki-laki itu.

Mendengar itu, Richard tertegun sesaat kemudian memekik kaget. “Apa?! Jadi kamu bukan Tuan Kieran?!”

Sebelumnya memang Richard tidak pernah bertemu langsung dengan Kieran. Jadi, ia pikir sekarang lah waktunya mencari muka sekaligus mendekati Kieran Voss untuk niat busuknya.

Alena melihat mata laki-laki itu hanya melirik malas ke arah Richard, hingga membuat gerak gerik ayahnya menjadi canggung untuk bertanya lagi.

Begitupun Richard terkekeh gugup. Seolah ingin meredakan ketegangan yang ia ciptakan sendiri.

Dengan tebal muka Richard langsung menyalami lelaki pesuruh itu sambil berkata, “Ahaha … Anda pasti orang kepercayaan Tuan Kieran. Saya sudah mendengar sepak terjang Anda!”

Namun, lelaki yang disebut orang kepercayaan itu hanya mendengus geli, tanpa menggubris ucapan Richard.

Bahkan Alena dibuat malu dengan cara sang ayah mencoba mengambil hati para bawahan bos mafia itu.

‘Cih! Dasar penjilat!’ gerutu Alena dalam hati, sembari meludah ke samping.

“Selesaikan cepat, Jax!” tukas lelaki di balik layar ponsel, yang jelas-jelas adalah Kieran Voss.

Mendengar suara pemimpinnya, salah satu anak buah Kieran yang berada di belakang, maju menyeret koper hitam besar dari bagasi mobil.

Suara kunci itu mengagetkan Alena.

Koper dibuka. Isinya pecahan dollar biru, tersusun rapi, membuat nafas Richard tercekat.

"Rantainya," kata tangan kanannya. Suaranya rendah, bukan perintah, tapi tak bisa dibantah.

Dengan tangan gemetar, Richard melepas kalung perak tipis dari leher Alena. Liontin huruf A kecil, satu-satunya hadiah dari Eleanor, ibunda Alena.

Alena teringat kejadian semalam, di rumah keluarga Volkov. Jika saja Eleanor tidak membujuknya dengan rayuan lembut seorang Ibu, Alena tidak akan mau menjadi alat untuk menutupi kebohongan keluarga Volkov.

Richard menyerahkannya kepada anak buah Kieran seperti menyerahkan akta jual beli.

"Sebagian tunai, sisanya akan di transfer sebagai mata uang Crypto!" ujar Kieran melalui telepon.

Akhirnya, anak buah Kieran menatap Richard dengan tatapan bengis. Disusul dengan suara yang terdengar kembali dari telepon.

"Sepenuhnya sudah milikku, kontraknya berlaku malam ini!” kata Kieran lagi.

Walau tidak bisa melihat wajah Kieran di layar ponsel, Richard tetap membungkuk dan mengangguk cepat.

Seolah takut Kieran berubah pikiran, Richard langsung mengambil koper tersebut. Ia bahkan tidak berniat menoleh ke arah Alena sedikitpun.

Dengan senyum lebar yang menyiratkan kepuasan, Richard berkata, "Dia milik anda sekarang, Tuan!"

Alena kembali memandang Richard dengan pandangan kosong. Tidak ada air mata, air matanya sudah kering seminggu lalu, sedangkan yang ada hanya lubang hitam di dadanya yang akan sulit terhapus.

Richard malah tampak membuang muka dan pergi begitu saja, meninggalkan Alena dengan rasa dendam yang dalam.

Langkahnya terseret cepat, tersenyum puas dengan memeluk koper berisi darah anaknya sendiri.

Pintu gudang perlahan berderit ditutup, meninggalkan Alena dengan beberapa anak buah dan komplotannya. Hingga tercium bau karat yang semakin menusuk hidung.

Alena hanya diam di tempat. Dirinya sama sekali tidak berani memandang mereka, karena tepat di depannya ada komplotan mafia yang terkenal seperti monster.

‘Dari caranya menelpon tadi … dia terdengar seperti monster yang ganas!’ ungkap Alena dalam hati.

Gadis 20 tahun itu membayangkan, dirinya akan habis di tempat tersebut malam ini, menjadi santapan lezat para monster itu secara bergiliran.

Jantungnya berdetak terlalu kencang, membuat telapak tangannya dingin. Alena menunduk, menatap lantai semen yang retak.

Hening.

Netra Alena menatap kosong tanpa arah, hilang harap. Ia membatin, ‘Apa hanya sampai di sini saja hidupku?’

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status