Gladys kembali membuka mulut. Kata "terima kasih" hampir saja terucap dari bibirnya.Marshel turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air, lalu mengangguk pelan."Sepertinya kamu punya pemahaman sendiri tentang mana yang lebih penting. Demi mendapatkan akta cerai, kamu bahkan rela pergi kencan buta. Demi mendapatkannya, kamu juga nggak peduli apakah tubuhmu sudah benar-benar pulih."Nada suaranya tenang, setiap katanya datar. Dia hanya menyatakan fakta.Kemudian, tatapannya beralih kepada Gladys, seolah bertanya, "Akta cerai lebih penting daripada harga diri dan martabatmu?"Ucapan terima kasih Gladys langsung tidak jadi keluar. Meski Marshel hanya menyampaikan fakta, di telinga Gladys, maknanya terasa berbeda.Apa yang terjadi padanya bukan atas keinginannya. Itu adalah luka, baik bagi tubuh maupun jiwanya. Namun, "fakta" yang diucapkan Marshel saat ini justru terasa seperti sebilah pisau.Bahkan orang asing pun mungkin akan lebih dulu menghiburnya dalam keadaan seperti ini. Namu
Baca selengkapnya