Jovan berjalan ke tepi ranjang, lalu membungkuk. "Belum makan sudah mau pergi? Kalau begitu, kesabaranku juga nggak akan sebanyak tadi."Awalnya dia ingin pelan-pelan dengan Gladys. Malam ini, cepat atau lambat, pasti ada kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.Namun, Gladys malah menolaknya secara terang-terangan, bahkan ingin pergi? Benar-benar tidak seru.Tatapan Gladys sedingin es. Dia menggigit bibirnya begitu kuat hingga hampir berdarah. Namun, rasa sakit itu justru membuat pikirannya semakin jernih.Tenaga di tangan dan kakinya seolah mulai sedikit kembali. Saat Jovan berbalik untuk menjentikkan abu rokok ke asbak, Gladys tidak mau melewatkan sedikit pun kesempatan untuk menyelamatkan dirinya.Setelah mengumpulkan tenaga cukup lama, dia tiba-tiba mengerahkan seluruh kekuatannya dan bangkit dari ranjang, melompat turun, dan menghantam Jovan dengan keras hingga terdorong ke belakang.Sambil menahan napas, dia berlari menuju pintu. Dia tidak bisa mengandalkan siapa pun
Baca selengkapnya