Pagi di kantor terasa sedikit berbeda. Pani sudah berdiri di depan pintu, menunggu dengan tubuh agak tegang. Begitu Ranu muncul di ujung lorong dengan langkah cepat, ia langsung membungkuk. “Selamat pagi, Pak.” Ranu berhenti sebentar, menatapnya sekilas. “Pagi.” Pani mengangkat kepala, wajahnya sedikit canggung. “Pak… saya mau minta maaf soal semalam. Tentang Desi. Dia memang kadang… kalau lagi enggak suka, jadi begitu.” Ranu memasukkan tangannya ke saku, ekspresinya datar seperti biasa. “Tidak masalah.” “Beneran?” “Iya.” Pani menghela napas lega. “Syukurlah…” Ranu melangkah melewatinya, lalu tiba-tiba berhenti lagi. Ia menoleh sedikit. “Kalau memang merasa bersalah, ada cara menebusnya.” Pani langsung curiga. “Kenapa saya merasa ini tidak akan bagus untuk saya?”
더 보기