Malam itu, Eng Hwa dibawa ke rumah orang tuanya. Bukan karena dia diusir. Bukan karena ada konflik. Tapi karena adat. Rumah Kwee akan menjadi tempat Sampai—tiga sembah kepada langit, leluhur, dan saling menghormati. Esok pagi, prosesi akan dimulai. Dan Eng Hwa harus berangkat dari rumah orang tuanya, bukan dari rumah mertua.Ah Pa Kwee duduk di ruang tamu, pakoa di tangan, alis berkerut. Di depannya, kertas merah berisi tanggal lahir Choa Hok dan Eng Hwa. Jari-jarinya bergerak menghitung wuku, pasaran, dan perputaran bintang.Mata Ah Pa Kwee membelalak."Cocok," bisiknya. "Cocok banget."Ah Me Kwee yang sedang merapikan seserahan mendekat. "Cocok, Pa?""Cocok. Tanggal yang ditulis Choa Hok—yang katanya asal-asalan, strategi pragmatis, pokoknya cepet—itu sama persis kayak tanggal paling bagus tahun ini yang gua dapet dengan hasil hitungan Hong Chui." Ah Pa Kwee menghela napas. "Dulu, waktu Eng Hwa nikah sama Liem Chay, Choa Hok nginep di sini. Dia ngorok. Gak sengaja netralin energi ne
Read more