Share

LAMARAN GILA

Penulis: The Bwee Lan
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 07:07:55

Beberapa minggu kemudian, situasi di Vazal Tenggara mulai stabil.

Raja Vazal yang berkhianat sudah dieksekusi. Kepalanya dipajang di alun-alun—tontonan buat rakyat yang selama ini tertindas. Penggantinya? Bukan orang asing. Bukan bangsawan dari ibu kota. Tapi kakak pertama Choa Hok—Tan Kwee Tio.

Kaisar memilihnya karena: satu, dia kompeten (lulusan akademi militer, berpengalaman di medan perang). Dua, dia saudara Choa Hok—dan Kaisar percaya keluarga Tan punya kesetiaan yang sudah terbukti.

Tan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tiongkun Tan Choa Hok    LAMARAN GILA

    Beberapa minggu kemudian, situasi di Vazal Tenggara mulai stabil.Raja Vazal yang berkhianat sudah dieksekusi. Kepalanya dipajang di alun-alun—tontonan buat rakyat yang selama ini tertindas. Penggantinya? Bukan orang asing. Bukan bangsawan dari ibu kota. Tapi kakak pertama Choa Hok—Tan Kwee Tio.Kaisar memilihnya karena: satu, dia kompeten (lulusan akademi militer, berpengalaman di medan perang). Dua, dia saudara Choa Hok—dan Kaisar percaya keluarga Tan punya kesetiaan yang sudah terbukti.Tan Kwee Tio harus berangkat ke Vazal Tenggara. Tapi sesuai adat, dia harus tinggal bersama semua adiknya di altar leluhur utama di Rumah Choa Hok sebulan dulu. Pamit ke leluhur. Meninggalkan rumah, meninggalkan adik-adiknya, meninggalkan Altar leluhur utama. Choa Hok dapat dispensasi karena kondisi rentan secara psikis dan fisik. Jadi Tan Kwee Tio, Tan Kwee Beng, dan Tan Kwee Kiong menginap di rumah Choa Hok bersama anak dan istri mereka.---Choa Hok sendiri masih terbaring di Rumah Sakit Istana.

  • Tiongkun Tan Choa Hok    KRISAN YANG BELUM BERBUNGA

    Tiga hari setelah diagnosis Sinseh Yap Ciang, halaman belakang rumah Choa Hok berubah.Pembantu-pembantunya—dua pria setengah baya yang setia meski gaji kecil—berdiri di teras, melongo. Mata mereka mengikuti setiap gerakan Choa Hok yang sedang jongkok di tanah, tangan berlumpur, mencangkul pelan.Bukan latihan perang. Bukan panahan. Bukan berkuda.Menanam.Bunga Krisan. Bibit-bibit kecil berjejer rapi di tanah gembur. Di sampingnya, ada pohon jeruk, pohon plum, pohon kacang hijau—semua ditanam di halaman belakang yang biasanya kosong, rata, dipake buat latihan panah atau berkuda.“Tuan...” bisik pembantu tertua, “Tuan mau... pensiun?”Choa Hok gak ngejawab. Tangannya masih sibuk merapikan tanah di sekitar bibit.“Tuan, ini kan biasanya lapangan latihan. Kalo ditanami...”“Ya latihan di alun-alun. Kan udah ada tempat khusus. Di rumah mah santai,” potong Choa Hok datar. Tangannya lembut memperlakukan tanaman-tanaman mungil itu. Tetangga curi-curi lihat dari luar. Mereka mengakui kalo ha

  • Tiongkun Tan Choa Hok    TOPENG JELEK DAN BIBIT YANG RUSAK

    Hari Pernikahan Pangeran dengan Yo Lan. Choa Hok sebenarnya ogah datang karena dua alasan: patah hati dan feeling. Laporan Markas seminggu ini nyampe. Dia bagian intelijen jadi setiap hari berita urgent pasti ada. Dikirim merpati atau lewat pelayan. Berita beberapa hari ini ada gerakan di Vazal tenggara. Mencurigakan. Bau-baunya berontak pas pesta istana. Pesta istana terdekat? Ya kawinan sahabat dia, Pangeran.Dia masih kerja bungkus hantaran Tiongkun Seng. Sampai selesai.Tapi undangan dari istana tetap mengintip dari atas meja. Kertas tebal. Cap naga. Tulisan bagus. “Duh, ogah dateng… libur”, omelnya pada undangan di meja. Ah Peng, ajudan butuh duit yang ikut kerja karena liburnya barengan dan ditawarin cuma bisa geleng liat Tiongkun dia. Di Markas, si Tiongkun itu pasti mode ‘siap, laksanakan’.Lah di sini? Mode manja-manja ogah tapi butuh, persis seniman. Ah Peng sampai curiga, jangan-jangan Tiongkun punya dua arwah kayak cerita mistis yang bukunya lagi booming itu.Hari itu, dia

  • Tiongkun Tan Choa Hok    ANAK ANGKAT KAISAR YANG TERSAKITI

    Hari itu, di barak, Choa Hok duduk di depan tumpukan laporan. Bukan satu. Bukan dua. Tapi puluhan. Kertas-kertas berserakan di meja kayu besarnya—beberapa sudah dilipat rapi, beberapa masih terbuka, beberapa sudah dicap, beberapa masih menunggu verifikasi. Laporan intelijen. Laporan perbatasan. Laporan tambang garam haram yang kemarin dia selidiki bareng Prajurit Hok. Choa Hok bekerja. Setengah hari. Tanpa henti. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Jarinya menunjuk, menulis, mencoret, menandai. Ini valid. Ini gak valid. Ini perlu ditindaklanjuti. Ini arsip. Tangannya terlatih. Tapi pikirannya—pikirannya kadang melayang. Kemarin wisma. Dupa mahal. Chio Hiang. Cantik, semok montok. Dia geleng. Gak usah dipikirin. Kerja dulu. Laporan demi laporan selesai. Tumpukan di kiri pindah ke kanan. Cap lilin meleleh di atas api kecil, menetes, mengeras. Setengah hari. Dari pagi sampai siang. --- Siang. Matahari tepat di atas kepala. Panas. Udara pengap. Choa Hok baru aja ngelap

  • Tiongkun Tan Choa Hok    PROYEK DARI TAUKE LAW

    Pagi itu, Choa Hok terbangun dengan pose sembrono.Kakinya nyungsep di atas bantal—bukan nyender, bukan nyampir, tapi beneran naik ke atas bantal kayak lagi memanjat sesuatu dalam mimpi. Selimut melingkar di kepalanya, nutupin muka, nutupin mata, cuma nyisain lubang kecil buat bernapas.Dia buka mata. Samar. Langit-langit rumahnya sendiri. Kayu biasa. Retak di ujung. Tapi rumah sendiri.Choa Hok duduk. Selimut jatuh ke pangkuan. Rambut acak-acakan kayak orang habis gulat sama angin.Ini pose apa, Hok? pikirnya sambil ngeliat kaki kirinya yang masih nyangkut di bantal. Masa tidur kayak orang kesurupan.Dia cabut kaki dari bantal. Rapikan selimut. Lipat. Taruh di pojok dipan.Lalu dia berdiri, jalan ke jendela, buka. Matahari pagi masih merah di ufuk timur, udara masih dingin, ayam-ayam tetangga mulai ribut.Hari ini kerja. Proyek dari Tauke Law.Choa Hok manggil pelayan. “Bantu siapin mandi.”Pelayan tua itu mengangguk, bergegas ke belakang, menghidupkan api, menghangatkan air.Di kama

  • Tiongkun Tan Choa Hok    PENYERAP ENERGI NEGATIF

    Akhirnya Choa Hok harus terima kenyataan. Dia bangun dalam keadaan basah. Bukan kiasan. Basah beneran. Kesadarannya baru balik setelah dia merasakan air dingin meresap ke seluruh pori-pori—bukan cuma di permukaan kulit, tapi sampai ke tulang. Dinginnya bukan main. Airnya bukan air biasa. Ada yang aneh. Wangi bunga. Wangi yang familiar. Bunga teratai. Tiga ember. Disiram bertubi-tubi. Dari atas kepala, dari kiri, dari kanan. Guyuran yang gak kenal ampun. Rasa airnya aneh—sedikit lengket, sedikit berminyak, kayak ada yang larut di dalamnya. Air rendaman bunga teratai yang dikasih mantra yang dibakar. Pelayan rumah Kwee—tiga orang perempuan dengan pakaian serba putih—berdiri di sekelilingnya, masih memegang ember kosong. Wajah mereka datar. Profesional. Kayak mereka sudah biasa melakukan ini. Choa Hok mengerjap. Rambutnya basah kuyup, menutupi setengah wajahnya. Air menetes dari ujung rambut ke ujung hidung, ke dagu, jatuh ke lantai marmer yang dingin. Gue baru bangun tidur,

  • Tiongkun Tan Choa Hok    PAGI YANG MENEGANGKAN

    Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih

  • Tiongkun Tan Choa Hok    JANJI DI BALIK LENCANA EMAS

    Saat asyik bersembunyi di balik semak bunga botan (peony), Choa Hok melihat sesuatu.Bayangan. Bukan satu. Banyak. Geraknya pelan, hati-hati, terlalu teratur buat sekadar pelayan yang lewat. Dari balik dedaunan, dia lihat kilatan pisau pendek di tangan mereka.Mata Choa Hok menyipit. Perutnya berke

  • Tiongkun Tan Choa Hok    SAHABAT YANG TAK SENGAJA JADI SAUDARA

    Suara gemericik air dari pancuran bambu di sudut kediaman barak terdengar monoton. Tan Choa Hok berdiri mematung di bawah kucuran air dingin yang menusuk tulang. Musim gugur di Cia Agung memang gak kenal ampun—air bisa bikin kulit serasa disayat sembilu.Tapi Choa Hok tidak peduli.Dia membiarkan a

  • Tiongkun Tan Choa Hok    KABAR DARI ISTANA DAN DURI DI HATI

    Langit Kerajaan Cia Agung lagi kacau balau. Perang saudara di mana-mana. Kabar dari utara bilang pasukan pemberontak udah rebut dua kota. Dari timur, stok beras mulai menipis. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada kabar paling absurd yang bikin para perwira di garnisun timur geleng-geleng kepala.Tan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status