登入Tan Choa Hok lahir dengan berkah ular. Kesaktiannya menyelamatkan putra mahkota—dan mengubah hidupnya selamanya. Jenderal investigasi paling ditakuti. Tapi cinta pertamanya direbut sahabatnya sendiri. Bukan karena kurang hebat. Tapi karena status sosial. Api Ular di matanya melarangnya menyerah. Tapi di Cia Agung, kadang yang kalah di kertas—menang dalam hidup. The Bwee Lan (Anggrek Cantik dari Marga The)
查看更多Langit Kerajaan Cia Agung lagi kacau balau. Perang saudara di mana-mana. Kabar dari utara bilang pasukan pemberontak udah rebut dua kota. Dari timur, stok beras mulai menipis. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada kabar paling absurd yang bikin para perwira di garnisun timur geleng-geleng kepala.
Tan Siauw Kiat, perwira rendahan dengan seragam paling lusuh se-garnisun, dipanggil menghadap Kaisar. Sendirian. Dia baru aja nyopot sepatu yang masih belepotan lumpur sawah. Perjalanan dari pos perbatasan ke ibu kota makan waktu tiga hari tanpa henti. Jenggotnya udah kayak sarang burung. Matanya merah kurang tidur. Dan sekarang, dengan badan masih bau keringat medan perang, dia harus berdiri di depan pintu istana yang tingginya lima kali lipat rumahnya. Para Jendral yang lewat ngeliatin dia kayak ngeliatin kucing basah masuk kandang singa. “Tan Siauw Kiat?” bisik salah satu Jendral dengan kumis tebal, suaranya gak usah dibisikin juga kedengeran. “Itu mah yang lima tahun gak naik pangkat gara-gara gak punya koneksi?” “Koneksi? Dia punya apa? Utang kali.” Tawa mereka berderai pelan. Seorang prajurit lewat, nunduk, gak berani angkat muka. Tan Siauw Kiat gak denger. Paling juga udah biasa. Lima tahun. Dia udah lima tahun gak naik pangkat. Bukan karena gak becus. Bukan karena kurang sakti. Tapi karena di Cia Agung, urusan naik pangkat itu bukan soal seberapa banyak darah yang lo tumpahin buat negara. Tapi soal lo kenal siapa. Dan Tan Siauw Kiat? Keluarganya cuma punya sawah sepetak di pinggir hutan. Dia masuk ke ruang singgasana dengan langkah gontai. Lututnya nyaris nyeret. Kapalan di telapak tangan kiri masih perih—bekas pegang tombak dua hari nonstop. Di singgasana, Kaisar Ong Ling Swi lagi duduk dengan raut muka yang susah dibaca. Bukan marah. Bukan senang. Kayak orang yang baru nemuin teka-teki dan belum bisa mecahin. Di samping singgasana, ada kursi kecil. Di kursi itu, Pangeran Kecil—putra mahkota umur tujuh tahun—duduk meringkuk. Matanya sembab. Hidungnya merah. Udah dua hari sejak insiden penculikan, dan anak itu masih sesenggukan kalo gak ada yang ngeliat. Tan Siauw Kiat berlutut. Dahi nyaris nyentuh lantai marmer. Bau keringat dan tanah dari seragamnya mulai nyebar pelan ke ruangan yang biasanya wangi cendana. Beberapa menteri di samping kiri nahan napas. “Ampun Tuanku...” suaranya serak, pita suaranya masih kering karena tiga hari cuma makan kerupuk dan air sungai. “Hamba gak ngerti kenapa dipanggil...” Kaisar gak jawab. Dia malah nengok ke putranya. Gerakannya pelan, sabar, beda banget sama suaranya yang biasa menggelegar di lapangan perang. “Nak,” katanya, “ini bapaknya anak yang nyelamatin lu?” Pangeran kecil angkat muka. Matanya yang sembab itu nyipit. Dia liat Tan Siauw Kiat dari ujung rambut yang acak-acakan sampe ujung sepatu yang belepotan. Lalu dia geleng pelan. “Bukan, Yang Mulia.” Suara anak kecil itu masih sisa tangisan. “Yang nyelamatin putra adalah anaknya. Namanya... Tan Choa Hok. Geraknya cepet banget kayak ular!” Tan Siauw Kiat ngedenger nama anak bungsunya disebut di ruangan sebesar ini. Jantungnya berdegup. Tangan kirinya, yang biasa megang tombak, mulai gemetar. Kaisar nyengir. “Ular, ya?” Dia bangkit dari singgasana. Langkah kakinya berat, tapi gak terburu-buru. Di setiap langkah, bayangan tubuhnya yang kekar nutupin cahaya matahari dari jendela samping. Satu per satu, menteri-menteri mundur pelan. Bukan karena takut. Tapi karena mereka tau: Kaisar lagi mau bicara serius. “Perwira Tan,” suara Kaisar gak keras, tapi bergema di ruangan yang sunyi mendadak. “Anak lu yang baru umur sepuluh tahun, pake baju putra mahkota, sendirian ngadepin dua belas penculik bersenjata lengkap.” Kaisar berhenti tepat di depan Tan Siauw Kiat. Jaraknya cuma tiga langkah. “Dia gak lari.” Kaisar angkat satu jari. “Dia gak nangis.” Jari kedua. “Dia malah balikin ular berbisa mereka. Sampe para penculik itu pada mati sendiri.” Jari ketiga. Dia nunduk. Menatap Tan Siauw Kiat yang masih berlutut, dahi nyaris nyentuh lantai. “Gue investigasi sendiri kejadian ini,” Kaisar lanjut. “Anak lu berhasil bikin kewalahan dua belas orang dewasa. Pake akal. Pake nyali. Dia korbankan diri demi putra mahkota.” Kaisar nyengir. Tapi senyum itu gak sampe ke mata. “Lu? Bapaknya... cuma panik anter istri ke bidan.” Sunyi. Tan Siauw Kiat gak bisa angkat muka. Bukan karena malu. Tapi karena dari sudut mata, dia liat para Jendral yang tadi ketawa sekarang pada diem. Diem kayak orang yang baru sadar mereka udah salah baca situasi. “Mulai hari ini,” Kaisar angkat suara, “Perwira Tan Siauw Kiat gue naikin pangkat jadi Komandan Batalyon.” Suasana berubah. Para Jendral yang tadi diem mulai gelisah. Komandan Batalyon? Itu lompatan tiga tingkat. Orang butuh sepuluh tahun buat sampe situ. “Keluarganya gue kasih rumah di ibu kota.” Kaisar balik ke singgasana, duduk lagi. “Dan anaknya... anaknya akan gue sekolahin di akademi militer kerajaan. Bareng putra mahkota.” Gak ada yang protes. Gak ada yang brani. Cuma suara napas para menteri yang mulai berat. Tan Siauw Kiat masih berlutut. Dahi masih nyaris nyentuh lantai. Tapi sekarang, di sela-sela jari tangannya yang gemetar, ada sesuatu yang basah. --- Malam itu, Tan Siauw Kiat pulang. Langkahnya berat. Sepatu yang tadi pagi masih belepotan lumpur sekarang udah dibersihin sama pelayan istana. Seragamnya juga diganti. Tapi badan dia masih bau medan perang. Bau itu gak ilang cuma karena ganti baju. Istrinya, Lim Kim Hwa, nyambut di depan pintu. Wajahnya cemas. Tangannya masih basah—baru aja cuci piring. Rumah bambu mereka kecil. Gak muat banyak orang. Tapi cukup buat lima orang duduk santai kalo gak ada yang bawa kabar aneh. “Kenapa, Koh?” tanya Kim Hwa, matanya nyipit. “Kusut amat mukamu.” Tan Siauw Kiat duduk di kursi bambu. Kursi itu udah berumur. Setiap digerakin bunyi kreek-kreek. Di halaman belakang, anak bungsunya—Tan Choa Hok—lagi jongkok. Di depannya, seekor ular sawah melingkar. Anak kecil itu gak takut. Dia malah nyengir, ngeliatin ular itu merayap perlahan di antara jari-jari kakinya. Tan Siauw Kiat tatap tangan sendiri. Kasar. Kapalan di telapak kiri masih perih. Di telapak kanan, ada bekas luka sayatan yang udah sembuh tapi gak pernah ilang. Lima tahun. Lima tahun dia nahan tombak di medan perang. Nahan hujan. Nahan panas. Nahan lapar. “Na... naik pangkat gue,” katanya lirih. Suaranya kayak orang lagi cerita mimpi, bukan kenyataan. “Kok bisa?” Kim Hwa duduk di sampingnya. Wajahnya masih cemas. Diam. Angin malam masuk lewat celah dinding bambu. Bawa bau tanah basah dari kebun belakang. Di kejauhan, ada suara jangkrik yang mulai ribut. “Gara-gara Choa Hok.” Kim Hwa gak nanya lebih lanjut. Mungkin dia udah bisa nebak. Mungkin juga dia gak mau denger jawabannya. Dia cuma liat suaminya yang selama lima tahun gak pernah nangis, sekarang matanya merah kayak orang habis kena asap. Air mata lelaki itu jatuh. Pertama kali dalam sepuluh tahun. Bukan karena bahagia. Tapi karena dia sadar: seumur hidup berdarah-darah di medan perang gak pernah dihargai. Tapi anak kecil yang cuma pura-pura jadi pangeran selama tiga jam, berhasil melakukan apa yang gak pernah bisa dia capai. “Haiyaah...” dia geleng-geleng, ngelus kepala Choa Hok yang dari tadi udah berdiri di sampingnya tanpa suara. “Nasib lebih penting dari jasa. Gitu rupanya.” Anak kecil itu gak ngerti. Dia cuma ngerasa aneh: kok Papa pegang kepalanya lama banget? Tapi dia diem aja. Tangannya yang tadi megang ular, sekarang megang lutut Papa yang kapalannya keras kayak batu. --- Dua puluh lima tahun kemudian, di sebuah kantor di kompleks militer ibu kota, suara kresek memecah sunyi. Letnan Kolonel Tan Choa Hok—anak kecil yang dulu main sama ular sawah—meremukkan gelas keramik di tangannya. Gak sengaja. Tapi juga gak sepenuhnya sengaja. Darah netes di sela jari. Ngenes ke meja kayu jati, ngenyangin tumpukan laporan yang udah berdebu. Tapi dia gak ngerasain sakit. Bukan karena kebal. Tapi karena matanya lagi nempel di satu lembar gambar yang baru aja dikasih jaringan intelijen bawah tanah. Gambar seorang cikia. Dia lagi duduk di taman istana. Sore. Cahaya matahari setengah lima nyisa di ujung rambutnya yang disanggul sederhana. Tangannya lagi petik daun melati. Sederhana. Gak lebay. Mukanya bukan tipe cantik yang bikin orang nengok dua kali. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang teduh, kayak air kolam di tengah hutan. Air yang keliatan tenang dari atas, tapi gak ada yang tau dalemnya berapa depa. Kwee Yo Lan. Putri bangsawan rendah yang keluarganya hampir bangkrut. Statusnya terlalu rendah buat dianggep keluarga kerajaan. Tapi terlalu tinggi buat lelaki biasa kayak dirinya. Choa Hok hela napas. Dadanya naik turun. Tangannya yang berdarah itu ditaruh di pangkuan, gak dibersihin. Dia udah suka sama cikia ini sejak setahun lalu. Pertama ketemu di akademi militer—waktu Yo Lan jadi tamu undangan bapaknya yang pensiunan perwira. Waktu itu, di tengah keramaian acara pisah sambut, Yo Lan duduk di pojok. Sendirian. Bukan karena gak ada yang ngajak ngobrol. Tapi karena dia milih di pojok, baca buku soal taktik pertahanan kota. Buku yang bahkan banyak perwira males bacanya. Buku yang sampulnya udah lusuh, pinggirannya penyok, kayak udah dibaca berkali-kali. Yo Lan bacanya sambil senyum kecil, kayak orang yang nemu teman lama di tempat sepi. Saat itu Choa Hok jatuh hati. Bukan kepincut kayak remaja gatel. Tapi jatuh. Jatuh kayak orang yang baru sadar: selama ini dia ngukur segala sesuatu pake logika dan strategi. Ternyata ada satu hal yang gak bisa diukur. Dia yang sejak umur sepuluh tahun dilatih baca musuh, baca niat, baca kebohongan—eh, malah gak bisa baca hatinya sendiri. Gambar kedua jatuh di atas meja. Jatuhnya pelan, kayak daun kering. Tapi efeknya kayak palu godam. Choa Hok langsung kaku. Gambar yang sama. Cikia yang sama. Taman yang sama. Sore yang sama. Tapi di sampingnya sekarang duduk sesosok pria jangkung. Pakaian emas, bordiran naga, rambut disanggul rapi. Tangannya nyodorin setangkai bunga anggrek langka—jenis yang cuma tumbuh di lereng gunung utara dan cuma mekar setahun sekali. Senyumnya Choa Hok kenal betul. Dia udah kenal senyum itu sejak dua puluh lima tahun lalu. Pangeran Ong Kiat Seng. Putra mahkota. Kawan masa kecilnya. Saudara yang dulu dia selamatin pake nyawanya sendiri. Laporan intelijen yang nyertain gambar itu cuma satu kalimat. Tulisannya kecil, pinggirannya rapi, kayak orang yang nulis sambil gak enak hati. “Yang Mulia Putra Mahkota mulai tunjukin ketertarikan pada Kwee Yo Lan. Frekuensi ketemu: tiga kali dalam dua minggu.” Choa Hok pejam mata. Di balik kelopak matanya, ada memori dua puluh lima tahun lalu. Waktu pertama kali dia sama pangeran kecil tukar baju. Waktu dia lepas semua giok dan tanda kerajaan yang dikasih pangeran, lalu pake sendiri. Baju itu kebesaran buat badannya yang kurus. Giok itu berat di leher yang masih kecil. Tapi dia pake. Karena kalo gak, yang nangis bukan cuma satu pangeran. “Lu... takut?” tanya pangeran kecil waktu itu. Suaranya masih sisa tangis, mata masih belekan. “Takut,” jawab Choa Hok jujur. Udara di leher dingin. Tangan dia gemetar. Tapi matanya udah mulai biasa liat gelap. “Terus kok lu mau?” Anak kecil yang kelak jadi Jendral Ular itu nyengir. Giginya masih tanggal satu. “Soalnya lu lebih keder dari gue.” Kini, dua puluh lima tahun kemudian, senyum itu ilang. Choa Hok buka mata. Dia tatap laporan itu sekali lagi. Lalu dengan gerakan pelan—sengaja pelan, kayak orang yang lagi motong tali yang udah diiket lama—dia robek jadi dua. Suara kertas robek di ruangan sunyi. Keras. Jelas. Bukan karena marah sama pangeran. Marah itu masih gampang. Marah bisa dibawa ke medan perang, bisa disalurin ke musuh, bisa dipake buat bakar semangat. Tapi ini bukan marah. Ini sakit. Sakit yang gak bisa ditombakin. Gak bisa dipotong pake pedang. Gak bisa dimatiin dengan strategi. Dia tau: dalam politik kerajaan, suka sama cikia yang dilirik putra mahkota itu namanya bunuh diri. Dan dia yang pernah selamat dari dua belas penculik, ribuan karung racun, dan tiga kali perang saudara—gak pernah takut mati. Tapi dia takut nyakitin orang yang dulu dia selamatin. “Komandan...” Suara ajudan dari luar pintu. Cuma satu ketukan. Pelan. Kayak orang yang udah nunggu lama tapi gak berani buru-buru. Choa Hok buka mata. Kertas robek itu masih di tangan. Darah dari tadi masih netes pelan. Meja kayu jati udah punya noda merah baru. “Apa?” “Utusan dari Istana datang, Komandan.” Suara ajudan masih pelan. “Yang Mulia Putra Mahkota ngundang Komandan buat makan malam pribadi besok. Katanya... mau diskusi sesuatu.” Choa Hok diem. Di luar, matahari mulai condong ke barat. Bayangan jendela mulai memanjang di lantai. Di kejauhan, ada suara prajurit latihan. Teriakan komando. Dentuman kaki. Semua suara yang familiar. Yang udah dia denger setiap hari selama dua puluh tahun terakhir. Dia tatap potongan-potongan gambar di tangannya. Wajah Yo Lan di satu sisi. Wajah pangeran di sisi lain. Dua lembar yang dulu satu, sekarang terpisah. “Bilang,” suaranya datar, “gue dateng.” Setelah langkah ajudan menjauh, Choa Hok jalan ke jendela. Dari kantornya yang di kompleks militer, dia bisa liat puncak istana di kejauhan. Dulu, waktu dia masih kecil, puncak itu keliatan tinggi banget. Kayak tempat dewa-dewa. Sekarang dia tau: di sana cuma ada orang. Orang yang dulu dia selamatin. Orang yang sekarang lagi duduk di samping cikia yang dia suka. Tangan kirinya berdenyut. Bukan denyut biasa. Denyut itu udah dia kenal sejak lahir—tangan yang nyimpen bisa ular, warisan dari gigitan malam kelahirannya. Biasanya tangan itu diem. Tapi kadang, di saat-saat tertentu, dia berdenyut. Kayak kasih peringatan. “Dulu gue tulung lu, Pangeran...” bisiknya pelan. Cuma angin di luar jendela yang denger. “...Tapi sekarang lu jadi saingan gue.” Dia tarik napas. Buang pelan. “Haiyaah... pusing gue.” Dia kepal tangan. Darah dari gelas pecah tadi masih basah di jari-jari. Darah itu hangat. Ngenes di sela-sela. Tapi dia gak bersihin. Soalnya itu pengingat. Dalam urusan cinta sama tahta, yang gak berdarah biasanya kalah sebelum bertarung. Dan Tan Choa Hok—anak ular, Jendral investigasi termuda di Cia Agung, satu-satunya lulusan akademi militer yang naik pangkat dua kali karena strategi, bukan koneksi—gak pernah terbiasa kalah. Tapi kali ini, lawannya bukan musuh di medan perang. Lawannya adalah saudara yang nyawanya pernah dia selamatkan. Dan itu yang bikin tangan kirinya berdenyut lebih keras dari biasanya. --- [BERSAMBUNG.] "Cikia" Panggilan untuk nona/nona muda (Hokkien: 小姐 sió-chiá) "Haiyaah" Ekspresi khas frustrasi/kesal "Koh" Panggilan suami (kakak) dari istri "Kepincut" Jatuh hati "Keder" Grogi/gugup/gak berdaya "Sembah" Hormat ala Tionghoa —Malam itu, bulan bersinar terang. Kakinya keluar dari rumah prajurit Liem. Rasanya bulan dan bintang tersenyum bersamanya melihat Liem Chay mau Sangjit besok dan lusanya menikah. Tapi malam ini berbeda. Choa Hok tidak berjalan ke arah selatan—ke arah wisma dengan lampu merah temaram dan dupa yang menghangatkan dada.Dia berjalan ke timur, mengikuti Ah Pa Kwee dengan pakoa (papan tao) kecil yang selalu ditenteng di tangan kirinya.Ke arah rumah keluarga Kwee bersama rombongan mereka yang sibuk ngeliatin kotak make up, berbisik, kadang melihatnya sambil malu-malu.Bukan Kwee Yo Lan. Bukan keluarga penghianat yang hampir bangkrut itu. Yang rumahnya sederhana dengan teras bambu dan kursi kayu lapuk. Tapi Kwee yang lain. Kwee Eng Hwa. Cabang kaya. Cabang yang bergelimang emas perak dari usaha Hong Chui (Bahasa Mandarin bakunya Fengsui)—ilmu tata letak rumah, toko, dan makam yang konon bisa mengubah nasib.Pagar rumah ini dari besi tempa. Tinggi. Di atasnya ada ukiran naga dan phoenix—buka
Choa Hok terbangun.Matahari pas di atas kepala. Sinar putih terang menusuk celah-celah jendela, jatuh tepat di atas matanya. Dia mengerjap. Kerjap. Kerjap lagi. Perutnya keroncongan. Bukan keroncongan biasa. Keroncongan orang yang semalem cuma minum arak dan makan camilan asin seadanya.Dia mencoba bangun. Badan masih pegal. Kepala masih agak berat—bekas dupa dan arak semalam belum hilang seratus persen. Tapi perut protes terlalu keras. “Kruoooook”. “Haiyyyah! Ai ciak bue (minta makan nasi) nah!”, keluh Choa Hok. Makan. Harus makan.Choa Hok duduk di tepi dipan. Diam sebentar. Kumpulin tenaga. Lalu dia berdiri, jalan ke lemari, ambil baju bersih. Tng Sa baru. Wangi. Tidak kusut. Tidak belepotan kuah atau bau dupa.Dia panggil pelayan. Bukan pelayan barak. Pelayan rumah warisan keluarganya—pria tua yang setia meski gaji kecil, yang selalu ada meski cuma berdua dengan Choa Hok di rumah besar itu.“Tolong rapiin rambut,” kata Choa Hok.Pelayan itu mengangguk. Tangannya yang keriput tapi
Pagi datang lagi. Sama seperti kemarin. Tapi berbeda.Choa Hok pulang. Kalo kemarin dia buru-buru, takut telat apel, takut ketahuan, takut gosip menyebar. Hari ini? Santai. Jalan sempoyongan. Mata merah. Pakaian masih sama seperti semalam—Tng Sa (Hanfu) abu-abu lecek di siku dan lengan. Ikatannya pun longgar. Bau dupa untuk keperluan senang-senang dewasa masih nempel di kerah. Bau arak campur parfum wanita. Ditambah bonus bau keringatnya sendiri yang sudah mengering dan jadi bau asam pagi-pagi.Choa Hok gak mandi. Bodo amat. Libur seminggu. Gak ada apel pagi. Gak ada yang harus dia laporkan. Gak ada yang berani nanya.Libur.Dia berjalan menuju pintu rumahnya. Di depan pintu, sesosok bayangan berdiri. Bukan bayangan. Manusia. Pria. Bertumpu pada satu kaki, tangan disilang di dada. Wajahnya datar. Matanya tajam. Jakunnya naik turun—bukan karena takut, tapi karena nahan sesuatu.Liem Chay.Choa Hok berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengucur di kening, di belak
Choa Hok masih duduk di kursinya ketika siang mulai berubah menjadi sore. Lampu minyak di sudut ruangan akhirnya dinyalakan oleh ajudan yang lewat—bukan Liem Chay, tapi prajurit lain yang tugas sore itu. Itu artinya dia pulang, dan Tiongkun Ham akan segera duduk di sini.Dia menatap sayu ke arah pintu, lalu berdiri dan berjalan keluar pintu. Tiongkun Ham melihat sejawatnya dengan heran sampai melotot, seperti melihat orang lain. Tiongkun Choa akhirnya berjalan tanpa tujuan jelas, kakinya membawanya keluar barak, menyusuri jalan setapak yang familiar, menuju sebuah rumah di pinggiran kompleks militer.Rumah Liem Chay.Dia tetap mengetuk. Walaupun pintu setengah terbuka. Suara tawa dan percakapan terdengar dari dalam. “Eh, Tiongkun, masuk ayo”, ajak seorang ibu tua. Ibu Liem Chay yang sudah seperti ibunya sendiri. Choa Hok melangkah masuk.“Mau teh jahe atau teh kayu manis?”, tanya Ibu Liem Chay. “Teh Jahe, Ah Cim”, jawab Choa Hok sambil tersenyum hangat. Wanita tua itu menyajikan teh j






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.