FAZER LOGINHari itu, di barak, Choa Hok duduk di depan tumpukan laporan. Bukan satu. Bukan dua. Tapi puluhan. Kertas-kertas berserakan di meja kayu besarnya—beberapa sudah dilipat rapi, beberapa masih terbuka, beberapa sudah dicap, beberapa masih menunggu verifikasi. Laporan intelijen. Laporan perbatasan. Laporan tambang garam haram yang kemarin dia selidiki bareng Prajurit Hok. Choa Hok bekerja. Setengah hari. Tanpa henti. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Jarinya menunjuk, menulis, mencoret, menandai. Ini valid. Ini gak valid. Ini perlu ditindaklanjuti. Ini arsip. Tangannya terlatih. Tapi pikirannya—pikirannya kadang melayang. Kemarin wisma. Dupa mahal. Chio Hiang. Cantik, semok montok. Dia geleng. Gak usah dipikirin. Kerja dulu. Laporan demi laporan selesai. Tumpukan di kiri pindah ke kanan. Cap lilin meleleh di atas api kecil, menetes, mengeras. Setengah hari. Dari pagi sampai siang. --- Siang. Matahari tepat di atas kepala. Panas. Udara pengap. Choa Hok baru aja ngelap
Pagi itu, Choa Hok terbangun dengan pose sembrono.Kakinya nyungsep di atas bantal—bukan nyender, bukan nyampir, tapi beneran naik ke atas bantal kayak lagi memanjat sesuatu dalam mimpi. Selimut melingkar di kepalanya, nutupin muka, nutupin mata, cuma nyisain lubang kecil buat bernapas.Dia buka mata. Samar. Langit-langit rumahnya sendiri. Kayu biasa. Retak di ujung. Tapi rumah sendiri.Choa Hok duduk. Selimut jatuh ke pangkuan. Rambut acak-acakan kayak orang habis gulat sama angin.Ini pose apa, Hok? pikirnya sambil ngeliat kaki kirinya yang masih nyangkut di bantal. Masa tidur kayak orang kesurupan.Dia cabut kaki dari bantal. Rapikan selimut. Lipat. Taruh di pojok dipan.Lalu dia berdiri, jalan ke jendela, buka. Matahari pagi masih merah di ufuk timur, udara masih dingin, ayam-ayam tetangga mulai ribut.Hari ini kerja. Proyek dari Tauke Law.Choa Hok manggil pelayan. “Bantu siapin mandi.”Pelayan tua itu mengangguk, bergegas ke belakang, menghidupkan api, menghangatkan air.Di kama
Akhirnya Choa Hok harus terima kenyataan. Dia bangun dalam keadaan basah. Bukan kiasan. Basah beneran. Kesadarannya baru balik setelah dia merasakan air dingin meresap ke seluruh pori-pori—bukan cuma di permukaan kulit, tapi sampai ke tulang. Dinginnya bukan main. Airnya bukan air biasa. Ada yang aneh. Wangi bunga. Wangi yang familiar. Bunga teratai. Tiga ember. Disiram bertubi-tubi. Dari atas kepala, dari kiri, dari kanan. Guyuran yang gak kenal ampun. Rasa airnya aneh—sedikit lengket, sedikit berminyak, kayak ada yang larut di dalamnya. Air rendaman bunga teratai yang dikasih mantra yang dibakar. Pelayan rumah Kwee—tiga orang perempuan dengan pakaian serba putih—berdiri di sekelilingnya, masih memegang ember kosong. Wajah mereka datar. Profesional. Kayak mereka sudah biasa melakukan ini. Choa Hok mengerjap. Rambutnya basah kuyup, menutupi setengah wajahnya. Air menetes dari ujung rambut ke ujung hidung, ke dagu, jatuh ke lantai marmer yang dingin. Gue baru bangun tidur,
Malam itu, bulan bersinar terang. Kakinya keluar dari rumah prajurit Liem. Rasanya bulan dan bintang tersenyum bersamanya melihat Liem Chay mau Sangjit besok dan lusanya menikah. Tapi malam ini berbeda. Choa Hok tidak berjalan ke arah selatan—ke arah wisma dengan lampu merah temaram dan dupa yang menghangatkan dada.Dia berjalan ke timur, mengikuti Ah Pa Kwee dengan pakoa (papan tao) kecil yang selalu ditenteng di tangan kirinya.Ke arah rumah keluarga Kwee bersama rombongan mereka yang sibuk ngeliatin kotak make up, berbisik, kadang melihatnya sambil malu-malu.Bukan Kwee Yo Lan. Bukan keluarga penghianat yang hampir bangkrut itu. Yang rumahnya sederhana dengan teras bambu dan kursi kayu lapuk. Tapi Kwee yang lain. Kwee Eng Hwa. Cabang kaya. Cabang yang bergelimang emas perak dari usaha Hong Chui (Bahasa Mandarin bakunya Fengsui)—ilmu tata letak rumah, toko, dan makam yang konon bisa mengubah nasib.Pagar rumah ini dari besi tempa. Tinggi. Di atasnya ada ukiran naga dan phoenix—buka
Choa Hok terbangun.Matahari pas di atas kepala. Sinar putih terang menusuk celah-celah jendela, jatuh tepat di atas matanya. Dia mengerjap. Kerjap. Kerjap lagi. Perutnya keroncongan. Bukan keroncongan biasa. Keroncongan orang yang semalem cuma minum arak dan makan camilan asin seadanya.Dia mencoba bangun. Badan masih pegal. Kepala masih agak berat—bekas dupa dan arak semalam belum hilang seratus persen. Tapi perut protes terlalu keras. “Kruoooook”. “Haiyyyah! Ai ciak bue (minta makan nasi) nah!”, keluh Choa Hok. Makan. Harus makan.Choa Hok duduk di tepi dipan. Diam sebentar. Kumpulin tenaga. Lalu dia berdiri, jalan ke lemari, ambil baju bersih. Tng Sa baru. Wangi. Tidak kusut. Tidak belepotan kuah atau bau dupa.Dia panggil pelayan. Bukan pelayan barak. Pelayan rumah warisan keluarganya—pria tua yang setia meski gaji kecil, yang selalu ada meski cuma berdua dengan Choa Hok di rumah besar itu.“Tolong rapiin rambut,” kata Choa Hok.Pelayan itu mengangguk. Tangannya yang keriput tapi
Pagi datang lagi. Sama seperti kemarin. Tapi berbeda.Choa Hok pulang. Kalo kemarin dia buru-buru, takut telat apel, takut ketahuan, takut gosip menyebar. Hari ini? Santai. Jalan sempoyongan. Mata merah. Pakaian masih sama seperti semalam—Tng Sa (Hanfu) abu-abu lecek di siku dan lengan. Ikatannya pun longgar. Bau dupa untuk keperluan senang-senang dewasa masih nempel di kerah. Bau arak campur parfum wanita. Ditambah bonus bau keringatnya sendiri yang sudah mengering dan jadi bau asam pagi-pagi.Choa Hok gak mandi. Bodo amat. Libur seminggu. Gak ada apel pagi. Gak ada yang harus dia laporkan. Gak ada yang berani nanya.Libur.Dia berjalan menuju pintu rumahnya. Di depan pintu, sesosok bayangan berdiri. Bukan bayangan. Manusia. Pria. Bertumpu pada satu kaki, tangan disilang di dada. Wajahnya datar. Matanya tajam. Jakunnya naik turun—bukan karena takut, tapi karena nahan sesuatu.Liem Chay.Choa Hok berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengucur di kening, di belak
Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih
Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan b
Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwaj
Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am







