Choa Hok masih duduk di kursinya ketika siang mulai berubah menjadi sore. Lampu minyak di sudut ruangan akhirnya dinyalakan oleh ajudan yang lewat—bukan Liem Chay, tapi prajurit lain yang tugas sore itu. Itu artinya dia pulang, dan Tiongkun Ham akan segera duduk di sini.Dia menatap sayu ke arah pintu, lalu berdiri dan berjalan keluar pintu. Tiongkun Ham melihat sejawatnya dengan heran sampai melotot, seperti melihat orang lain. Tiongkun Choa akhirnya berjalan tanpa tujuan jelas, kakinya membawanya keluar barak, menyusuri jalan setapak yang familiar, menuju sebuah rumah di pinggiran kompleks militer.Rumah Liem Chay.Dia tetap mengetuk. Walaupun pintu setengah terbuka. Suara tawa dan percakapan terdengar dari dalam. “Eh, Tiongkun, masuk ayo”, ajak seorang ibu tua. Ibu Liem Chay yang sudah seperti ibunya sendiri. Choa Hok melangkah masuk.“Mau teh jahe atau teh kayu manis?”, tanya Ibu Liem Chay. “Teh Jahe, Ah Cim”, jawab Choa Hok sambil tersenyum hangat. Wanita tua itu menyajikan teh j
Last Updated : 2026-05-16 Read more