Arga tidak menjawab permintaan maaf itu. Sebaliknya, pria itu melangkah mendekat hingga hanya menyisakan jarak beberapa puluh sentimeter di antara mereka. Nayla menahan napas. "A-Pak...?" Tatapan Arga tidak tertuju pada wajahnya, melainkan pada rambut Nayla yang dicepol asal. Beberapa helai anak rambut terlepas dan membingkai pipinya, sementara leher jenjang wanita itu terlihat jelas akibat cepolan tersebut. Tanpa berkata apa-apa, Arga mengangkat satu tangannya. Nayla refleks menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika jemari Arga berhenti tepat di belakang kepalanya. "Pak...?" bisiknya lagi, bingung. Arga tetap memasang wajah datar. "Diam." Suaranya rendah, tenang, namun mengandung wibawa yang membuat Nayla tidak bergerak. Perlahan, jemari Arga menyentuh ikatan rambut yang melingkari cepolan Nayla. Mata Nayla membelalak. "Apa yang Bapak—" Belum sempat kalimat itu selesai, Arga sudah menarik karet rambut tersebut dengan satu gerakan pelan. Bles...
閱讀更多