Sementara di Kalvy cafe, Darian hanya melirik pesan yang dikirim oleh Nathan. Biarlah, biarkan dia menanggung rindu untuk bertemu anak-anaknya."Opa-Opa," panggil Ivy."Kenapa nak?" tanya Darian."Kapan Ivy, cekolah? Da sabal loh, mau cekolah." Ujar Ivy penuh semangat."Sabar ya, tunggu tahun depan gimana?" Ivy berpikir sejenak dan mengangguk, tak masalah menunggu dia senang membantu Lilia berjualan apalagi bertemu pria tampan seperti tadi.Cafe sudah mulai sepi, karena Lilia menyetok makanan sedikit. "Pi, ini kopinya." Lilia menaruh kopi di meja."Terima kasih, Lilia. Kamu hebat hari ini, apa perlu Papi mencari pegawai baru?" tanya Darian."Boleh, Pi. Mungkin laki-laki dua perempuan satu orang untuk bantu di dapur." Jelas Lilia."Baik, Papi akan minta Yuda untuk mencari. Oh ya, Lilia. Nathan merindukan anak-anaknya, apa kamu akan mempertemukannya?" Darian menatap Lilia yang melamun.Arunika yang di tubuh Lilia, menghela nafas dengan pelan. Bingung, apa yang harus dia lakukan."A-ak
Read more