Nicholas baru saja turun dari lantai dua dengan setelan jas hitamnya yang sudah rapi, siap untuk berangkat ke kantor. Namun, langkah pria itu terhenti tepat di ujung tangga. "Apa?" Nicholas bertanya dengan nada santai saat melihat Emily sudah berdiri mencegat di hadapannya. Wanita itu sama sekali tidak mengucapkan selamat pagi, melainkan langsung mengulurkan telapak tangannya ke arah Nicholas dengan raut wajah yang luar biasa datar dan menuntut. "Suratnya," jawab Emily singkat dan tajam. "Kau sudah berjanji padaku semalam." "Surat apa?" Nicholas bertanya, sengaja memancing emosi istrinya pagi-pagi sekali. "Jangan bermain-main denganku, Nicholas," desis Emily, tangannya masih terulur kaku. "Surat gugatan cerai kita. Kau bilang kau akan memberikannya padaku hari ini. Berikan sekarang." "Aku memang bilang hari ini, Emily. Tapi aku tidak pernah bilang pagi ini," balas Nicholas dengan suara baritonnya yang tenang, sebelah tangannya sibuk membenarkan letak kemejanya. "Aku bahkan bel
Read more