Sahabatku di samping juga ikut menyindir, "Iya tuh, sampai seramai ini. Pak Davin, orang yang nggak tahu mungkin bakal mengira kalian lagi menyambut nyonya baru loh ...."Davin mengernyit. "Ngomong apa, sih." Dia memaksakan senyum, suaranya kembali membawa kelembutan seperti biasanya, lalu berjalan mendekat ingin menggenggam tanganku."Sayang, kenapa tiba-tiba datang? Bukannya aku sudah bilang malam ini bakal pulang cepat buat nemenin kamu?"Aku berpura-pura pengertian. "Nemenin aku? Nggak usah, Davin. Kamu 'kan sibuk nemenin sekretarismu. Mana mungkin aku tega suruh kamu cepat pulang. Lagian, waktu itu bukannya kamu juga ingkar janji gara-gara Mica?"Begitu kata-kataku terdengar. Kelembutan di wajah Davin langsung membeku, kilatan panik muncul di matanya. "Naira, Sayang, kamu ngomong apa sih? Apa ada salah paham? Kita pulang dulu terus ngobrol di rumah ya?"Aku memiringkan tubuh menghindari tangannya, lalu langsung berjalan ke depan Mica. "Salah paham?"Aku menatapnya tajam. "Bu Mica,
Read more