Rhea masih terbaring di tempat tidurnya, tubuhnya terasa lemas, pipinya masih sakit. Luka di bibirnya sudah mulai mengering, tapi masih terasa perih.Felix masih duduk di samping tempat tidurnya, tangannya menggenggam tangan Rhea, tidak mau melepaskannya.“Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Felix, suaranya pelan tapi tegas. Matanya menyimpan amarah yang tertahan.Rhea membuka mulut, ingin menjawab—ingin mengatakan bahwa Fiona, adik Felix sendiri, yang memukulinya. Ingin mengatakan bahwa Aldric yang menculiknya. Ingin mengatakan semuanya.Tapi kemudian, pintu kamarnya diketuk.Rhea menutup mulutnya.Felix menoleh ke pintu, sedikit jengkel karena interupsi kecil itu. Ia berdiri, berjalan ke pintu, dan membukanya.Aleena berdiri di ambang pintu. Gaun malam berwarna biru tua, rambut ditata rapi, make-up sempurna. Di tangannya, sebuah tas kecil berkilauan tergenggam.“Feli
อ่านเพิ่มเติม