Bab 22 Aku berhasil melewati sisa acara jamuan makan siang itu tanpa harus tumbang, meski seluruh tubuhku sempat dibanjiri keringat dingin. Genggaman tangan Muyeol di bawah meja memaksaku tetap tegak. Dua hari berlalu dengan sangat cepat. Selama dua hari itu, Muyeol memainkan perannya dengan baik di depan keluargaku. Dia adalah sosok menantu ideal—mapan, jaga sikap, dan sangat memanjakanku. Namun, waktu kebersamaan kami harus berakhir malam ini. Adik pertamaku terus-menerus mengecek ponselnya karena jatah cuti tahunannya sudah benar-benar habis, sementara adik bontotku juga mulai cemas karena takut tertinggal materi kuliah. "Kak, maaf yaa, Rumi harus benar-benar pulang malam ini. Libur kuliahnya cuma dikasih seminggu sama dosen, sebenarnya masih mau di sini sih kak, kapan lagi kan ke luar negeri" ucap adik bungsuku saat kami berjalan beriringan di area ruang tunggu. Aku hanya bisa tersenyum tipis sambil menahan sesak di dada. "Iya, enggak apa-apa. Kami belajar yang rajin yaa,
続きを読む