My Husband was a Cartel Boss

My Husband was a Cartel Boss

last updateLast Updated : 2026-06-10
By:  PeonylrsUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

(21+) Sebuah ledakan di Pelabuhan Busan mengubah hidup Traya Gayatri dalam semalam. Berniat mencari murid-murid TK-nya yang hilang dalam kondisi terluka, guru asal Indonesia itu justru salah melangkah masuk ke bunker rahasia milik Kim Muyeol (27) bos kartel kejam yang dijuluki ‘Iblis dari Barat’. ​Tak sengaja melihat apa yang seharusnya tidak boleh dilihat, Traya hanya diberi dua pilihan: keluar sebagai mayat, atau tinggal untuk dihancurkan. ​Malam itu juga, di atas yacht mewah di tengah pekatnya laut Busan, Muyeol merampas paksa kesucian Traya. Bukan karena cinta, melainkan sebuah dominasi mutlak agar gadis itu bungkam selamanya. ​Saat sang Iblis menolak untuk membunuhnya, sanggupkah Traya bertahan di dunia yang siap menelannya hidup-hidup?

View More

Chapter 1

Awal Takdir

Chapter 1

“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine." ucapnya dengan nada datar yang dingin.

Aku membeku ketakutan, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Menghadapi pilihan mematikan dari sang bos kartel dan menyadari diriku terperangkap di bunker bawah tanah yang mustahil kutembus, seluruh pertahanan mental yang kupunya runtuh sepenuhnya. Rasa pusing kembali menghantam kepalaku, pandanganku berputar kabur, hingga akhirnya kesadaranku habis total. Aku kembali jatuh pingsan di kursi tersebut, sepenuhnya berserah pada takdir di tangan pria asing yang mengerikan itu.

Namaku Traya Gayatri. Di usiaku yang baru menginjak 24 tahun, aku berhasil membangun kehidupan impian yang damai di Busan, Korea Selatan. Berbekal ijazah dari salah satu universitas ternama di sini melalui jalur beasiswa, passion mengajar membawaku menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah internasional bergengsi di kota pelabuhan ini. Aku sangat mencintai murid-muridku, dan mengira hidupku akan selalu tenang serta berjalan normal. Namun, seluruh kedamaian itu hancur lebur dalam satu malam kelam.

Aroma hangus yang menyengat, debu tebal yang menggelapkan pandangan, dan suara berdenging yang menyakitkan di telinga adalah hal pertama yang kusadari saat perlahan membuka mata. Kepalaku terasa pening. Aku terbatuk, merangkak di atas lantai beton yang dingin dan menyadari kemeja putih yang kukenakan sudah robek. Di beberapa bagian, dipenuhi debu hitam akibat ledakan truk kontainer di area pelabuhan saat acara field trip sekolah kami sore tadi.

"Minjun... Jia... where are you?" suaraku keluar bagai bisikan serak yang bergetar hebat. Aku memaksakan diri untuk berdiri. Jemariku mencengkeram dinding beton yang retak demi menahan tubuhku yang limbung. Rasa panik yang luar biasa mendadak mengalahkan rasa sakit di kepalaku, aku harus menemukan murid-muridku yang terpisah saat kepanikan melanda. Dengan mengumpulkan sisa tenaga yang ada, aku terhuyung-huyung mencari jalan keluar melalui lorong bawah tanah pelabuhan yang remang-remang. Hingga akhirnya, aku melihat sebuah pintu besi tebal di ujung koridor. Berharap itu adalah akses menuju dermaga utama, aku mendorong pintu tersebut dengan seluruh sisa tenagaku.

Ceklek. Pintu terbuka, dan langkahku langsung terhenti total.

Ini bukan jalan keluar umum. Ruangan di balik pintu itu sangat luas, dingin, kedap suara. Di tengah ruangan, seorang pria berusia sekitar 28 tahun sedang duduk dengan santai, namun sosoknya memancarkan aura dominasi yang sangat mengerikan. Wajahnya maskulin dan tampan, dengan rambut hitam yang ditata rapi dengan gaya slicked back. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam tanpa kaos, menampilkan otot perutnya yang kokoh dan dada kekarnya. Dia memadukannya dengan celana jeans biru dan sepasang boots khas Meksiko yang kokoh. Di hadapannya, terdapat beberapa tas taktis hitam berisi dokumen dan senjata api.

Di sekeliling pria itu, berdiri sekelompok pria berbadan kekar yang dipenuhi tato menyeramkan di bawah temaram lampu. Seketika, seluruh mata di ruangan itu tertuju padaku. Pertemuan penting mereka terinterupsi total oleh kedatanganku.

"Min... Minjun..." gumamku lirih, sebelum akhirnya pandanganku menggelap sepenuhnya akibat kelelahan dan syok yang luar biasa.

Saat aku tersadar kembali, aku mendapati diriku terduduk di sebuah kursi besi di dalam ruangan kecil yang asing. Tanganku tidak diikat, namun tubuhku terlalu lemas bahkan hanya untuk menggerakkan jari. Pemandangan pertama yang menyambutku adalah wajah seorang pria botak penuh tato yang menatapku dengan seringai menyeramkan.

"Who sent you, teacher? How could a foreign teacher know the shortcut to our port operational bunker right when the enemy faction attacked us with a bomb?" tanya pria botak itu sembari melemparkan kartu identitas guru milikku ke lantai dengan kasar.

"I... I swear... I don't know what you're talking about..." jawabku lemas. Air mataku luruh, rasa takut mencengkeram dadaku saat menyadari keningku kini sudah dibalut perban.

Saat pria botak itu hendak memukul meja untuk mengintimidasi diriku, pintu ruangan mendadak terbuka dengan hantaman keras.

Brak!

Langkah kaki dari boots Meksiko yang berat terdengar mendekat. Pria botak yang menginterogasi diriku seketika mundur tiga langkah, membungkuk sangat rendah dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Pria berjaket kulit hitam dengan rambut slicked back yang kulihat sebelumnya melangkah masuk. Dengan nada suara rendah, berat, dan penuh dominasi mutlak yang membuat bulu kudukku berdiri, pria itu berucap tegas, "Fuera."

Tanpa sepatah kata pun, pria botak itu bergegas keluar, meninggalkanku berdua saja dengan pria yang auranya begitu mematikan ini.

"An English teacher from Indonesia," ucap pria itu dalam bahasa Inggris yang fasih dengan aksen Spanyol-Meksiko yang kental. Jemarinya yang panjang memegang selembar kertas berisi profil lengkap diriku yang tampaknya telah dicari oleh bawahannya dari tas kerja milikku yang disita. Dari cara pria botak tadi tunduk padanya, aku tahu pria di hadapanku ini bukan sekadar anggota biasa—dia adalah pemimpin tertinggi dari kelompok ini.

"Don't hurt me... I just want to find my students..." ratapku lemas, menatapnya penuh permohonan.

Pria itu memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang dipenuhi ketakutan murni. "You entered the wrong room, Cariño," ucapnya dengan tatapan tajam yang mengunci seluruh pergerakanku. Aura pembunuh yang dipancarkannya begitu nyata menindas mentalku. Entah bagaimana nasibku nanti.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status