Bab 15 Pagi berikutnya, demam di tubuhku perlahan mulai menyurut. Meski kepalaku masih terasa sedikit berat saat digerakkan, setidaknya cengkeraman lemas di persendianku sudah jauh berkurang. Aku mendudukkan diri di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan langit Busan yang cerah, kontras dengan hatiku yang mendung. Pintu kamar yang besar mendadak terbuka setelah ketukan pelan terdengar dua kali. Aku tersentak, refleks menarik selimut untuk menutupi dadaku yang terekspos. Namun, yang melangkah masuk bukanlah Kim Muyeol, melainkan Bibi Jung. Wanita paruh baya itu melangkah masuk dengan senyum sopan namun kaku, membawa sebuah nampan berisi sarapan bubur hangat, segelas susu, dan beberapa butir obat di atasnya. Bibi Jung meletakkan nampan tersebut di atas nakas, lalu membungkuk hormat. "Selamat pagi Nona Traya. Silahkan makan sarapannya. Tuan Muyeol bilang setelah selesai, anda bisa ikuti saya ke lantai dua," ucapnya dengan bahasa Inggris yang
続きを読む