Arga memarkir mobil di depan apartemen Serena. Lampu lorong sudah menyala redup, hujan sore Jakarta masih turun tipis-tipis, membuat aspal mengkilap seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya neon kota. Ia naik lift dengan langkah cepat tapi tenang, jaket hitamnya masih basah di bahu. Setiap detik terasa berat, seperti beban yang tak kunjung lepas sejak Reno muncul kembali dalam hidup mereka.Serena sudah menunggu di depan pintu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi. Matanya agak bengkak—bukan karena menangis, Arga tahu itu lebih karena khawatir yang ditahan lama. Wanita itu berdiri dengan lengan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang datang dari dalam.“Masuk,” kata Serena pelan, suaranya hampir hilang ditelan hujan di luar.Ruangan apartemen terasa hangat dibandingkan udara malam di luar. Aroma kopi yang tadi dibuat Serena masih tersisa, manis dan pahit sekaligus. Arga melepas jaket dan meletakkannya di kursi. Ia tidak langsung duduk. Tubuhnya
더 보기