Roda pesawat menyentuh aspal dengan getaran kecil yang membuat Serena terbangun.Sejenak ia tidak tahu di mana ia berada — kepala yang terasa berat, jaket asing yang membungkus tubuhnya, dan bahu yang menjadi sandaran sejak entah kapan. Ia mendongak. Arga sedang menatap ke depan, seolah tidak menyadari apa-apa, tapi sudut bibirnya bergerak tipis."Sudah sampai," katanya, tanpa menoleh.Serena buru-buru duduk tegak, melepas jaket itu dari bahunya. "Kenapa tidak bangunkan saya?""Anda kelihatan capek sekali." Arga mengambil jaketnya kembali, melipatnya sederhana. "Lagi pula, masih ada waktu sebelum bertemu Pak Rahmat."Mereka turun bersama kerumunan penumpang lain. Udara Makassar menyergap begitu pintu pesawat terbuka — panas, lembap, berbeda jauh dari dinginnya kabin. Serena menarik napas dalam, mencoba menyesuaikan diri."Kita ke penginapan dulu," kata Arga, sudah berjalan ke arah pengambilan bagasi. "Taruh barang, lalu langsung bergerak. Pertemuan sore, tapi kita punya waktu pagi ini
اقرأ المزيد