Di dalam mobil, Hendra tidak banyak bicara."Kau tidak berubah." Ia memecah keheningan. "Selalu memutuskan sesuatu karena orang lain."Arga menatap jalan di luar jendela. Tidak menjawab."Saya tidak ada niat nyakitin kamu, Arga. Saya cuma ingin kamu balik."Hendra terkekeh pelan, memiringkan kepala sedikit. "Tempat kamu bukan di samping jurnalis yang bahkan nggak ngerti seberapa dalam dia sudah masuk.""Tempat yang saya pilih itu keputusan saya. Anda nggak berhak nentuin itu cuma karena menurut anda begitu."Arga kembali menatap jendela. Menghitung persimpangan, menandai arah. Semua tersimpan rapi di kepalanya, tanpa sedikit pun berubah di wajahnya.Tempat itu bukan gudang, bukan pabrik. Kompleks bangunan lama, mungkin bekas mess atau penginapan kecil. Tiga bangunan rendah mengelilingi halaman dalam yang gelap. Tidak ada plang, tidak ada lampu luar.Hendra masuk ke bangunan utama tanpa penjelasan. Arga mengikuti. Dalam dua puluh langkah pertama ia sudah menghitung: empat penjaga, dua
اقرأ المزيد