"Kita pulang," kata Jeremy.Dia menggendongku sepanjang jalan hingga tiba di rumah kontrakan yang kusewa di luar area kampus.Dia membaringkan tubuhku dengan lembut di atas ranjang, lalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan sebaskom air hangat. Sembari membawa selembar handuk kecil, dia menyeka bekas air mata di wajahku serta debu yang menempel di tubuhku secara perlahan.Gerakannya sangat hati-hati dan penuh kelembutan, seolah-olah dia sedang merawat sebuah barang antik yang tak ternilai harganya.Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menatap wajahnya dengan pandangan kosong.Bagi diriku, beralih dari neraka menuju surga hanya membutuhkan waktu singkat selama satu jam.Pria ini adalah juru selamatku.Setelah selesai membersihkan tubuhku, dia duduk di tepi ranjang, menggenggam tanganku yang dingin, lalu bertanya dengan suara lembut, "Sekarang, apa kamu bisa menceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"Menatap sepasang matanya yang memerah karena gurat darah, serta luka
더 보기