เข้าสู่ระบบNamun, pendirian Jeremy sangat teguh.Dia mengerahkan seluruh relasi dan jaringan yang dimilikinya. Dia menyewa pengacara terbaik, dan bersumpah akan membuat kedua bajingan itu membayar mahal atas perbuatan mereka."Aku nggak peduli siapa orang di belakangnya," ujarnya kepada pengacara melalui sambungan telepon di hadapanku. "Kasus ini nggak akan pernah berakhir dengan jalur damai. Aku cuma mau satu hasil, pastikan mereka membusuk di dalam penjara!"Melihat bagaimana dia sibuk ke sana kemari demi membelaku, menjadi tameng yang melindungiku dari badai, untuk pertama kalinya aku merasakan dengan sangat dalam apa yang disebut dengan rasa aman.Berkat kegigihan Jeremy, kasus ini pada akhirnya tidak berhasil diredam oleh pihak lawan.Soni dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, atas dakwaan percobaan pemerkosaan serta keterlibatan dalam tindakan pengancaman.Sementara Vino, atas tindakan pengancaman dan pemerasan yang dilakukannya, meskipun dia baru saja menginjak usia 18 tahun, namun karen
"Kita pulang," kata Jeremy.Dia menggendongku sepanjang jalan hingga tiba di rumah kontrakan yang kusewa di luar area kampus.Dia membaringkan tubuhku dengan lembut di atas ranjang, lalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan sebaskom air hangat. Sembari membawa selembar handuk kecil, dia menyeka bekas air mata di wajahku serta debu yang menempel di tubuhku secara perlahan.Gerakannya sangat hati-hati dan penuh kelembutan, seolah-olah dia sedang merawat sebuah barang antik yang tak ternilai harganya.Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menatap wajahnya dengan pandangan kosong.Bagi diriku, beralih dari neraka menuju surga hanya membutuhkan waktu singkat selama satu jam.Pria ini adalah juru selamatku.Setelah selesai membersihkan tubuhku, dia duduk di tepi ranjang, menggenggam tanganku yang dingin, lalu bertanya dengan suara lembut, "Sekarang, apa kamu bisa menceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"Menatap sepasang matanya yang memerah karena gurat darah, serta luka
Aku memejamkan mata dengan putus asa, dua aliran air mata mengalir perlahan menyusuri sudut mataku.Jeremy, maafkan aku. Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa menjaga kesetiaanku untukmu. Tepat di saat aku menyerah untuk melawan dan bersiap menyongsong takdir yang menghinakan ini, pintu studio tiba-tiba didobrak dengan keras dari luar!Brak! Terdengar suara dentuman yang sangat nyaring, disusul serpihan kayu yang beterbangan.Sesosok tubuh yang tinggi dan tegap tampak berdiri di ambang pintu membelakangi sorot cahaya.Dia masih mengenakan setelan jas yang rapi. Namun karena berlari, dasinya miring ke satu sisi dan anak rambut di dahinya tampak berantakan karena embusan angin.Meski begitu, wajah yang selalu kurindukan siang dan malam itu terlihat dengan sangat jelas.Dia adalah Jeremy!Bagaimana bisa dia berada di sini?Aku terpaku, begitu pula dengan Soni.Pandangan Jeremy menyapu seluruh sudut ruangan. Begitu melihat diriku yang dikunci pada dinding oleh Soni dengan pakaian yang aca
Aku berhati-hati saat memijak dahan pohon, lalu mengulurkan tangan untuk mendorong jendela.Jendela itu terbuka dengan sangat mudah.Aku melongokkan kepala ke dalam. Bagian dalam gedung tampak gelap gulita, tidak ada satu pun yang bisa kulihat dengan jelas."Di mana barangnya?" tanyaku menoleh ke arah Vino yang berada di bawah pohon."Tepat di atas meja di bawah jendela, sebuah map dokumen berwarna biru!" teriaknya dari bawah.Aku menarik napas dalam-dalam, mencengkeram ambang jendela dengan kedua tangan, lalu mengerahkan tenaga untuk menopang tubuh dan memanjat masuk.Tepat saat kedua kakiku menapak di lantai, terdengar suara "klik" dari arah belakang.Itu bukan suara ranjang kamera, melainkan ... suara pintu yang dikunci dari luar.Jantungku seketika mencelus. Aku tersentak dan langsung menoleh.Pintu studio entah sejak kapan sudah tertutup rapat.Sementara di ambang pintu, tampak sesosok bayangan manusia berdiri di sana.Orang itu bukan Vino.Melainkan orang lain.Seorang pria paruh
Orang itu adalah Vino.Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan mendekat.Mendengar suara langkah kaki, dia membalikkan tubuhnya. Begitu melihatku, dia mematikan rokok di tangannya."Kamu akhirnya datang juga," ujarnya dengan nada suara yang sangat tenang. Seolah-olah sudah menduga bahwa aku pasti akan datang."Mana fotonya?" tanyaku langsung pada inti masalah, suaraku agak bergetar karena gugup.Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menggoyang-goyangkannya di hadapanku. "Jangan buru-buru, Kak. Kita sudah lama nggak bertemu, kenapa nggak ngobrol dulu?""Nggak ada yang perlu kubicarakan denganmu. Hapus fotonya! Apa sebenarnya maumu?""Mauku?" Dia tertawa, melangkah maju mendekatiku perlahan-lahan. "Aku nggak mau apa-apa, aku cuma ... kangen sama Kakak."Dia berdiri tepat di depanku, mengulurkan tangan, lalu melepas masker yang kukenakan."Lihat, begini ‘kan jauh lebih baik." Dia mengamati wajahku dengan tatapan mata yang penuh obsesi. "Aku tetap lebih suka lihat wajah Ka
Setiap hari aku hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Aku tidak berani pergi bekerja, tidak berani keluar rumah, bahkan tidak berani mengangkat telepon dari nomor asing.Aku mengajukan izin cuti satu minggu lagi kepada kepala perawat dengan alasan kurang sehat.Kepala perawat sangat mengkhawatirkanku, bahkan sempat berkata ingin menjengukku ke asrama, tetapi aku langsung menolaknya dengan panik.Aku benar-benar mengurung diri dari dunia luar.Saat akhir pekan, Jeremy menelepon. Dia bertanya mengapa aku jarang membalas pesannya selama beberapa hari terakhir.Aku memaksakan diri untuk mengumpulkan energi, memberi tahunya bahwa akhir-akhir ini kondisiku sedang tidak fit dan butuh banyak istirahat."Kamu kenapa, Sayang? Sakitnya parah nggak? Apa aku ajukan cuti untuk pulang menjengukmu?" Di seberang telepon, nada suara Jeremy terdengar penuh kekhawatiran.Mendengar perhatian dari suaranya, air mataku hampir saja tumpah.Untuk sesaat, timbul gejolak impulsif dalam diriku untuk menceritakan s







