LOGIN"Ugh ... nggak, nggak ada apa-apa. Hah ... ah ...." Saat sedang melakukan panggilan video dengan pacarku, mahasiswa olahraga itu malah mendekat. Dia menyelinap dari sudut mati kamera, lalu meraba tubuhku dengan jarinya yang kasar. Dalam panggilan video, pacarku terengah-engah. Tatapan mesumnya tertuju langsung pada tubuhku yang pakaiannya sudah setengah terbuka. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran orang ketiga yang tak diundang ini. Ketika mahasiswa olahraga itu mulai membelai tempat paling sensitifku yang lembap dan hangat dari balik kain, aku tidak bisa menahan erangan yang lolos dari bibirku. Aku benar-benar kehilangan kendali. Terdengar tawa kecil pacarku dari seberang telepon. Sementara tangan yang menyusup di antara selangkanganku itu dapat merasakan basah yang menjalar.
View MoreNamun, pendirian Jeremy sangat teguh.Dia mengerahkan seluruh relasi dan jaringan yang dimilikinya. Dia menyewa pengacara terbaik, dan bersumpah akan membuat kedua bajingan itu membayar mahal atas perbuatan mereka."Aku nggak peduli siapa orang di belakangnya," ujarnya kepada pengacara melalui sambungan telepon di hadapanku. "Kasus ini nggak akan pernah berakhir dengan jalur damai. Aku cuma mau satu hasil, pastikan mereka membusuk di dalam penjara!"Melihat bagaimana dia sibuk ke sana kemari demi membelaku, menjadi tameng yang melindungiku dari badai, untuk pertama kalinya aku merasakan dengan sangat dalam apa yang disebut dengan rasa aman.Berkat kegigihan Jeremy, kasus ini pada akhirnya tidak berhasil diredam oleh pihak lawan.Soni dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, atas dakwaan percobaan pemerkosaan serta keterlibatan dalam tindakan pengancaman.Sementara Vino, atas tindakan pengancaman dan pemerasan yang dilakukannya, meskipun dia baru saja menginjak usia 18 tahun, namun karen
"Kita pulang," kata Jeremy.Dia menggendongku sepanjang jalan hingga tiba di rumah kontrakan yang kusewa di luar area kampus.Dia membaringkan tubuhku dengan lembut di atas ranjang, lalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan sebaskom air hangat. Sembari membawa selembar handuk kecil, dia menyeka bekas air mata di wajahku serta debu yang menempel di tubuhku secara perlahan.Gerakannya sangat hati-hati dan penuh kelembutan, seolah-olah dia sedang merawat sebuah barang antik yang tak ternilai harganya.Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menatap wajahnya dengan pandangan kosong.Bagi diriku, beralih dari neraka menuju surga hanya membutuhkan waktu singkat selama satu jam.Pria ini adalah juru selamatku.Setelah selesai membersihkan tubuhku, dia duduk di tepi ranjang, menggenggam tanganku yang dingin, lalu bertanya dengan suara lembut, "Sekarang, apa kamu bisa menceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"Menatap sepasang matanya yang memerah karena gurat darah, serta luka
Aku memejamkan mata dengan putus asa, dua aliran air mata mengalir perlahan menyusuri sudut mataku.Jeremy, maafkan aku. Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa menjaga kesetiaanku untukmu. Tepat di saat aku menyerah untuk melawan dan bersiap menyongsong takdir yang menghinakan ini, pintu studio tiba-tiba didobrak dengan keras dari luar!Brak! Terdengar suara dentuman yang sangat nyaring, disusul serpihan kayu yang beterbangan.Sesosok tubuh yang tinggi dan tegap tampak berdiri di ambang pintu membelakangi sorot cahaya.Dia masih mengenakan setelan jas yang rapi. Namun karena berlari, dasinya miring ke satu sisi dan anak rambut di dahinya tampak berantakan karena embusan angin.Meski begitu, wajah yang selalu kurindukan siang dan malam itu terlihat dengan sangat jelas.Dia adalah Jeremy!Bagaimana bisa dia berada di sini?Aku terpaku, begitu pula dengan Soni.Pandangan Jeremy menyapu seluruh sudut ruangan. Begitu melihat diriku yang dikunci pada dinding oleh Soni dengan pakaian yang aca
Aku berhati-hati saat memijak dahan pohon, lalu mengulurkan tangan untuk mendorong jendela.Jendela itu terbuka dengan sangat mudah.Aku melongokkan kepala ke dalam. Bagian dalam gedung tampak gelap gulita, tidak ada satu pun yang bisa kulihat dengan jelas."Di mana barangnya?" tanyaku menoleh ke arah Vino yang berada di bawah pohon."Tepat di atas meja di bawah jendela, sebuah map dokumen berwarna biru!" teriaknya dari bawah.Aku menarik napas dalam-dalam, mencengkeram ambang jendela dengan kedua tangan, lalu mengerahkan tenaga untuk menopang tubuh dan memanjat masuk.Tepat saat kedua kakiku menapak di lantai, terdengar suara "klik" dari arah belakang.Itu bukan suara ranjang kamera, melainkan ... suara pintu yang dikunci dari luar.Jantungku seketika mencelus. Aku tersentak dan langsung menoleh.Pintu studio entah sejak kapan sudah tertutup rapat.Sementara di ambang pintu, tampak sesosok bayangan manusia berdiri di sana.Orang itu bukan Vino.Melainkan orang lain.Seorang pria paruh
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.