Mayden perlahan melepaskan pelukannya, meski telapak tangannya sempat mengusap dadaku sekilas. "Pintu keluar darurat di ujung lorong ini terhubung langsung ke sekoci belakang. Ayo bergerak sebelum anak buah Hendra yang lain menyisir ke sini.""Mas Kipli, jangan lepasin tangan aku, ya?" bisik Kanya, jemari lenturnya merayap turun dari pinggangku dan menggenggam erat telapak tanganku yang masih terasa hangat oleh sisa energi batu giok."Nggak bakal saya lepasin, Mbak. Jalan di depan agak licin, hati-hati langkahnya," jawabku mantap, memimpin jalan sembari mendekap map biru berharga itu di balik sisa pakaian pelayanku yang basah.Kami bertiga bergerak cepat namun tanpa suara menembus lorong-lorong sempit di lambung kapal, berusaha secepat mungkin mencapai pintu buritan.Namun, baru saja kami berbelok di koridor terakhir dekat ruang mesin, suara derap langkah sepatu bot yang tergesa-gesa mendadak menggema dari arah depan."Sial, mereka menyisir jalur bawah! Sembunyi!" bisik Mayden cepat,
더 보기