Aku terkekeh rendah, mengusap punggung mulusnya yang masih dilapisi sisa keringat tipis."Ya kalau nggak sukses, kasur mewah Mbak Diva ini bisa ikutan robek kayak selimut di pojokan itu."Diva mendadak mendongakkan kepalanya.Mata sayunya yang tadi terlihat lemas pasca-pelepasan, kini perlahan mulai hidup kembali. Ada binar menantang yang mendadak muncul di sana, membuat milikku di bawah sana yang baru saja tertidur kembali berkedut sensitif."Tapi kamu pikir, satu ronde tadi udah cukup buat bikin seorang Diva Prameswari puas, hm?" tantang Diva, suaranya mendadak berubah menjadi serak basah yang teramat seksi.Aku tertegun, menatap wajahnya yang kini berjarak begitu dekat. "Maksudnya? Kita kan baru selesai, Mbak. Tubuh Mbak juga masih lemas begitu.""Lemas itu cuma bonus, Kipli," sahut Diva sambil terkekeh nakal.Dia tiba-tiba menggeser tubuhnya, bergerak lincah memutar posisi hingga kini dia kembali duduk tegak di atas perutku. Paha mulusnya menjepit pinggangku dengan ketat, membiark
Baca selengkapnya