FAZER LOGIN"Kipli, mulai malam ini, kamu resmi jadi pengawal pribadiku. Tugasmu menjagaku dua puluh empat jam... termasuk di dalam kamar." Menjadi pelindung Diva Prameswari, ratu film dewasa yang paling digilai sejagat raya, jelas impian semua pria. Tapi statusku yang cuma ojol dekil Bekasi, membuatku dihina dan direndahkan oleh orang-orang studio. Mereka tidak tahu saja, di balik jaket apekku, aku punya kekuatan rahasia yang tidak masuk akal. Ketika mantan pacarku memamerkan kekasih barunya yang kaya, aku justru melangkah masuk ke surga dunia yang penuh dendam. Dua pelayan seksi Diva pun mulai ikut memohon untuk menjamahnya. Sampai akhirnya, sang Diva sendiri yang berlutut di depanku dan berbisik, "Malam ini, pintunya jangan dikunci ya, Sayang..."
Ver mais"Ahhh... Emmhh... Terus, Mas... di situ... ahhh..." desahan Diva Prameswari yang serak itu terdengar nyata di telingaku.
Dia cuma pakai selembar handuk putih yang melilit longgar, pamer pundak mulusnya di bawah lampu kamar yang remang. Wangi melati dari kulitnya tercium, membuat kepalaku pusing karena gairah yang sudah di ubun-ubun.
"Ayo, Mas... jangan cuma dilihat aja. Katanya mau tahu apa yang di balik handuk ini?"
Tanganku baru saja mau menyentuh kulit halusnya. Sedikit lagi. Tinggal beberapa senti.
BRAKK!
"Kipli! Keluar kamu, monyet! Mau saya bakar kosan ini, hah?!"
Gedoran itu hampir bikin pintu yang sudah keropos dimakan rayap lepas dari engselnya.
Aku langsung loncat kaget. Nyawaku yang tadi masih di kasur bareng Diva rasanya ditarik paksa balik ke kenyataan. Napas memburu, keringat dingin keluar semua, dan yang paling kacau, 'tenda pramuka' di balik selimut lusuh ini masih berdiri tegak.
Sial! Aku baru bermimpi ketemu bidadari cantik. Kulitnya mulus banget, rambutnya masih basah habis mandi bareng, dan kita tinggal satu atap. Eh, malah harus bangun gara-gara gedoran pintu yang tidak ada otaknya.
Andai saja tadi mimpiku dikasih durasi lima menit lebih lama, sudah pasti 'si bunglon' bakal berpesta pora menikmati jatah dari artis film biru langganan imajinasiku itu. Tapi sialan betul bapak kos satu ini. Dia merusak momen puncak yang sudah di depan mata!
"Kipli! Buka pintu ini sekarang atau saya bongkar pakai linggis!"
Gedoran itu semakin parah. Debu dari plafon kamar kosku yang berjamur rontok sampai mengenai bantal. Aku mengusap wajah dengan kasar sambil berusaha mengusir bayangan Diva yang tadi sudah siap menyerah di bawah selimut imajinasiku. Brengsek. Si bunglon yang tadi sudah tegak lurus macam tiang bendera, mendadak lemas karena takut mendengar suara cempreng Pak Jaka.
"Aduhh, Pak Jaka! Sabar dulu, baru bangun ini!" teriakku sambil kelabakan cari celana.
"Sabar-sabar dengkulmu! Kamu pikir saya ini bank sosial? Cepat buka!"
Aku menggeser gerendel pintu dengan tangan gemetar. Begitu terbuka, wajah Pak Jaka yang seram langsung muncul di depan hidungku. Bau rokok kretek murah dari mulutnya menghancurkan sisa-sisa wangi melati Diva di ingatanku.
"Tiga hari lagi, Pli! Ingat, tiga hari!" Pak Jaka langsung menunjuk-nunjuk tepat di depan mataku.
"Iya, Pak, saya tahu. Tapi ini orderan lagi sepi banget, sumpah."
"Saya nggak mau tahu! Pokoknya kalau tiga kali dua puluh empat jam itu duit nggak ada, motor butut kamu saya kilokan!"
"Jangan motornya dong, Pak. Itu motor buat cari makan." Aku coba memelas, tapi ternyata respon Pak Jaka di luar ekspektasiku.
"Makanya cari duit, jangan cuma cari mimpi basah sampai selimut kamu bau pesing begitu!"
Langkah kaki berat Pak Jaka terdengar menjauh. Aku mengerang sambil mengusap wajah yang lengket. Sialan, rentenir itu benar-benar perusak suasana paling juara di Bekasi.
Drrtt... Drrtt...
"Apalagi sih? Nagih utang lewat telepon juga?" gumamku sambil ambil ponsel retak di lantai.
Begitu layar menyala, jantungku rasanya mau copot. Ada notifikasi pesanan masuk dengan angka yang bikin mataku mau keluar. Nominalnya tidak masuk akal, gede banget, cukup buat bayar setengah utang ke si Pak Jaka.
"Gila! Ini beneran? Apa sistemnya lagi error?"
Aku tidak pakai pikir panjang. Tanpa cuci muka, jaket ojol yang baunya sudah kayak kaus kaki basah langsung kusambar. Motor bebek tuaku sempat batuk-batuk sebentar sebelum akhirnya mau diajak jalan membelah angin malam yang lembap.
"Ayo, Bek! Jangan rewel sekarang, ini demi nyawa kamu juga!"
Aku pacu motor menembus jalanan Bekasi yang mulai sepi. Alamatnya aneh, di kawasan perumahan elit yang pagarnya saja lebih tinggi dari harga diriku. Di depan gerbang emas yang berkilau, duniaku rasanya berhenti.
"Selamat malam. Mas Ojol yang saya pesan tadi?" suara itu lembut tapi bikin kaget setengah mati. Aku ngerem mendadak sampai ban motor bunyi nyaring dan meninggalkan bekas hitam di aspal. Begitu aku tengok, mataku hampir keluar.
"M-mbak... Diva?"
Di sana, Diva Prameswari berdiri tegak. Dia bukan lagi foto di layar ponsel yang biasa aku pandangi tiap malam sebelum tidur. Dia nyata, cuma berjarak beberapa meter dariku. Pakai gaun malam hitam yang potongannya berani banget.
"Iya, aku sendiri. Kenapa? Kamu kayak habis lihat hantu aja." Mbak Diva tampak tenang, sedangkan aku... arghhh, aku malah grogi melihat artis idamanku di film dewasa biasanya, ternyata bukan fiktif.
"Eh, bukan hantu, Mbak. Ini... anu... aslinya jauh lebih... wow."
"Wow apa maksudnya? Kamu jangan ngelamun begitu, nanti nabrak pagar."
Aku tak menggubris ucapan Mbak Diva.
Bagaimana mataku bisa fokus ke jalan, kalau apa yang baru saja mampir di mimpiku kini benar-benar berdiri nyata, bernapas, dan hanya berjarak satu jangkauan tangan saja?
Rambut bondolnya yang hitam legam membingkai wajah tirus yang selama ini cuma bisa kusentuh lewat layar ponsel retakku. Matanya yang indah di balik bingkai kacamata, leher jenjang yang mulus, sampai kaki putih jenjang yang seolah bersinar di bawah lampu jalan, benar-benar definisi keindahan alam semesta yang dipadatkan jadi satu dalam wujud manusia.
Belum lagi gunung kembarnya yang, ahhh… ukurannya benar-benar tidak sopan bagi kesehatan jantung rakyat jelata sepertiku. Bentukannya yang padat itu seolah-olah ingin memberontak keluar dari kain gaun hitam yang tipis, seakan berteriak memanggilku untuk segera menjamah dan meremasnya sampai puas.
Namun, lamunanku tak bertahan lama ketika Diva melangkah semakin dekat ke arah motorku. Aroma tubuhnya yang mahal, campuran vanila dan bunga melati yang sangat sensual, langsung menyerang indra penciumanku, membuat saraf-saraf di kepalaku mendadak korslet seketika.
Aku menelan ludah susah payah, tenggorokan rasanya kering banget. Sial, 'si bunglon' di balik celana kainku ini malah makin jadi.
"Pesanan aku mana, Mas? Kok malah bengong?" Mbak Diva langsung menepuk bahuku.
"Oh! Ini, Mbak. Maaf, saya tadi agak... terpesona sedikit."
Diva tersenyum tipis, suaranya dingin tapi menggoda. Aku buru-buru buang muka ke arah stang motor, berusaha bayangin muka Pak Jaka supaya gairah ini turun. Tapi gagal total. Bayangan lekukan tubuh di balik gaun tipis itu jauh lebih kuat merusak pertahanan.
"Mas, mukanya kok merah banget? Habis dikejar setan atau memang lagi mikir yang aneh-aneh?"
"Nggak kok, Mbak. Ini cuma... gerah. Bekasi emang lagi panas banget malam ini, ya?" Aku coba mengalihkan perhatian, tapi respon Mbak Diva...
"Gerah atau karena lihat aku pakai baju begini? Jujur aja, aku nggak akan marah."
Baru saja aku mau menjawab, suasana langsung berubah tegang. Semak-semak di belakang Diva gerak-gerak kasar.
Srekk... Srekk...
"Siapa itu?!" teriak Diva sambil mundur ke arahku.
Muncul tiga pria bertato dengan badan segede kulkas dari kegelapan. Tatapan mereka ke Diva kayak serigala lapar yang ketemu daging segar.
"Wah, wah. Malam-malam begini ada tontonan bagus di depan gerbang."
"Ceweknya cakep bener, Bos. Bodinya itu lho, bikin nagih!"
"Ojolnya kita habisi saja, buang ke selokan. Ceweknya kita bawa, biar kita kasih pelayanan khusus."
Salah satu preman maju dengan seringai menjijikkan. Diva refleks mundur dan memegang pundakku erat. Tangannya yang gemetar itu bikin emosiku langsung naik.
"Mbak, mundur di belakang saya. Jangan jauh-jauh," bisikku.
"Tapi Mas, mereka banyak! Kamu mending kabur, cari bantuan!"
"Kabur? Dan ngebiarin aset— maksud saya, ngebiarin Mbak disentuh tangan kotor mereka? Nggak akan!" Aku sendiri kaget dengar suaraku yang tiba-tiba jadi berat. Ada dorongan aneh dari perut yang menjalar ke tangan dan kaki, rasanya kayak ada mesin turbo yang baru nyala di tubuh krempengku ini.
"Heh, Ojol dekil! Mau jadi pahlawan kesiangan kamu? Sini, biar saya pecahin kepala kamu!"
Dia membuka pintu ruang istirahat, menuntunku keluar melewati koridor studio yang sepi menuju area parkir mobil sport merahnya di luar gedung.Di sana, Mayden dan Sora sudah berdiri menunggu di dekat mobil. Begitu melihat aku keluar mengekor di belakang Diva dengan muka merah padam dan kemeja acak-acakan, sepasang pelayan itu langsung saling lirik sambil tersenyum nakal. Mereka seolah tahu persis apa yang akan terjadi kalau Diva sudah turun tangan langsung."Tadi Mbak bilang tugas? Memangnya tugas apa, Mbak? Saya harus belajar baca naskah dulu atau gimana?" tanya aku polos."Naskah itu urusan belakangan, Kipli. Yang paling penting sekarang adalah melatih insting dan... ketahanan tubuh kamu," sahut Diva.Diva menarik tanganku menuju mobil sport merahnya. Kami melesat kembali menembus jalanan menuju rumah mewahnya. Duniaku rasanya berputar begitu cepat. Dari tukang antar barang, sekarang jadi murid pribadi sang dewi film dewasa.Begitu sampai di dalam kamar mewahnya yang luas, Diva lang
"Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringan kena panas Bekasi.""Jangan banyak alasan. Cepat keluarin."Dengan tangan gemetar, aku merogoh saku celana kainku. Begitu ponsel Android butut itu berpindah tangan, Diva langsung menekan tombol power untuk menyalakan layarnya.Detik itu juga, duniaku rasanya runtuh. Aku lupa satu detail paling krusial dalam hidupku.Mata Diva membelalak. Di layar kunci ponsel kentangku, terpampang foto syur Diva dalam balutan bikini merah hasil screenshot dari salah satu cuplikan filmnya, lengkap dengan jam dinding digital yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Itu wallpaper legendaris yang menemaniku setiap malam di kamar kosan."Oh... jadi ini alasan kamu kebelet ke kamar mandi tadi?" Diva menaikkan seb
Aku mengenali setiap inci sudut ruangan itu dengan sangat detail di luar kepala. Ada sofa kulit hitam yang legendaris di bagian tengah, pencahayaan remang-remang dari lampu sorot atas, hingga vas bunga buatan di sudut ruangan yang posisinya tidak pernah berubah.Ini adalah set syuting film dewasa miliknya yang selama ini kutonton berulang kali di kamar kos gelapku sampai layar ponsel retakku buram dan panas.Rasa senang yang meluap karena bisa bertemu sang idola di tempat aslinya kini bercampur aduk dengan rasa bersalah. Aku sadar betul sudah membayangkan hal-hal ekstrem tentang Diva di atas sofa hitam itu."Kipli, jangan cuma melongo. Ayo ikut aku," perintah Diva sambil menarik tanganku menuju kerumunan orang di tengah studio."Semuanya berhenti! Aku bawa orang spesial hari ini!" teriak Diva. Seluruh kru kamera langsung menoleh ke arah kami."Siapa dia, Diva?" sahut seorang pria tua dengan kacamata tebal dan muka sinis yang berdiri di balik monitor."Namanya Kipli. Dan dia adalah cal
"Mas Kipli... jantungnya kenapa detaknya kencang banget?" tanya Sora tiba-tiba. Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan mata bulatnya yang polos."Ya... gimana nggak kencang, Mbak Sora. Posisi Mbak dekat banget begini, terus baju Mbak itu... kurang bahan di samping," jawabku jujur, membuat batin ojolku menjerit frustrasi.Mendengar jawabanku, Sora langsung tersentak. Dia melihat arah pandangan mataku, lalu refleks menutupi bagian samping tubuhnya dengan kedua tangan, membuat kotak rias di meja hampir tersenggol."Ah! Mas Kipli mesum!" pekik Sora pelan dengan nada panik, tapi dia tidak menjauh. Dia malah menggigit bibir bawahnya sambil menatapku dengan binar mata malu-malu yang sangat dalam. "Ini... ini memang seragam kerja dari Mbak Diva. Jangan dilihatin terus dong, aku jadi makin gugup...""Maaf, Mbak. Mata saya memang sering blong kalau lihat yang bening-bening begini," kataku mencoba mencairkan suasana dengan candaan pangkalan.Sora tidak membalas makian. Dia malah


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.