Sementara mobil yang membawa Lexi dan Tasya melaju menjauh membelah kabut Prigen, gerbang kayu vila Private Sanctuary kembali menutup rapat, mengunci segala bentuk kekacauan fisik yang baru saja terjadi di halaman depan.Bramantya membalikkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam rumah utama dengan napas yang mulai teratur. Ia mengabaikan noda tanah dan bercak darah di kemeja putih mewahnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: kondisi wanita yang berada di lantai dua.Bram melangkah lebar menaiki anak tangga, lalu mengetuk pintu kamar Angel dengan ritme yang teratur dan lembut."Angel? Ini saya. Lexi sudah pergi."CEKLEK.Pintu terbuka lambat, menampilkan sosok Angel yang bersandar lemas pada kusen pintu. Wajah cantiknya tampak begitu pucat, bertolak belakang dengan keangkuhan yang biasa ia tunjukkan di depan musuh-musuhnya. Sepasang matanya yang sembap menyiratkan duka yang pekat."Kamu terluka, Bram?" bisik Angel parau, matanya menatap sudut bibir Bramantya yang robek akibat pukula
Magbasa pa