Di dalam kamar presidential suite yang kini terasa kosong, tangis Clarissa langsung mereda begitu pintu tertutup.Rasa tersinggungnya kini mengkristal menjadi kepanikan yang luar biasa. Ia tahu, jika Lexi sudah mulai menjaga jarak secara fisik dan menolak kendalinya, itu adalah alarm bahaya bahwa ingatan pria itu sedang berada di ambang pintu untuk kembali.Dengan tangan gemetar, Clarissa mengabaikan Viona yang sedang sibuk di luar, dan memilih untuk langsung menghubungi sang otoritas tertinggi, Abraham Permana.Telepon berdering tiga kali sebelum suara berat dan berwibawa milik Abraham menyahut di seberang sana."Halo, Clarissa. Bagaimana situasi di Surabaya? Viona sudah mendarat, bukan?""Om Abraham...," Clarissa terisak, sengaja mendramatisasi suaranya agar terdengar sebagai pihak yang paling tidak berdaya. "Lexi, Om..., Lexi sudah benar-benar tidak bisa dikontrol lagi!"Mendengar nada suara Clarissa yang histeris, Abraham di ruang kerjanya di Jakarta langsung menegakkan punggung.
Read more