LOGIN"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biayamu hidup seumur hidup!” Awalnya Lexi berpikir, tugasnya sangat mudah, selesai menghamili Sang Nyonya, dia akan pergi dari rumah majikan sialannya, lalu menikmati hidup dengan uang yang diberikan Baron. Tapi, siapa sangka, saat Lexi berhasil melakukan tugasnya, dia benar-benar dibuat terkejut. "Nyo-Nyonya, kok ada darah di seprei? Jangan-jangan Nyonya masih perawan?" Yang semula hanya sebatas bersenang-senang, berubah menjadi rasa bersalah. Dan lagi, identitas Lexi sendiri tidak semudah yang dipikirkan orang lain.
View More"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.
Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke belakang. Di belakangnya, majikan yang juga tak kalah tampan, dan gagahnya sedang berdiri sembari berkacak pinggang. “Bentar, tadi Tuan bilang apa?” Lexi hanya ingin meyakinkan diri, kalau telinganya barusan tidak bermasalah. "Lexi, udah buruan, sini kamu!" panggil Baron lagi, pria berusia tiga puluh dua tahun dengan rambut klimis dan setelan jas necis bermerek terkenal, sedang berdiri di undakan teras sembari berkacak pinggang. Wajah Baron terlihat tegang, belum lagi kedua mata Baron yang bergerak ke kanan dan ke kiri, mirip seperti maling yang takut ketahuan, padahal dia hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada Lexi. Lexi mematikan keran air, lalu menyampirkan kain kanebo di pundaknya, lalu berjalan mendekat dengan langkah santai yang sengaja dibuat agak membungkuk demi menghormati sang majikan. "Ya, Tuan Baron. Ada yang bisa saya bantu? Mau diantarkan ke kantor sekarang?" Baron tidak langsung menjawab. Dia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar Lexi mengikutinya ke dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara. Begitu pintu kayu jati solid itu tertutup rapat, Baron berjalan mondar-mandir di depan mejanya, persis seperti seterikaan. "Tuan, udah belum mondar-mandirnya? Saya pusing lihat Tuan kayak begitu," seloroh Lexi. "Ehem, jadi begini, Lexi, kau sudah bekerja sebagai supir pribadiku dan Angel selama tiga tahun, kan?" Baron membuka suara, nadanya mendadak melunak, tidak sekaku biasanya. "Benar, Tuan. Tiga tahun kurang dua bulan kayaknya," jawab Lexi sopan, meskipun dalam hati dia sudah mulai menebak-nebak drama apa lagi yang akan disuguhkan oleh bosnya yang agak kurang waras ini. Baron menghela napas panjang, lalu menatap Lexi dengan tatapan yang sangat serius. “Jadi saya mau minta bantuan kamu, supaya kamu bisa menghamili istri saya, gimana?” ulang Baron atas permintaan sebelumnya. Deg! Lexi melebarkan matanya. Pikirannya mendadak macet selama tiga detik. Dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, memastikan bahwa telinganya benar-benar tidak salah mendengarkan kalimat barusan. Hamilin? Menghamili Nyonya Angel? Perempuan galak yang hobi ngomel itu? Perempuan galak yang suka menampar mukanya seenak jidat setiap kali dia berbuat kesalahan? Idih ..., amit-amit jabang babi! Dalam hati, Lexi langsung membayangkan wajah Angel. Harus diakui, Nyonya mudanya itu luar biasa cantik. Tubuhnya seksi, montok di beberapa bagian tertentu, kulitnya juga putih bersih, wajahnya secantik artis Korea yang sering wara-wiri di drama televisi. Tapi masalahnya, sifatnya sama sekali tidak ada manis-manisnya. Angel adalah definisi nyata dari wanita bawel, arogan, dan menyebalkan. Setiap kali berada di dalam mobil, ada saja yang didebatkan. Mulai dari suhu AC yang kurang dingin satu derajat, aroma parfum mobil yang dianggap murahan, sampai cara menyetir Lexi yang dianggap kurang profesional bak pembalap F1. Menghadapi omelannya setiap hari saja sudah menguras energi, sekarang suaminya malah meminta Lexi untuk menghamilinya? Belum ditusuk, bisa-bisa dia yang dibunuh duluan! "Tuan... Anda tidak sedang bercanda, kan?" Lexi pura-pura gemetar, memasang wajah ketakutan layaknya rakyat jelata yang sedang diberi tugas mustahil oleh raja. "Nyonya Angel itu istri Anda. Empat tahun menikah, kenapa justru saya yang disuruh hamilin Nyonya?" kata Lexi lagi. Baron berdecak kesal, merasa gengsinya terusik. Dia duduk di kursi kebesarannya, lalu melonggarkan dasinya. "Kau tidak perlu tahu alasannya! Yang jelas, kakekku memberikan syarat, untuk memperoleh seluruh harta warisan. Harus ada anak dalam waktu satu tahun ini, atau seluruh aset Van Holden akan jatuh ke tangan sepupuku yang brengsek itu. Aku... aku sedang ada sedikit masalah medis yang rumit. Jadi, aku butuh bantuanmu," jelas Baron pada Lexi. Lexi menahan senyum sekuat tenaga. Masalah medis rumit? 'Bilang saja kau mandul atau tidak bisa berdiri anu-mu di depan istrimu sendiri, Baron' batin Lexi geli. Selama tiga tahun bekerja di sini, Lexi tahu betul kalau Baron tidak pernah menyentuh Angel. Mereka tidur di kamar terpisah. Terkadang Lexi heran, pria mana yang tahan mengabaikan wanita seksi seperti Angel selama empat tahun? Ternyata ini jawabannya. Baron frustrasi karena ego dan masalah kesuburannya, ditambah tekanan warisan. Ok, sebagian hanya tebakan Lexi doang ya. "Tapi Tuan, Nyonya Angel pasti akan menolak. Anda tahu sendiri bagaimana sifat Nyonya kepada saya. Dia menganggap saya ini seperti debu di bawah keset," ujar Lexi, sengaja merendah untuk memancing reaksi Baron. "Aku yang akan mengaturnya. Angel sudah setuju karena dia juga tidak mau jatuh miskin kalau sampai warisan itu melayang," kata Baron dengan percaya diri, meskipun nadanya agak getir. "Bagaimana? Ini uang yang sangat banyak, Lexi. Kau kan miskin, dapat uang segitu banyak, hidupmu bisa berubah total. Masa kau mau jadi kacung seumur hidup?" bujuk Baron persis macam setan yang sedang membujuk manusia untuk berbuat dosa. Lexi terdiam sejenak. Otak encernya kini berputar cepat. Ini adalah kesempatan emas untuk bersenang-senang dan mencari hiburan di tengah kepenatan hidupnya. Dia tidak punya dendam pribadi pada Baron, tapi melihat kebodohan pria ini, Lexi merasa sayang jika tidak memanfaatkannya. Terlebih lagi, Angel yang sombong itu butuh sedikit pelajaran agar tidak terus-menerus mengomelinya seenak jidat. Masalahnya, ada saja kesalahan Lexi kalau sudah berhadapan dengan Nyonya Muda nan seksi itu. "Baik, Tuan. Saya terima tawarannya," ucap Lexi dengan senyum polos yang menipu, lalu menambahkan, "Tapi, saya punya satu syarat tambahan." Baron mengernyitkan alis. "Syarat? Heh, kau ini supir, lho. Masa kau berani mengajukan syarat sama majikanmu ini, Lex?" "Tentu saja saya berani, Tuan. Masalahnya ini menyangkut harkat, martabat, dan harga diri saya sebagai seorang laki-laki miskin. Belum lagi, buat menghamili Nyonya memerlukan tenaga yang cukup besar," sahut Lexi dengan santai. "Saya mau hubungan ini bukan hubungan kayak jual putus, Tuan," lanjut Lexi lagi. "Maksudmu, apa?" Baron mengerutkan kening, bingung apa yang dimaksud Lexi barusan. "Ok, saya jelasin, bagaimana kalau Tuan mengijinkan saya menjadi simpanan tetap Nyonya Angel? Proses membuat anak itu, bukan sekali tembak langsung jadi, Tuan. Butuh proses berkali-kali, saya nggak mau kesannya saya dimanfaatkan, jadi saya juga butuh status," jelas Lexi panjang lebar. Baron melotot, namun sedetik kemudian dia malah tertawa meremehkan, "Simpanan? Maksudmu itu, kau mau jadi selingkuhan istriku? Hahaha! Silakan saja kalau kau tahan dengan mulutnya mirip petasan mercon! Lagipula, setelah anak itu lahir, posisi hukumnya tetap anakku. Kau tidak akan punya hak apa-apa atas dia atau Angel. Jadi simpanan saja sana sepuasmu, aku tidak peduli. Yang penting aku dapat ahli waris!" "Ok lah, kalau begitu kesepakatan tercapai, Tuan," ujar Lexi sambil membungkuk hormat."Apa maksud pertanyaanmu itu?" tanya Angel, mencoba menyembunyikan getaran gugup di dalam suaranya.Tasya tidak langsung menjawab. Dia justru menarik punggungnya ke sandaran kursi, lalu menopang dagunya dengan satu tangan sambil melempar senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan di mata Angel."Maksudku? Ya, sederhana saja, Sis," ujar Tasya dengan nada santai, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti hantaman telak yang sangat tepat pada sasarannya."Sebagai seorang supir pribadi, hubungan kalian itu rasanya terlalu dekat. Dekat sekali, malah. Sampai-sampai bisa pergi ke hotel mewah berdua seperti minggu lalu."Deg!Jantung Angel seketika melewatkan satu detak. Wajah cantiknya yang tadi sempat sedikit rileks kini kembali berubah menjadi agak pucat."Lagipula, aku tahu siapa kamu," lanjut Tasya lagi, sengaja memajukan kembali tubuhnya untuk memberikan tekanan mental yang lebih dalam."Kamu itu Angel, istri sah dari pengusaha logistik besar Baron Van Holden. J
Angel memicingkan kedua matanya, menatap lekat-lekat pada sosok Tasya Permana yang sedang sibuk memegangi tangan salah satu anak kembarnya. Ingatannya berputar cepat ke kejadian minggu lalu di lobi hotel mewah."Kok bisa bareng-bareng sama Viona dan Abraham Permana?" gumam Angel lirih.Napas Angel mendadak memburu pendek. Sebuah pikiran gila mulai merayap di benaknya.Jika wanita yang diklaim Lexi sebagai anak majikannya itu ternyata adalah bagian dari keluarga konglomerat nomor satu di Indonesia, itu artinya Lexi bekerja dengan Keluarga Permana? Di seberang ruangan, rombongan keluarga besar Permana berjalan menuju meja sirkular besar yang sudah dipesan khusus di area VIP tengah.Pelayan restoran membungkuk, menyambut mereka seolah-olah bumi baru saja kedatangan para dewa.Abraham duduk di kursi utama dengan santai tapi tidak kehilangan kewibaannya sama sekali, sementara Viona dan Tasya mengambil posisi di sisi kanan dan kirinya bersama keluarga kecil mereka."Apa mungkin Lexi sebet
"Ke kompleks apartemen The Grand Horizon Residence di Jakarta Pusat, Pak," perintah Lexi pada supir taksi.Supir taksi itu sempat melirik dari kaca spion tengah, menatap penampilan Lexi yang hanya mengenakan kaos hitam kasual dan jaket kulit, namun membawa sebuah koper besar.Di kalangan supir taksi Jakarta, semua orang tahu kalau kompleks hunian vertikal yang disebutkan Lexi adalah kawasan Penthouse paling elit dan super ketat, tempat di mana para konglomerat dan ekspatriat papan atas tinggal."Baik, Mas," sahut supir taksi itu patuh, perlahan menginjak gas membelah jalanan raya.Lexi menyandarkan punggung tegapnya ke kursi penumpang taksi. Dia menatap ke luar jendela, melihat pagar besi tinggi kediaman Keluarga Van Holden yang perlahan semakin menjauh dan mengecil dari pandangannya.Rasa sesak dan muak yang sempat menghimpit rongga dadanya sejak pagi tadi kini perlahan menguap, berganti dengan perasaan bebas yang luar biasa plong.Tiga tahun berada dalam pusaran drama pasangan suami
"Hari ini juga saya akan keluar dari rumah ini, saya akan pamit dengan suami Nyonya," kata Lexi, lalu melangkah melewati Angel begitu saja tanpa mengijinkan wanita itu mengeluarkan kata-kata.Mendengar keputusan yang begitu mendadak keluar dari mulut supir pribadinya, sepasang mata bulat Angel seketika melebar sempurna.Langkah kakinya terpaku di atas lantai selama beberapa detik. Ada rasa terkejut yang teramat sangat besar menghantam dadanya, melumpuhkan seluruh keangkuhan yang baru saja dia pamerkan di depan Baron."L-Lexi ... kamu bicara apa?" pekik Angel lirih, suaranya bergetar menahan kepanikan yang mendadak menyerang seluruh kesadarannya.Namun, Lexi sama sekali tidak memedulikan pertanyaan Nyonya mudanya. Pria jangkung itu melangkah melewati tubuh Angel begitu saja tanpa memberikan respon sama sekali.Menyadari Lexi benar-benar serius dengan ucapannya, Angel pun melunak.Tanpa memedulikan Baron yang mungkin masih berdiri lemas di tepi kolam renang, Angel langsung memutar tubuh
Pria itu benar-benar sudah gelap mata. Kehilangan akal sehat akibat harga dirinya yang terus diinjak-injak di depan Luna, Baron refleks mengangkat satu tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, bersiap melayangkan tamparan keras ke arah wajah cantik Angel.Angel spontan memejamkan kedua matanya erat-
Mendengar nama Chris disebut, Baron langsung mengetatkan rahangnya. Ketegangan langsung merayap di dalam ruangan, kenyamanan yang dia rasakan bersama Luna tadi langsung menguap begitu saja. Chris—atau Christian Van Holden—adalah sepupu kandungnya yang paling arogan, sekaligus serigala kelaparan ya
"Emang kalian mau kalau saya ajak main berempat?" tanya Lexi dengan seringai smirk andalannya, menatap ketiga gadis itu satu per satu dengan pandangan yang teramat sangat lapar.Ketiga gadis nakal itu langsung saling lirik, lalu tertawa cekikikan melihat kepedean tingkat dewa dari supir pribadi di
Suasana di seberang telepon mendadak hening seketika. Sunyi senyap selama hampir lima detik penuh. Lexi bahkan sampai harus mengecek layar ponselnya untuk memastikan apakah panggilannya terputus atau tidak. "Semprul, Lexi! Kau benar-benar melakukannya?!" teriak Abraham dari telepon, suaranya pun






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore