Rangga tersenyum lebar, meletakkan ransel hitamnya di sudut ruangan lalu berjalan mendekat. Ia berjongkok tepat di depan putranya. "A'im belum ngantuk? Ini sudah malam, lho.""Belum. A'im mau bobok cama Papa," sahut Ibrahim langsung memeluk leher Rangga dengan manja."Iya, sebentar lagi kita tidur sama-sama, ya," jawab Rangga lembut, mengusap kepala putranya sebelum bangkit berdiri. Ia menghampiri ranjang perawatan. Wajah di balik cadar itu masih tampak pucat, dengan kelopak mata yang mulai layu menahan kantuk."Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Rangga menatap mantan istrinya."Sudah jauh lebih baik, Mas. Barusan aku minum obat, makanya sekarang mataku sangat ngantuk. Aku titip Ibrahim."Rangga tersenyum. "Kenapa harus titip, dia juga anakku. Kamu istirahat saja. Nanti aku yang nidurin A'im. Setelah dia terlelap, aku akan tidur di kursi luar," ujar Rangga."Jangan, Mas. Di luar hawanya sangat dingin. Tidur saja di extra bed bersama A'im. Biar Siti nanti yang tidur di sofa panjang
Read more