Siang itu, kebahagiaan tidak luntur begitu saja dari ruangan rawat Papa Gino. Pasalnya, setelah kepergian Tama dan Aina lalu, selang 1 jam, pintu ruangan terbuka kembali. Mike datang membuka pintu pelan. Semua orang menatap, termasuk Alena yang baru saja keluar dari kamar mandi. Beberapa hari ia mendapat cuti, karena memang Danu belum kembali dari Korea. Belum ada project besar yang merekrutnya.Mike terdiam, tiba-tiba tersenyum kuda, membuat Papa dan Mamanya bertanya-tanya. Padahal, biasanya anak terkenal dingin melebihi kulkas sepuluh pintu."Ngapain kek patung di situ, Mike?! Kakimu kram?" celetuk Mama Lusy yang melirik sekilas.Namun dari celah pintu, samar-samar Alena melihat siluet badan wanita. Mata Alena memicing, ia melangkah pelan, dan berhenti di tengah-tengah ruangan."Kak Mike bawa siapa?""Em... Kakak, Kakak bawa temen," katanya. "Temen deket maksudnya," lanjut Mike. Kemustahilan itu membuat Mama Lusy bangkit. Matanya terbuk
Magbasa pa