Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak seseorang. "Maaf, Kak," ucap Alena refleks melangkah mundur. Kakak Iparnya itu tepat ada di belakang tubuhnya. Aston sudah rapi dengan kemeja hitam, celana mengkilat, serta jas Dokter yang ia sampirkan pada lengannya. Di tengah rasa cemas dan canggung, Alena mencoba bersikap senormal mungkin. Ia menundukkan kepala demi menghindari kotak mata dengan Aston. Aston berdehem tipis. Tatapanya menyapu wajah Alena sekilas, lalu kembali datar. "Alena... Hari ini teknisi Ac akan datang. Nanti tolong arahkan mereka ke kamar saya." Alena terkesiap. Dia mengangkat pandanganya perlahan, lalu mengangguk kecil. "Baik, Kak...." Aston hanya meliriknya sekilas, lalu melenggang pergi menuju mobilnya. Aura di
Read more