Malam itu, keheningan di area luar gereja agung terasa mencekam. Seraphina melangkah dalam kesunyian. Di dalam kepalanya, sebuah suara bergaung berat, kuno, dan dingin. Itu adalah suara yang amat ia kenali. Suara itu tidak memerintah, melainkan menarik kesadarannya seperti benang tak terlihat, menuntun langkah kakinya menjauh dari kamar tamu di Istana Gereja, melewati koridor-koridor sepi, hingga tiba di area paling pojok kompleks keuskupan. Sebuah bangunan gereja tua yang terbengkalai dan diselimuti lumut tegak berdiri di sana, terisolasi dari kemegahan lainnya. “Di sinilah… tempatnya.”Seraphina menelan ludah gugup, mata abu keperakannya bergerak gelisah. Sementara itu, Kael, sang Komandan Ksatria Suci, sedang melakukan patroli malam. Langkahnya terhenti saat menangkap siluet gaun putih yang melintas cepat di bawah temaram rembulan. Itu Seraphina. Ada yang aneh dengan cara jalan sang Saintess, terlalu kaku, seolah jiwanya sedang tidak berada di tubuhnya. Khawatir terjadi sesuatu, K
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-05 อ่านเพิ่มเติม