LOGINTiga hari setelah dihukum mati sebagai saintess palsu, seorang wanita justru membuka mata di tubuh Seraphina Vale. Seluruh kerajaan menginginkan kematiannya. Namun sesuatu yang mustahil terjadi. Monster-monster abyss tidak menyerangnya. Mereka justru berlutut di hadapannya. Saat semua orang percaya para Dewa akan menyelamatkan umat manusia, hanya dia yang mulai melihat kenyataan mengerikan: monster sesungguhnya mungkin bukan berasal dari abyss... melainkan dari singgasana para Dewa sendiri.
View More“Saintess yang Seharusnya Mati”
.
.
.
Seraphina Vale membuka mata.
Gelap.
Sempit.
Ia kesulitan bernapas. Jemarinya menyentuh kayu dingin di atas kepalanya, tertegun sejenak. Lalu ia mendorongnya sekuat tenaga.
CREEAK....
Cahaya putih langsung menusuk matanya. Aroma bunga krisan menusuk hidung, ketika penglihatannya mulai jelas... ia menyadari satu hal.
Dirinya baru saja keluar dari di dalam peti mati.
Suara doa menggema di seluruh Katedral. Aroma dupa dan bunga krisan memenuhi udara, sementara lonceng gereja terus berdentang mengiringi pemakaman.
Dari dalam peti mati, sosok yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya perlahan bangkit. Ia terduduk diam di tepi peti mati, menatap sekitar dengan sepasang iris abu keperakan yang jernih.
Semua orang sedang berlutut.
Lalu di depan altar—ada peti mati, dan dirinya.
Seraphina menatap kosong ke arah nama yang tertulis di atasnya.
«SERAPHINA VALE»
«”Di sini terkubur sang saintess palsu yang menodai Langit.”»
“…Hah?” Suara seraknya nyaris tidak terdengar. Napasnya berubah pendek, darahnya berdesir bersama jantung bergemuruh dan tubuh menegang.
"...Itu namaku?" bisiknya pelan.
DUM!
Pintu katedral terbuka.
Puluhan pendeta langsung menundukkan kepala lebih rendah. Seseorang masuk dengan langkah berat dan teratur. Armor hitam berlapis silver. Tatapan emas dingin, dan pedang panjang di pinggangnya. Suara armor besinya menjadi satu-satunya hal yang terdengar di aula. Menggema di tengah keheningan usai pendeta menjeda doa bersama. Sorot mata dingin dan datar itu mengarah pada Seraphina.
"Komandan..." bisik seseorang dengan suara gemetar.
Para pendeta sebelumnya kini mengalihkan pandangan dari sang komandan, kembali ke altar.
Untuk sesaat—seluruh aula menjadi sunyi. Semua menahan napas ketika melihat sosok wanita di depan altar.
“…Saintess?”
Nada suara seorang pendeta bergetar, karena wanita yang seharusnya mati tiga hari lalu… sedang terduduk diam di pinggir peti matinya sendiri.
Panik seketika pecah ruah.
“Mustahil—!”
“Saintess hidup kembali?!”
“Itu mukjizat!”
Mereka mulai berlutut lebih rendah, berdoa lebih keras, menangis penuh harapan. Dan di tengah semua itu—Seraphina hanya menatap tangannya sendiri yang gemetar.
Belum sempat kebingungannya terjawab. Detik berikutnya ia merasakan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Seperti dihantam berulang kali, seakan ingin memecahkan kepalanya. Lalu sebersit ingatan asing membanjiri pikirannya sekaligus.
Darah di lantai marmer.
Seorang perempuan menangis pilu—ingatan dari pemilik tubuh ini.
Namun sebelum dia sempat berpikir lebih jauh—sesuatu berbisik di telinganya. Lembut. Terlalu dekat. Seakan tepat di samping telinganya.
“Jangan percaya mereka.”
Seraphina membeku.
Suara itu terdengar aneh, bukan seperti satu orang. Lebih seperti… ratusan suara yang berbicara bersamaan. Berdengung namun sangat jelas di telinga.
CRACK.
Semua lilin di aula padam bersamaan. Ruangan langsung gelap. Jeritan panik terdengar dari segala arah. Beberapa pendeta terdengar memberi perintah. Menyuruh siapapun untuk menyibak tirai jendela atau mencari penerangan secepatnya. Komandan Holy Knight terlihat tenang dan Seraphina masih membeku di tempat.
Lalu—sesuatu mulai bergerak di balik bayangan altar. Suara daging merayap. Napas berat diikuti geraman hewan buas, dan mata-mata hitam mulai terbuka satu per satu dari kegelapan. Sosok yang tidak pernah disangka kemunculannya di tempat suci ini.
"Tidak... mungkin?!"
"I-Itu?!"
Kemunculan mendadak itu membuat para pendeta berteriak ketakutan. Bayangan gelap merayap melalui bawah peti mati, lalu merambat hingga ke dinding dan mendekati para pendeta. Belasan dari mereka mundur terseok-seok, raut wajahnya pucat pasi. Terlebih ketika monster-monster itu mulai mengepung wanita di depan altar.
“Li-lindungi Saintess!”
“Knight Commander!”
Tanpa disuruh dua kali, komandan mencabut pedang panjangnya. Aura divine memenuhi aula. Namun sebelum siapapun bergerak, monster-monster itu berhenti.
Mereka tidak menyerang.
Tidak mendekat.
Sebaliknya, satu per satu monster itu justru berlutut ke arah Seraphina. Seolah menyambut seseorang. Dan dalam keheningan mengerikan itu, suara di telinga Seraphina kembali terdengar.
Kali ini lebih jelas.
Lebih pelan.
Lebih sedih.
“Aku akhirnya menemukanmu.”
Tatapan keemasan komandan berubah tajam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia melihat monster abyss menunjukkan rasa takut. Bukan kepada pedangnya. Tapi kepada wanita di dalam peti mati itu. Komandan mengangkat pedangnya perlahan. Lalu menatap Seraphina seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
“Apa sebenarnya kau?”
Dan entah kenapa—untuk pertama kalinya sejak membuka mata di dunia asing ini. Seraphina merasa dirinya benar-benar dalam bahaya. Karena monster-monster itu tidak terlihat ingin memakannya.
Mereka terlihat… ingin menyembahnya.
.
.
.
Continue…
Dua pucuk surat tergeletak di atas meja kayu. Satu surat ditujukannya untuk Cessar, dan satu lagi ditulis khusus untuk Kael.Seraphina menatap untaian kata yang digoreskan oleh tangannya yang gemetar. Kalimat-kalimat pamit dan permohonan maaf yang tidak akan pernah sempat dia sampaikan secara langsung.“Hiduplah dengan bahagia bersama ibumu, Cessar.”“Maaf aku harus pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.”“Jaga dirimu baik-baik, Kael.”“Jangan menyalahkan dirimu. Kepergian ini adalah takdirku sendiri.”Namun, belum sempat tinta di atas kertas itu benar-benar mengering, jemari Seraphina bergerak meremas keduanya. Dengan napas memburu, dia menyobek kertas-kertas itu menjadi serpihan kecil tak bermakna.Sreeek! Sreeek!Tidak. Belum sekarang.Dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi yang meluap-luap. Jika masih ada satu petunjuk yang belum dibuka, Seraphina menolak menyerah pada kematian. Pada nasib tragis yang sudah digariskan oleh tempat terkutuk bernama gereja ini.Ia mena
Fajar mulai menyingsing ketika pintu biara tua kembali terbuka dengan derit pelan. Seraphina dan Kael melangkah keluar, diantar oleh Suster Agnes. Perempuan paruh baya itu menggenggam erat tangan Saintess yang dulu pernah dilayaninya dengan sepenuh hati. Sorot matanya memancarkan kecemasan yang begitu kentara. Meski semula rasa panik lebih dulu menyerang mentalnya ketika berjumpa lagi setelah sekian lama, rasa sayangnya pada Seraphina jauh lebih besar."Gereja mungkin telah rusak, namun saya percaya Seven Thrones senantiasa melindungi Anda, Yang Mulia," bisik Suster Agnes dengan suara bergetar.Seraphina hanya bisa tersenyum tipis mendengar perkataan itu. Ia tidak tega membantah perkataan seorang jemaat yang masih begitu tulus percaya pada Tuhannya. Biarlah keraguan dan sinisme terhadap Seven Thrones hanya bergaung di dalam benaknya sendiri. Sampai kebenaran sejati memilih untuk muncul tepat pada waktunya."Sampai jumpa lagi, Suster Agnes," ucap Seraphina lembut. Salam perpisahan itu m
"Ya-Yang Mulia Saintess...?" Suster Agnes melangkah mundur dengan lutut gemetar.Genggamannya pada wadah lilin mengencang, membuat lelehan lilin panas menetes ke jemarinya. "Tidak... Tidak mungkin. Anda sudah... Anda tidak seharusnya berada di sini! Pergi! Tolong pergi!"Agnes mencoba membanting kembali pintu ek tersebut, namun satu tangan kekar Kael menahannya dengan mudah. Pintu itu tetap terbuka lebar, memaksa sang biarawati mundur semakin jauh ke dalam aula biara yang temaram."Suster Agnes, tolong. Aku datang untuk mencari kebenaran," pinta Seraphina, melangkah maju dengan nada memohon. "Aku perlu tahu apa yang sudah gereja sembunyikan. Apakah kau tahu sesuatu?""Saya tidak tahu apa-apa!" Agnes menggeleng histeris, menyudutkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. Kedua tangannya terangkat menutupi telinga. "Saya sudah bersumpah untuk bungkam! Tolong, jangan bunuh saya... Gereja akan melenyapkan saya jika saya membocorkannya! Pergi!"Melihat penolakan itu, rasa frustrasi mulai
Seraphina menahan napas saat bayangan dua penjaga berbaju zirah melintas hanya beberapa meter di depan mereka. Di balik pilar batu yang gelap, Kael merapatkan tubuh, menyembunyikan gadis itu sepenuhnya di balik punggung tegap dan jubah hitamnya.Suara dentang zirah para penjaga terdengar lambat, menyiksa akal sehat Seraphina yang kian tegang. Kompleks gereja ini layaknya labirin yang dipenuhi mata dan telinga. Satu langkah salah, mereka bisa ketahuan dan misi penyelinapan malam ini akan hancur berantakan.Kael melirik ke samping, menghitung detik dengan presisi seorang komandan. Begitu para penjaga berbelok di sudut koridor, Kael langsung menarik pergelangan tangan Seraphina."Sekarang," bisik Kael, sangat rendah hingga nyaris menyatu dengan angin malam.Mereka bergerak cepat menyusuri bayang-bayang dinding pembatas, lalu melompati jendela rendah di area belakang yang jarang dilewati. Langkah kaki mereka terus berpacu hingga akhirnya berhasil menembus sebuah gerbang besi kecil berkara












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews