"N–Nyonya... Nyonya sudah bangun?" cicit Mira. Suaranya dibuat serak dan dipenuhi ketakutan yang begitu nyata."Aku tanya, ngapain tanganmu dekat-dekat kotak perhiasanku?!" Ratna menjerit. Suaranya parau khas orang baru terbangun, namun dipenuhi bisa kebencian."S–saya cuma membereskan kamar, Nyonya," kilah Mira. Tangannya meremas ujung bajunya dengan gemetar.Ratna memaksakan diri untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Pecahan vas dan gelas sudah tak bersisa, bantal-bantal kembali pada tempatnya, dan karpet bulu tampak bersih. Semuanya sudah rapi. Namun, tatapan wanita itu kembali menancap pada meja rias."Terus kenapa kotak perhiasanku bisa terbuka begitu?!" bentak Ratna, menunjuk dengan dagunya."Kotak ini memang sudah terbuka sejak saya masuk. Saya bersumpah, Nyonya, saya sama sekali tidak menyentuhnya." jawab Mira setenang mungkin, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar.Ratna mendecih tajam. Didorong oleh rasa curiga dan amarah yang
Terakhir Diperbarui : 2026-07-17 Baca selengkapnya