LOGINNaomi menerima tawaran menjadi istri kontrak Ethan Alexander, CEO dingin yang menolak percaya pada cinta dan pernikahan. Demi biaya pengobatan ibunya dan sebuah rahasia yang melibatkan keluarga Alexander, Naomi harus menjalankan peran sebagai istri sempurna sekaligus membuat Ethan membuka kembali hatinya yang terluka. Namun semakin lama mereka berpura-pura menjadi pasangan bahagia, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai kabur. Di tengah kontrak yang memiliki batas waktu, mampukah mereka bertahan tanpa jatuh cinta, atau justru cinta akan menghancurkan keduanya lebih dulu?
View More"Ahhh! Pelan-pelan, Tuan... Sakit sekali," rintih Naomi dengan napas yang terputus-putus. Matanya terpejam rapat, sementara jemarinya mencengkram erat pinggiran sofa beludru.
"Jangan memanggilku seperti itu di saat seperti ini, Naomi. Sudah berapa kali kukatakan?" bisik Ethan. "Tahan sedikit." "Tapi, apa Tuan tidak bisa lebih pelan sedikit melakukannya?" Naomi memprotes, tubuhnya sedikit tersentak. "Ini benar-benar terasa menyakitkan." “Diam dan jangan banyak bergerak,” ujar Ethan dingin sambil tetap menekan pergelangan kaki Naomi. Naomi memejamkan mata menahan nyeri. Siapa yang bisa mengira, Ethan sang CEO yang selama ini rumornya sama sekali tidak tertarik pada pernikahan, tiba-tiba saja setuju menikahinya walaupun hanya sebatas kontrak. Sambil menahan perih, Naomi diam-diam menatap Ethan dengan senyum tipis yang disembunyikan. Ethan jelas tidak tahu kalau Naomi sengaja mendekatinya atas perintah Dominic, kakek pria itu sendiri, agar Naomi menjadi orang yang tepat untuk dijadikan istri kontrak. Seakan lelaki tua itu sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh cucunya yang memiliki trauma terhadap pernikahan. Tugas Naomi sekarang sangat berat, ia harus membuat Ethan percaya pada pernikahan. Jika tidak pun, Naomi harus berhasil memberi keluarga itu satu penerus sebelum benar-benar pergi. Jaminannya terlalu besar jika gagal, kontrak batal, uang melayang, dan nyawa orang tuanya entah bagaimana nasibnya. Saat ini mereka berada di ruang VIP hotel mewah, beristirahat sejenak setelah acara resepsi pernikahan yang melelahkan. Gaun pengantin Naomi yang beratnya hampir dua puluh kilogram dan sepatu hak tinggi setinggi dua belas sentimeter benar-benar kombinasi maut yang sukses membuatnya terpelecok tepat saat mereka akan turun dari pelaminan. Naomi kembali meringis saat tekanan di kakinya sedikit bertambah. “Aku tidak terbiasa memakai sepatu setinggi itu, Tuan… dan gaun ini juga terlalu berat.” "Sudah kubilang, jangan panggil Tuan kalau sedang ada orang lain di sekitar sini," bisik Ethan lirih. Naomi melihat mata pria itu melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka. "Kau mau rahasia kontrak ini terbongkar dan semua uangmu hangus?" Sebelum Naomi sempat membalas, pintu ruangan terbuka. Dominic Alexander berdiri di ambang pintu, tongkatnya menapak pelan di lantai. Tatapan sang kakek menyapu mereka berdua, memperhatikan posisi Ethan yang masih berlutut di depan Naomi. "Ehem!" Kakek Dominic berdehem. Naomi yang terkejut refleks menarik kakinya, yang justru membuatnya kembali meringis kesakitan karena gerakannya terlalu mendadak. "Kakek harap kakek tidak mengganggu momen penting kalian," lanjut Kakek Dominic. "Kakek," Ethan langsung berdiri. Naomi memperhatikan pria itu berusaha merapikan kemejanya dengan ekspresi datar yang kembali membeku. "Kalian sudah resmi menikah. Nikmati malam pertama kalian dengan baik," ucap pria paruh baya itu. Naomi bisa menangkap ada tatapan nakal di mata sang kakek. "Dan ingat, segera beri Kakek cucu. Aku sudah tidak sabar menimang Alexander junior." Ethan tampak hampir saja tersedak salivanya sendiri mendengar itu. Melihat celah tersebut, Naomi langsung bereaksi cepat. Ia bangkit berdiri meski dengan satu kaki yang gemetar, lalu dengan manja merangkul lengan Ethan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil memamerkan senyum paling tulus yang bisa ia buat. "Kakek tenang saja," sahut Naomi dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kami akan memberikan cucu yang banyak untuk Kakek.” “Iya kan, Sayang?" Naomi mendongak, menatap Ethan dengan tatapan penuh cinta palsu. Tubuh Ethan langsung menegang di sampingnya. Naomi bisa merasakan otot lengan pria itu mengeras di bawah rangkulannya. Tatapan Ethan sempat bergeser dari wajah Naomi. "Iya…” jawab Ethan pendek, dengan senyum yang terlihat sangat kaku di mata Naomi. "Banyak. Sangat banyak." Dominic terkekeh pelan sambil mengetuk lantai dengan ujung tongkatnya. Sorot matanya tampak penuh kepuasan melihat Naomi dan cucunya berdiri begitu dekat. “Bagus. Kakek senang mendengarnya,” kata sang kakek puas. “Kalau begitu, lanjutkan malam pertama kalian. Kakek tidak akan mengganggu lagi.” Naomi nyaris tersedak mendengar kalimat itu, tetapi ia memaksakan senyumnya tetap terpasang sempurna. “Selamat malam, Kakek,” ucapnya lembut. Dominic mengangguk puas sebelum akhirnya berbalik keluar dari ruangan VIP itu. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan keheningan yang terasa jauh lebih canggung dibanding beberapa detik sebelumnya. Setelah Dominic pergi, Ethan menatap Naomi lama. “Kita perlu membicarakan aturan pernikahan kontrak ini.”"N–Nyonya... Nyonya sudah bangun?" cicit Mira. Suaranya dibuat serak dan dipenuhi ketakutan yang begitu nyata."Aku tanya, ngapain tanganmu dekat-dekat kotak perhiasanku?!" Ratna menjerit. Suaranya parau khas orang baru terbangun, namun dipenuhi bisa kebencian."S–saya cuma membereskan kamar, Nyonya," kilah Mira. Tangannya meremas ujung bajunya dengan gemetar.Ratna memaksakan diri untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Pecahan vas dan gelas sudah tak bersisa, bantal-bantal kembali pada tempatnya, dan karpet bulu tampak bersih. Semuanya sudah rapi. Namun, tatapan wanita itu kembali menancap pada meja rias."Terus kenapa kotak perhiasanku bisa terbuka begitu?!" bentak Ratna, menunjuk dengan dagunya."Kotak ini memang sudah terbuka sejak saya masuk. Saya bersumpah, Nyonya, saya sama sekali tidak menyentuhnya." jawab Mira setenang mungkin, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar.Ratna mendecih tajam. Didorong oleh rasa curiga dan amarah yang
Naomi masih duduk di kursi dekat teras sambil memangku buku yang sejak tadi sudah tidak lagi ia baca. Perhatiannya beberapa kali teralih ke arah ruang tengah, tempat Ethan masih memimpin rapat dengan wajah serius. Meski tidak berniat menguping, suara para direksi terdengar cukup jelas di ruangan yang kembali hening setelah hujan sedikit mereda."Kalau proyek ini dipaksakan sekarang, risikonya terlalu besar, Pak Ethan," ujar direktur keuangan."Justru kalau kita menunggu, kompetitor akan lebih dulu masuk ke pasar," sahut direktur pemasaran."Data pasar menunjukkan permintaannya sedang naik. Kalau terlambat, kita akan kehilangan momentum.""Tapi tim operasional belum siap. Saya tidak ingin proyek sebesar ini gagal hanya karena kita terburu-buru."Perdebatan kembali berputar di tempat. Masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan alasan yang masuk akal, tetapi tidak ada satu pun yang mampu menawarkan jalan keluar. Ethan tetap duduk tenang
Ethan melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum pendek hampir menunjuk pukul sembilan malam. Ia mengangkat pandangan ke arah Naomi. "Aku harus kembali ke villa. Rapat dimulai sebentar lagi." Naomi mengangguk pelan. "Kalau begitu kamu duluan saja." Ethan mengernyit tipis. "Kau?" "Aku ingin jalan sebentar menikmati malam. Sayang kalau langsung pulang."“Baik.”Ethan berbalik dan berjalan kembali menuju vila, sementara Naomi melanjutkan langkahnya menyusuri jalan setapak di sekitar resort. Lampu-lampu kecil berjajar di sepanjang jalur kayu, menerangi taman tropis yang tenang. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang khas.Naomi berjalan santai tanpa tujuan tertentu. Sesekali ia berhenti memandangi laut yang berkilau diterpa cahaya bulan, lalu kembali melangkah menikmati suasana yang jarang bisa ia rasakan. Selama hampir tiga puluh menit ia berkeliling area resort, hingga akhirnya ia mendongak ke langit. Awan gelap perlahan menutupi bulan. Angin mulai bertiup lebih
Panggilan itu masih berlangsung selama beberapa menit. Ethan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sesekali ia mengajukan pertanyaan singkat dengan nada tenang, sementara Victor terus menjelaskan situasi yang sedang terjadi di perusahaan.Naomi memilih diam. Ia tahu pekerjaan selalu menjadi prioritas Ethan. Jika perusahaan benar-benar membutuhkan kehadirannya, bukan hal yang aneh bila pria itu memutuskan kembali ke Jakarta.Beberapa saat kemudian, Ethan akhirnya membuka suara. "Kumpulkan seluruh direksi."Victor segera menanggapi dari seberang. "Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Bapak? Apa kami perlu menyiapkan penerbangan kembali?""Tidak," jawab Ethan tegas. "Aku akan bergabung melalui video conference.""Tapi keputusan akhirnya tetap harus menunggu persetujuan Bapak.""Kirim semua dokumen ke tabletku sekarang. Aku akan mempelajarinya sebelum rapat dimulai. Pastikan juga tidak ada satu pun keputusan yang diambil tanpa persetujuanku.""Baik, Pak. Saya mengerti."Setelah memas






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews