107"Bang, cantik, nggak, bayinya?" tanya Asmiratih, sembari mengarahkan ponsel ke dekat bayi dalam pelukannya."Cantik," jawab Zikria. "Anak siapa itu, Dek?" tanyanya."Anak kita." "Ha?" "Dia dibuang ke depan rumah kepala perawat. Lalu dibawa ke rumah sakit ini, dan mau kuadopsi." "Ehm, kita mesti bicarakan ini berdua. Aku pindah tempat dulu." "Abang harus setuju, karena ... bayi ini cacat dan nggak ada yang mau adopsi dia." "Dek, ini mesti diomongin dengan serius." "Abang nolak, pun, aku tetap ambil bayi ini dan rawat dia sebaik-vaiknya." "Dek, dengar dulu ...." Wajah Aditya muncul di layar ponselnya dan membuat Asmiratih seketika tersenyum. Dia memamerkan sang bayi pada abangnya yang sontak tercenung. "MasyaAllah. Cantik banget," puji Aditya. Dia mengamati Zikria, lalu kembali memandangi bayi di seberang benua. "Kok, mirip Zikria?" tanyanya."Nah! Itu salah satu alasanku buat adopsi. Dia mirip Abizik," lontar Asmiratih. "Namanya, siapa?" "Belum ada. Aku lagi nunggu Emak
Read more