Setiap menit yang berlalu demi menanti jawaban terasa begitu menyiksa dan panjang.Shane tidak bisa duduk tenang. Untuk pertama kalinya, dia mulai ragu dengan keyakinannya sendiri bahwa wanita itu pasti akan pulang dalam beberapa hari. Dia teringat pada akta cerai yang dilemparkannya ke laci, teringat pada lemari pakaian yang sudah kosong sebagian, dan teringat pada tatapan mata terakhir Geisha saat menatapnya.Tidak, itu tidak mungkin.Geisha sangat menyayangi anak-anak, begitu mencintai rumah ini. Ke mana lagi wanita itu bisa pergi?Ponselnya berdering, telepon dari sang asisten."Pak Shane, sudah ketemu," lapor sang asisten dengan nada suara yang agak ragu-ragu. "Nyonya ... maksud saya Nona Geisha, setengah bulan yang lalu, tepat pada sore hari setelah menerima akta cerai, telah naik penerbangan internasional menuju Ivia.""Ivia?" Shane sempat linglung sejenak, agak lambat memproses nama tempat itu."Benar, di sebuah negara yang saat ini ... sedang dalam status perang." Asisten itu
Read more