Short
Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi

Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi

Von:  HoneyAbgeschlossen
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Kapitel
1Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Plot Twist

Drama

Pelakor

Pilih Kasih/Egois

Cowok Brengsek

Pernikahan

Mengejar Istri

Penyesalan

Geisha Roland dan Shane Juan, sejak masa sekolah hingga ke pelaminan, mereka menjadi pasangan idaman yang paling membuat iri semua orang. Namun, di tahun kelima pernikahan mereka, Shane berselingkuh. Tanpa tangis maupun amarah, Geisha meletakkan tumpukan foto menjijikkan itu di atas meja kerja suaminya. Kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar sangat tenang, hampir tanpa riak, "Pilih, perempuan itu yang pergi atau aku yang pergi bawa anak-anak." Itu adalah badai hebat pertama dalam pernikahan mereka. Pada akhirnya, Shane memilih untuk kembali ke keluarga. Setelah itu, kehidupan mereka tampak kembali normal. Shane selalu pulang tepat waktu, perhatian pada anak-anak, dan memperlakukannya dengan begitu lembut serta sopan. Hanya saja, ada sebuah retakan tak kasat mata yang membentang di antara mereka. Mereka tahu, semuanya tidak akan pernah bisa sama lagi. Hari itu, Geisha menyelesaikan sesi wawancaranya lebih awal. Dia berniat memberikan kejutan dengan menjemput anak kembar mereka di taman kanak-kanak. Namun, tepat saat melangkah mendekati gerbang sekolah, dia melihat sepasang anak kembarnya yang baru berusia lima tahun, Cindy Juan dan Dimas Juan, berlari riang bak burung kecil, lalu tertawa sambil menghambur ke pelukan seorang wanita bertubuh ramping yang mengenakan gaun terusan berwarna krem. Wanita itu berjongkok, merentangkan kedua tangannya dengan hangat untuk mendekap kedua anak itu. Wajahnya dipenuhi senyum kasih sayang yang begitu tulus. Langkah Geisha seketika terhenti. Dadanya mendadak terasa sesak. Helen Devano? Perempuan yang menjadi selingkuhan Shane, mengapa dia bisa ada di sini? Lalu, detik berikutnya, sesuatu yang membuat darahnya seakan membeku pun terjadi.

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

Anak perempuannya, Cindy Juan, dengan manja menggesekkan pipinya ke pipi Helen, lalu memanggil dengan suara yang nyaring dan manis, "Ibu!"

Anak laki-lakinya, Dimas Juan, juga ikut memanggil, "Ibu! Kamu sudah janji hari ini mau mengajak kami makan es krim!"

Ibu?

Geisha seperti tersambar petir, seluruh darah di tubuhnya seakan berbalik mengalir ke atas kepala pada saat ini, lalu di detik berikutnya menjadi sedingin es yang menusuk tulang!

Shane ternyata tidak mengusir Helen pergi?

Bukan hanya tidak mengusirnya, Shane bahkan membiarkan wanita itu muncul begitu saja di kehidupan anak-anak, bahkan ... membiarkan anak-anak memanggilnya "Ibu"?

Rasa syok dan amarah yang luar biasa membuat Geisha kehilangan akal sehatnya. Dia langsung merangsek maju, lalu menyentak kedua anak itu hingga terlepas dari pelukan Helen!

"Kalian panggil dia apa?!"

Suara Geisha bergetar hebat karena emosi yang memuncak. Wajahnya pucat sampai terlihat menakutkan.

Kedua anak itu tersentak kaget oleh reaksinya. Saat melihat jelas bahwa itu adalah Geisha, kilasan rasa panik sempat melintas di wajah mereka, tetapi segera tergantikan oleh rasa tidak senang.

Dimas mengernyitkan alisnya, lalu berdiri di depan Helen seperti melindunginya. "Ibu ngapain sih? Bibi Helen jadi kaget!"

Cindy juga mengerucutkan bibirnya. "Iya! Kenapa Ibu mendorong Bibi Helen?"

"Aku tanya kalian, tadi kalian memanggilnya apa?!" Geisha menatap lekat-lekat kedua anaknya.

Dimas mendongak, nada suaranya polos, tetapi tanpa sadar terdengar begitu menyakitkan. "Kami manggil dia Ibu. Bibi Helen itu baik dan cantik, mau main sama kami, bacain cerita buat kami, terus sering beliin camilan sama mainan! Kalau Ibu? Ibu sibuk kerja terus. Pulang ke rumah juga cuma di ruang kerja, atau marah-marah sama kami!"

Cindy menambahkan dengan suara lirih, "Bibi Helen nggak pernah bentak kami ...."

Setiap kata itu bagai sebilah pisau berlumur es yang dihujamkan kuat-kuat ke dalam jantung Geisha.

Helen bergegas berdiri, raut wajahnya menunjukkan kepanikan dan rasa bersalah yang pas, lalu mencoba meraih tangan Geisha. "Kak Geisha, jangan marah. Mereka masih kecil dan cuma asal panggil. Jangan dimasukkan ke dalam hati."

"Jangan sentuh aku!" Geisha menyentak tangannya dengan kuat hingga kehilangan kontrol.

Helen memekik pelan, lalu terhuyung mundur beberapa langkah dan jatuh tersungkur ke tanah. Lututnya membentur lantai semen yang kasar, hingga lecet dan mengeluarkan darah.

"Bibi Helen!"

"Ibu jahat! Ibu dorong Bibi Helen!"

Kedua anak itu langsung berteriak histeris!

Dimas bagaikan seekor anak singa yang murka, merangsek maju lalu memukul dan menendang betis Geisha. "Perempuan jahat! Pergi sana! Ibu nggak boleh nindas Bibi Helen!"

Sementara Cindy langsung mengeluarkan jam tangan pintar dari tas sekolah kecilnya. Setelah menekan layarnya beberapa kali dengan mahir, dia berseru ke arah jam tangan itu dengan suara yang serak menahan tangis, "Halo, Pak Polisi? Ada orang jahat mukulin orang di depan gerbang TK! Ibu aku didorong sampai jatuh! Darahnya banyak banget! Pak Polisi buruan ke sini!"

Geisha mematung di tempatnya. Dia melihat anak lak-lakinya memukul dan menendangnya, mendengar anak perempuannya menelepon polisi dan menuduhnya sebagai "orang jahat", serta melihat Helen yang terduduk di tanah, dengan mata berkaca-kaca, tetapi menyunggingkan senyum provokatif ke arahnya.

Seluruh tubuhnya terasa sedingin es dan tidak bisa digerakkan, seolah-olah dia sedang terjebak di dalam sebuah mimpi buruk yang tidak masuk akal sekaligus kejam.

Polisi segera tiba di lokasi dan mereka semua dibawa ke kantor polisi.

Kedua anak itu tampak bergelayut manja di dekat Helen, saling bersahutan mengadukan "perbuatan jahat" Geisha kepada polisi.

Sementara itu, Helen dengan mata yang merah, menangis sesenggukan, tampak rapuh dan seolah telah mendapat ketidakadilan yang luar biasa, tetapi mencoba untuk tetap bertahan.

Geisha duduk termangu di sisi lain. Menyaksikan adegan konyol di depannya, dia hanya bisa merasakan kehampaan di hatinya yang kian membesar.

Tidak lama berselang, terdengar keributan di depan pintu masuk kantor polisi.

Shane melangkah masuk dengan tergesa-gesa, didampingi oleh dua orang pengawal.

Dia mengenakan setelan jas mewah pesanan khusus. Wajah tampannya menyiratkan kelelahan setelah seharian bekerja, tetapi ekspresinya lebih didominasi oleh rasa gelisah dan tidak senang.

Shane mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tatapannya sempat tertuju sejenak pada wajah pucat Geisha, sebelum akhirnya beralih pada Helen yang sedang menangis dan kedua anaknya. Dahinya seketika berkerut.

Dia berbicara setengah berbisik selama beberapa saat dengan polisi yang berjaga, lalu menunjukkan kartu identitasnya. Sikap polisi tersebut langsung berubah menjadi sangat hormat sambil mengangguk berkali-kali. "Baik, Pak Shane, kami mengerti. Ini hanya salah paham, Anda sudah boleh membawa mereka pulang."

"Ayah!"

"Ayah! Ibu dorong Bibi Helen! Terus Ibu juga seret Bibi Helen ke kantor polisi!"

Kedua anak itu langsung menghambur ke pelukan Shane, berebut untuk mengadu.

Helen juga ikut berdiri, menatap Shane dengan takut-takut. Lingkar matanya makin memerah, tetapi dia menggigit bibir tanpa bersuara, hanya menangis dalam diam.

Shane menepuk-nepuk kedua anaknya untuk menenangkan, lalu melirik Helen sekilas dengan tatapan yang rumit.

Kemudian, dia berjalan ke hadapan Geisha. Meski suaranya sengaja direndahkan, nada kesal dan sikap menyalahkannya terdengar jelas.

"Geisha, kamu bikin ribut apa lagi sih? Aku baru aja selesai rapat video lintas negara, capeknya setengah mati, tapi malah dapat telepon yang bilang kalau kamu mukul orang sampai masuk kantor polisi? Bahkan di depan anak-anak lagi?"

Geisha mendongak, menatap wajah yang terasa familier sekaligus asing ini.

Dulu, wajah ini dipenuhi rasa cinta dan kelembutan untuknya. Sekarang, yang tersisa hanya rasa tidak sabar dan tuduhan.

"Aku bikin ribut?" Geisha menyunggingkan senyum, sebuah senyuman yang terasa lebih menyakitkan daripada tangisan. "Shane, bukannya harusnya kamu yang kasih penjelasan ke aku? Bukannya dulu kamu bersumpah bilang sudah mengusir Helen pergi? Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa anak-anak manggil dia Ibu?"

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
22 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status