Malam harinya, di balkon kamar utama yang menghadap ke arah ibu kota, Zayn berdiri memandang hamparan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip indah. Jubah malamnya berembus perlahan ditiup angin sepoi-sepoi.Layla melangkah mendekat dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung tegap Zayn, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu."Apakah kau siap untuk lusa, Zayn?" bisik Layla lembut.Zayn membalikkan tubuhnya, menangkup kedua pipi Layla dengan jemarinya yang hangat. Ia menatap mata hijau yang selalu menjadi penenang jiwanya."Selama ini aku bertarung untuk bertahan hidup dan menuntut keadilan untuk ibuku dan keluargamu," kata Zayn dengan nada suara yang dalam. "Tapi mulai lusa, aku akan memimpin seluruh negeri ini. Aku hanya bisa melakukannya jika kau tetap berdiri di sisiku, Layla. Sebagai permaisuriku."Layla tersenyum hangat, mengecup telapak tangan Zayn yang menempel di pipinya. "Aku akan selalu di sisimu, Zayn. Melangkah bersamamu, menjadi pelindungmu sebagaimana kau
Read more