Setelah Keyna izin untuk menjenguk Bu Ratna ke ICU, Bara mengambil ponsel dari nakas. Tangannya ragu sesaat, lalu menekan nama Ramon Pradipta, S.H. Pengacara sekaligus sahabatnya sejak kuliah. Sahabat yang dulu berkali-kali mengingatkan, “Bar, jangan main api dengan para wanita. Apalagi sampai karyawan di kantor sendiri.”Sekarang, malah Bara bermain dengan asistennya sendiri sampai hamil. Tersambung.“Halo, Bara.""Ya, Mon." "Kamu sudah sadar, Bar?” suara Ramon langsung menyambut, cemas. “Kondisi kamu bagaimana?”Bara tidak menjawab pertanyaan itu. Suaranya datar, menahan geram. “Better.""Alhamdulilah. Ada apa, Bar? Ada yang bisa aku bantu?""Mon, tolong percepat sidang cerai aku dengan Azalea. Bisa?”Di seberang, Ramon terdiam sejenak. “Sebenarnya, dari pihak Azalea juga sudah minta dipercepat, Bar. Berkas replik sudah masuk kemarin. Jadi prosesnya memang sudah jalan lebih cepat.”“Bagus,” potong Ba
Mehr lesen